Melihat dari Dekat Persoalan, Tradisi, dan Potensi di Kecamatan Lingsar: Religius Budaya Bersatu (2)

Nurul Hidayati • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 21:11 WIB
TRADISI: Inilah salah satu arak-arakan praje dalam kegiatan Gawe Gubuk Desa Peteluan Indah, Sabtu (5/9). (NURUL/LOMBOK POST)
TRADISI: Inilah salah satu arak-arakan praje dalam kegiatan Gawe Gubuk Desa Peteluan Indah, Sabtu (5/9). (NURUL/LOMBOK POST)

LombokPost - Semarak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Peteluan Indah berlangsung sangat meriah.

Masyarakat setempat konsisten menjaga warisan tradisi leluhur yang telah mengakar kuat secara turun-temurun.

Rangkaian perayaan tahunan ini diisi dengan pementasan budaya serta prosesi arak-arakan anak khitanan.

Baca Juga: Meriahkan Maulid Nabi, Polsek Lingsar Kawal Arak-Arakan Praje Desa Peteluan Indah Selama Dua Hari

Alunan tabuhan hadroh bersahut-sahutan membelah keheningan malam di Desa Peteluan Indah.

Cahaya lampu hias memantul hangat di wajah anak kecil yang duduk tegap di atas replika perahu. 

Wajah-wajah mungil itu menyunggingkan senyum malu-malu di tengah sorak-sorai kerabat yang mengapit mereka.

Baca Juga: Sigap Jaga Kondusivitas, Bhabinkamtibmas Lingsar Kawal Kunjungan Gubernur dan Serap Aspirasi Warga

Kemeriahan peringatan Maulid Nabi di desa ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan detak jantung budaya lokal yang terus dipelihara dari generasi ke generasi.

Selama dua hari berturut-turut, yakni Sabtu (5/9) dan Minggu (6/9), ribuan warga memadati sepanjang jalan utama desa.

Peringatan Maulid Nabi di Desa Peteluan Indah menyajikan perpaduan elok antara nilai keagamaan dan ekspresi seni rakyat. 

Baca Juga: Guru, Siswa dan Orang Tua SMKN 1 Lingsar Bantu Korban Kebakaran Desa Adat Sade

Prosesi tradisi diawali dengan khitanan massal yang dikemas secara unik.

Sebelum tim medis menjalankan tugasnya, anak-anak peserta khitan diajak mengelilingi kampung menggunakan replika perahu yang diarak penuh kehangatan oleh warga sekitar.

Rangkaian acara yang penuh warna ini membuktikan bahwa peringatan Maulid Nabi tidak pernah kehilangan taji nilai spiritualnya walau dibalut tradisi yang kental. Pemdes Peteluan Indah secara konsisten mengawal jalannya acara agar nilai-nilai keislaman tetap menjadi roh utama. 

Penyisipan syiar Islam dilakukan secara halus di tiap sela kegiatan, menjadikan momentum ini sebagai wadah perekat silaturahmi sekaligus penguat rasa kepedulian antarsesama warga desa.

Dukungan penuh dari pihak pemdes turut dibuktikan melalui pengalokasian anggaran dan jaminan keamanan yang matang. Kades Peteluan Indah Rahman, mengungkapkan betapa pentingnya merawat warisan nenek moyang agar tidak sirna digilas zaman. Menurutnya, tradisi ini adalah modal sosial berharga untuk memupuk kebersamaan dan rasa cinta generasi muda terhadap akar budayanya sendiri. ”Tradisi ini murni budaya yang kami jaga agar tidak hilang menguap,” katanya.

Kemeriahan arak-arakan khitanan dan pesta rakyat tersebut dapat berlangsung sejuk tak lepas dari pengawalan ketat aparat keamanan. Sinergi manis terjalin erat antara perangkat Desa Peteluan Indah dan jajaran Polsek Lingsar. 

Di sisi lain, pihak kepolisian menegaskan pentingnya menjaga kondusivitas wilayah selama perayaan tradisi berlangsung. Kapolsek Lingsar AKP Wiwin Widarti menjelaskan bahwa fokus utama jajarannya adalah memastikan seluruh rangkaian arak-arakan khitanan berjalan tertib tanpa memicu potensi gangguan kamtibmas.

Ketika gema selawat melantun mengiringi langkah para peserta arak-arakan khitanan, peringatan Maulid Nabi pun purna dengan menyisakan kehangatan. Tradisi ini bukan lagi sekadar pesta perayaan, melainkan cermin tentang bagaimana iman, budaya, dan persaudaraan bisa hidup berdampingan secara harmonis di bumi Lombok. (NURUL HIDAYATI, Lombok Barat/bersambung/r8)

Editor : Nur Cahaya
Sumber : Lombok Post
Peteluan Indah Perayaan Maulid desa Lombok Polsek Lingsar