Poltekkes Kemenkes Mataram Latih 40 Kader Taman Ayu Pantau Pertumbuhan Bayi BBLR

Kimda Farida • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 13:09 WIB
Tim Poltekkes Kemenkes Mataram memberikan pelatihan pengukuran antropometri dan penggunaan Kurva Fenton kepada kader posyandu Desa Taman Ayu, Lombok Barat.
Tim Poltekkes Kemenkes Mataram memberikan pelatihan pengukuran antropometri dan penggunaan Kurva Fenton kepada kader posyandu Desa Taman Ayu, Lombok Barat.

 LombokPost--Poltekkes Kemenkes Mataram memperkuat upaya pencegahan stunting melalui pelatihan dan pendampingan kader posyandu di Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Lombok Barat.

Sebanyak 40 kader dari delapan dusun dilatih melakukan pengukuran antropometri dan menggunakan Kurva Fenton untuk memantau pertumbuhan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR).

Kegiatan yang berlangsung 25–26 Juni 2025 ini merupakan bagian dari Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) yang diinisiasi tim dosen Poltekkes Kemenkes Mataram, yakni Ati Sulianty, SST., M.Kes, Baiq Yuni Fitri Hamidiyanti, S.SiT., M.Keb., dan Mutiara Rachmawati Suseno, M.Keb.

Pelatihan tersebut dilakukan sebagai respons atas masih terbatasnya kemampuan kader dalam menganalisis hasil pengukuran pertumbuhan bayi, terutama bayi yang lahir dengan berat badan rendah.

Poltekkes Kemenkes Mataram Ajarkan Kurva Fenton

Tim dosen Poltekkes Kemenkes Mataram memberikan pembekalan teori sekaligus praktik kepada para kader. Materi difokuskan pada pengukuran berat badan, panjang badan, dan lingkar kepala bayi.

Para kader juga dilatih menginterpretasikan hasil pengukuran melalui Kurva Fenton. Alat pemantauan tersebut membantu melihat pola pertumbuhan bayi kecil berdasarkan usia kehamilan dan perkembangan pertumbuhannya.

Pada hari pertama, tim pengabdi mendemonstrasikan teknik pengukuran antropometri. Para kader kemudian bergantian mempraktikkan pengukuran dan memasukkan hasilnya ke dalam Kurva Fenton.

Baca Juga: Fakhruddin, Dewan Dapil Sumbawa-KSB Nilai Infrastruktur Pulau Sumbawa Belum Optimal

Hari kedua diisi dengan simulasi menggunakan sejumlah kasus. Kader diminta menganalisis data yang diberikan dan mengisi Kurva Fenton secara mandiri.

“Studi awal menunjukkan sebagian besar kader tidak mengetahui alat pantau pertumbuhan untuk berat bayi lahir rendah adalah menggunakan Kurva Fenton. Kurva ini membantu kader mengetahui apakah pertumbuhan bayi sesuai dengan usia lahir bayi,” jelas tim pengabdi.

Kader Didorong Dampingi Bayi BBLR hingga Tumbuh Stabil

Pelatihan tidak berhenti di ruang kegiatan. Poltekkes Kemenkes Mataram juga mendorong kader menerapkan keterampilan tersebut melalui pendampingan langsung di wilayah masing-masing.

Kader ditugaskan mendampingi ibu hamil yang memiliki risiko melahirkan bayi BBLR hingga persalinan. Setelah bayi lahir, kader turut membantu keluarga memantau pertumbuhan bayi secara berkala.

“Kader sebagai lini terdepan dalam pemantauan kesehatan bayi dan balita diharapkan mampu membantu deteksi awal adanya gangguan pertumbuhan dan mendampingi keluarga sehingga lebih siap dalam mengasuh bayi dengan berat lahir rendah,” kata Ati Sulianty.

Desa Taman Ayu dipilih sebagai lokasi kegiatan karena masih menjadi salah satu lokus stunting di Lombok Barat. Data yang disampaikan tim menunjukkan kasus stunting di desa tersebut meningkat dari 52 kasus pada 2022 menjadi 56 kasus pada 2025.

Baca Juga: DPP PAN Didesak Segera Tetapkan Ketua Definitif

Karena itu, peningkatan kapasitas kader dinilai penting agar gangguan pertumbuhan bayi dapat dikenali lebih awal dan keluarga mendapatkan pendampingan yang tepat.

Bentuk Kader Penyuluh Mandiri

Untuk memastikan program berkelanjutan, tim Poltekkes Kemenkes Mataram membentuk kelompok kader penyuluh mandiri di Desa Taman Ayu.

Pendampingan dirancang berlanjut hingga bayi yang lahir dengan berat badan rendah mencapai pertumbuhan dan usia yang stabil. Setelah itu, pemantauan dapat diteruskan menggunakan KMS sesuai standar pemantauan pertumbuhan bayi.

“Kegiatan ini dijadikan program pendampingan yang berlanjut sampai bayi yang lahir dengan berat badan kurang mencapai pertumbuhan dan usia yang stabil, sehingga pemantauannya bisa berlanjut menggunakan KMS bayi yang normal,” ujar Baiq Yuni Fitri Hamidiyanti.

Baca Juga: Sejumlah Figur Tertarik Pimpin Demokrat NTB, Syamsul Fikri Sebut Tergantung DPC dan DPP

Selain meningkatkan keterampilan kader, program pengabdian Poltekkes Kemenkes Mataram tersebut juga menghasilkan luaran berupa jurnal ilmiah, video dokumentasi, serta pengajuan HAKI untuk video edukasi.

Kolaborasi antara Poltekkes Kemenkes Mataram, pemerintah desa, dan kader posyandu diharapkan menjadi model penguatan pemantauan bayi BBLR berbasis masyarakat sekaligus mendukung percepatan pencegahan stunting di Desa Taman Ayu.

Editor : Kimda Farida
Sumber : siaran pers
BBLR bayi berat lahir rendah Lombok Barat Taman Ayu Poltekkes Kemenkes Mataram