LombokPost - Kotoran ternak yang mengganggu lingkungan sekaligus mahalnya pengeluaran untuk membeli gas LPG di pedesaan kini ada penawarnya.
Tim Pengabdian Masyarakat Internal dari Kelompok Bidang Ilmu Konversi Energi, LPPM Universitas Mataram (UNRAM), berhasil menerapkan inovasi biogas digester portabel berbasis komposit di Dusun Bentenu, Desa Banyu Urip, Kecamatan Gerung, Lombok Barat.
Inovasi yang ditujukan bagi Kelompok Tani Cempaka Putih tersebut bertujuan untuk menuntaskan masalah sanitasi sekaligus menghemat biaya dapur warga secara mandiri.
Ketua Tim Pengabdian UNRAM Arif Mulyanto, S.T., M.T., menjelaskan bahwa Dusun Bentenu menyimpan potensi limbah ternak yang melimpah namun belum tergarap optimal.
Baca Juga: Polda NTB dan ITDC Gelar Simulasi Terpadu, 2.678 Personel Gabungan Siap Amankan MotoGP 2026
Dari 30 anggota kelompok tani, 10 diantaranya aktif memelihara sapi dengan estimasi limbah kotoran mencapai 100 kilogram per hari. Selama ini kotoran sapi ditumpuk begitu saja di dekat pemukiman atau dibuang ke aliran air.
“Ini memicu polusi bau amonia, mengundang lalat, dan berisiko mencemari air tanah saat hujan,” ujar Arif Mulyanto pada Koran ini, Senin (28/9).
Di sisi lain, warga juga dibebani tingginya biaya kebutuhan dapur akibat ketergantungan pada LPG bersubsidi yang harganya fluktuatif, dengan pengeluaran rata-rata mencapai Rp 100 ribu per bulan. Padahal, setiap satu kilogram kotoran sapi mampu menghasilkan sekitar 0,3 meter kubik biogas.
Baca Juga: Atmosfer MotoGP Mandalika 2026 Bergema di Bundaran HI, Kesiapan Sirkuit Capai 95 Persen
“Melihat potensi tersebut, kami merancang sistem pengolahan anaerobik yang tak hanya menyelesaikan masalah polusi, tetapi juga menggantikan kebutuhan LPG warga secara gratis,” tambah Arif.
Anggota tim pengabdi, Prof. Mirmanto, S.T., M.T., Ph.D., mengungkapkan keunggulan teknologi yang diboyong ke Dusun Bentenu.
Berbeda dari digester beton konvensional yang memakan biaya besar dan proses pembuatan yang lama, digester buatan tim UNRAM ini dirancang praktis berbentuk bola heksagonal dengan material komposit berkualitas.
Alat ini bersifat kedap udara dan portabel. Proses pembentukan gas berjalan optimal tanpa menyebarkan bau ke sekitar pemukiman. “Sehingga sangat cocok untuk pola kandang komunal di pedesaan,” terang Prof. Mirmanto.
Baca Juga: Tersenyum Berbalut Sorban Putih, Abah Kooperatif Jawab 52 Pertanyaan Penyidik Satreskrim
Rangkaian alat yang diriset di Laboratorium Teknik Mesin UNRAM sejak Juli hingga Agustus 2026 ini dipasang langsung di lokasi pada 17–18 September 2026. Instalasi diposisikan dekat kandang sapi dan tersambung langsung ke saluran dapur warga.
Selain memasang unit digester, tim UNRAM memberikan pelatihan langsung terkait pencampuran kotoran dan air, perawatan saluran pipa, hingga pemanfaatan bio-slurry atau ampas sisa biogas sebagai pupuk organik cair bermutu tinggi untuk lahan pertanian.
“Lewat kolaborasi ini, Dusun Bentenu kini lebih bersih, sehat, dan perlahan lepas dari ketergantungan bahan bakar fosil,” pungkasnya.
Baca Juga: Inovasi Unram, Perajin Perak Ungga Beralih ke Elpiji
Sebagai informasi, inovasi ini tak hanya melibatkan akademisi lokal yang terdiri dari I Made Mara, Ida Bagus Alit, Rudy Sutanto, serta mahasiswa Teknik Mesin Aryadin. Melainkan diikuti oleh Noor De Klerk, mahasiswi magang asal Belanda.
Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan Berita Lombok Post