LombokPost--Tingginya prevalensi perkawinan anak dan kehamilan remaja di Nusa Tenggara Barat (NTB) terus memicu perhatian serius dari kalangan akademisi.
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Mataram (FKIK Unram) menggelar edukasi kesehatan reproduksi di SMAN 1 Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, Selasa (16/6).
Kegiatan bertema “Edukasi Kesehatan Reproduksi dan Dampak Pernikahan Dini” ini menjadi langkah preventif mendukung Gerakan Anti Merarik Kodek (GAMAK) yang digencarkan Pemkab Lombok Barat.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FKIK Unram dr Ario Danianto, Sp.OG menyatakan bahwa pemahaman anatomi dan fungsi alat reproduksi sangat krusial bagi siswa SMA agar terhindar dari pergaulan bebas yang berisiko memicu pernikahan usia anak.
"Berdasarkan data Susenas, angka perkawinan pertama ibu pada usia 15–19 tahun di NTB masih menyentuh 44,46 persen. Melalui penyuluhan ini, kami ingin membentengi para siswa dengan literasi kesehatan yang tepat," ujar dr Ario.
Baca Juga: Hadirkan Master Chef Jeny Hendrawati, Qunci Villas Siapkan Flavours of Java
Ia menambahkan bahwa ketidaksiapan fisik dan emosional pada pernikahan dini berpotensi memicu berbagai dampak buruk jangka panjang.
"Pernikahan di bawah umur berisiko tinggi terhadap kesehatan ibu dan anak, gangguan psikologis, ketidaksiapan ekonomi, hingga melonjaknya angka perceraian," tambahnya.
Sebanyak 43 siswa mengikuti rangkaian acara yang meliputi pre-test, pemaparan materi, diskusi interaktif, dan post-test.
Hasil evaluasi mencatatkan peningkatan rerata nilai peserta dari 49,76 pada pre-test menjadi 60,00 saat post-test.
Data BKKBN NTB mencatat Lombok Barat menduduki posisi tertinggi angka kehamilan remaja di NTB sebesar 31,4 persen, disusul Lombok Tengah 26,1 persen, dan Lombok Timur 19,6 persen.
Untuk menekan angka tersebut, FKIK Unram mendorong pihak puskesmas dapat rutin menggelar edukasi serupa ke sekolah-sekolah di wilayah NTB. (ida/*)
Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post