LombokPost - Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Lobar mencatat lonjakan kasus kebakaran sepanjang musim kemarau tahun ini. Total kerugian materiil akibat kebakaran dan kejadian darurat telah menembus Rp 3.225.522.000.
Kepala Dinas Damkarmat Lobar Suherman mengungkapkan pihaknya telah menangani 85 kejadian kebakaran sepanjang tahun 2026. Selain itu, petugas juga menangani 194 peristiwa non-kebakaran atau aksi penyelamatan (rescue).
”Berdasarkan pemetaan wilayah kejadian, Kecamatan Gerung menjadi daerah paling rawan dengan mencatatkan angka insiden kebakaran tertinggi yakni sebanyak 29 kasus,” imbuh Suherman.
Baca Juga: BAZNAS KLU Himpun Donasi untuk Korban Gempa NTT dan Kebakaran Sade
Kecamatan Batulayar menyusul di posisi kedua dengan 15 kejadian. Selanjutnya, Kecamatan Gunung Sari mencatat 12 kejadian dan Labuapi 8 kasus. Sementara itu, laporan aksi penyelamatan paling banyak terjadi di Kecamatan Labuapi sebanyak 56 laporan. ”Lonjakan kasus kebakaran terlihat merangkak naik secara drastis saat memasuki puncak kemarau,” tambah Suherman.
Grafik kejadian meningkat tajam sejak pertengahan tahun. Pada Juli tercatat 22 kejadian, lalu melonjak hingga 30 peristiwa kebakaran pada Agustus 2026.
Petugas Damkarmat Lobar kini terus disiagakan di seluruh pos armada. Warga diimbau tidak membakar sampah sembarangan, tidak membuang puntung rokok di lahan kering, serta rutin memeriksa instalasi listrik.
Baca Juga: RS Mandalika Hadir di Nyemulak, Sade Bangkit dari Puing Kebakaran
Merespons kondisi ini, Pemerintah Kecamatan Batulayar berencana mengajukan usulan penambahan tandon air dan pengeboran sumur dalam ke Dinas PU serta BPBD Lombok Barat. Langkah ini penting untuk membantu pasokan air armada Damkarmat saat menangani kebakaran lahan di perbukitan.
Camat Batulayar Muh Subayin menjelaskan kapasitas tandon air 5.200 liter di kantor camat saat ini belum mencukupi jika harus dibagi untuk pemadam kebakaran.
”Saat terjadi kebakaran di kawasan perbukitan seperti di Grand Valey, petugas cukup kesulitan mendapatkan pasokan air. Kalau armada Damkar langsung menyedot tandon yang ada di kantor camat, stok air 5.000 liter langsung habis. Karena itu, kami berencana mengusulkan pengeboran yang lebih dalam dan tandon yang lebih besar agar armada damkar juga bisa mengambil air di sini dengan aman,” ujar Subayin.
Baca Juga: Guru, Siswa dan Orang Tua SMKN 1 Lingsar Bantu Korban Kebakaran Desa Adat Sade
Subayin juga menyayangkan kebiasaan sebagian warga yang lebih dulu mengunggah peristiwa kebakaran ke media sosial ketimbang melapor ke petugas.
”Kami sangat berharap, warga segera melapor terlebih dahulu ke damkar, pemdes, atau kantor camat agar bisa langsung ditangani. Jangan diposting dulu tanpa ada upaya penanganan awal atau menunggu apinya membesar,” tegasnya.
Meski demikian, Subayin mengapresiasi respons cepat UPT Damkar Batulayar. Keberadaan UPT kecamatan terbukti memangkas waktu tanggap darurat di titik rawan seperti Kerandangan, Lendang Re, dan Perempung. (nur/r8)
Editor : Redaksi Lombok Post OnlineSumber : Lombok Post