LombokPost - RSUD Patut Patuh Patju (Tripat) Gerung mengonfirmasi kematian korban kedua terbakarnya KMP Putri Yasmin.
Korban bernama Ardiansyah usia 37 tahun, warga Desa Gelogor, Kediri, Lombok Barat, meninggal di ruang ICU pada Rabu (19/8/2026) pukul 16.45 WITA.
Tim medis mengonfirmasi penyebab kematian akibat respiratory failure (gagal napas), pneumonia aspirasi, dan Multiple Organ Failure (MOF).
Baca Juga: Isak Tangis Iringi Pemakaman Ardiansyah, Korban KMP Putri Yasmin Tinggalkan Istri dan Bayi 5 Bulan
Komplikasi fatal ini dipicu oleh masuknya air laut secara masif ke dalam paru-paru korban saat terapung di laut.
Selama delapan hari perawatan intensif, almarhum ditangani secara komprehensif oleh tim dokter spesialis paru, jantung, penyakit dalam, dan anestesi.
Air laut hipertonis merusak jaringan alveolus serta memicu Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) yang membuat paru-paru kaku.
Baca Juga: Duka Kembali Menyelimuti! Korban Meninggal KMP Putri Yasmin Bertambah, Ardiansyah Tutup Usia
Kondisi hipoksemia berat dan pengentalan darah memperburuk aliran darah ke ginjal hingga memicu gagal ginjal akut.
Pihak RSUD Tripat telah mengerahkan alat bantu napas ventilator hingga tindakan cuci darah (hemodialisa), namun organ vital korban terus memburuk.
Direktur RSUD Tripat, dr. Suriyadi, menyebutkan almarhum merupakan pasien dengan kondisi paling kritis di antara 24 korban yang dirujuk.
Baca Juga: Operasi SAR KMP Putri Yasmin Ditutup Hari Ke-8, Terdata 4 Korban Masih Hilang
”Ardiansyah pertama kali tiba di IGD RSUD Tripat pada 12 Agustus 2026 pukul 13.30 WITA dan langsung masuk kategori IGD zona merah,” katanya.
DPJP Spesialis Paru, dr. Ni Nyoman Ayu Suciarini, menyebut pasien sempat membaik di hari kedua dengan saturasi oksigen mencapai 98-99 persen.
Kondisi korban drop drastis pada hari ketiga (16 Agustus) akibat sepsis berat dan serangan ARDS.
Nilai filtrasi ginjal korban sempat merosot tajam di bawah angka 10 dari batas normal 60 akibat penumpukan cairan dan infeksi.
Tim medis memastikan tidak ada riwayat penyakit bawaan, sehingga kematian murni akibat paparan air laut berjam-jam di Selat Lombok.
"Di hari kedua, kondisi pasien sempat membaik, bahkan sudah bisa berkomunikasi dan meminta makan. Namun pada hari ketiga (16 Agustus), kondisinya mendadak drop drastis akibat infeksi berat (sepsis) serta komplikasi Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS)," ungkap dr. Suci.
Editor : Redaksi Lombok Post OnlineSumber : Liputan Berita Lombok Post