Desa Ranjok Genjot Layanan Kesehatan dan Sampah

Nurul Hidayati • Dipublikasikan Sabtu, 3 Oktober 2026 | 11:48 WIB
Khairil Anwar (NURUL/LOMBOK POST)
Khairil Anwar (NURUL/LOMBOK POST)

LombokPost - Pemdes Ranjok terus memutar otak untuk mengelola pembangunan di wilayahnya. Penanganan sampah warga hingga penguatan sektor kesehatan tetap menjadi prioritas utama di tengah himpitan anggaran.

”Kesadaran SDM soal sampah ini memang masih jadi tantangan kami di desa,” kata Kades Ranjok Khairil Anwar.

Upaya pengelolaan sampah sejatinya terus diikhtiarkan pihak desa lewat penyediaan armada khusus. 

Baca Juga: Bersih-Bersih Digencarkan Jelang MotoGP Mandalika, 5,03 Ton Sampah Diangkut

Kerja sama resmi pengangkutan limbah rumah tangga juga telah terjalin bersama pengelola TPA Kebon Kongok. Pihak desa bahkan menyiapkan mobil pikap untuk memfasilitasi armada pengangkut.

Meski fasilitas sudah diupayakan, tingkat kedisiplinan warga membuang sampah masih butuh dorongan. Edukasi secara berkesinambungan dinilai menjadi kunci utama penyelesaian masalah lingkungan tersebut. 

”Kami memohon bantuan edukasi pemerintah kabupaten guna mendisiplinkan warga,” ucap Khairil.

 Baca Juga: Sistem Deposit Tekan Sampah di Pergasingan

Di sisi lain, masalah kesehatan warga mendapat porsi perhatian paling besar. Pemdes mengalokasikan sekitar 20 persen Dana Desa (DD) khusus untuk menyokong program kesehatan masyarakat.

Langkah ini diambil demi memastikan warga kurang mampu tetap mendapat akses medis yang layak. Alokasi anggaran dialihkan langsung untuk memperkuat fasilitas pelayanan dasar di tingkat desa. ”Sebanyak 20 persen DD dialokasikan khusus pembiayaan kesehatan,” katanya.

Bentuk pembiayaan tersebut direalisasikan lewat program pemeriksaan kesehatan gratis bagi seluruh ibu hamil. Bantuan mencakup penyediaan makanan tambahan hingga biaya operasional pemeriksaan USG medis secara berkala.

 Baca Juga: 500 Relawan Tangani Sampah MotoGP Mandalika 2026

Fasilitas USG gratis ini ditujukan agar kondisi tumbuh kembang janin warga dapat terpantau sejak dini. Langkah preventif ini diharapkan mampu menekan angka risiko saat persalinan.

”Pelayanan USG gratis membantu pemantauan kondisi pertumbuhan janin masyarakat,” ujarnya.

Tidak hanya ibu hamil, pemdes juga menanggung biaya pemasangan dan pelepasan alat kontrasepsi KB bagi warga. Ketersediaan obat-obatan ringan turut disiagakan secara penuh di fasilitas poskesdes setempat.

Perhatian desa juga menjangkau kelompok usia rentan dan remaja melalui posyandu. Dukungan anggaran disalurkan secara rutin untuk menjaga operasional kegiatan.

Di luar masalah lingkungan dan kesehatan, ancaman pengikisan tebing sungai kini menjadi kekhawatiran serius warga. Pemdes terus mengawal usulan pembangunan bronjong sepanjang tiga kilometer di tiga dusun ke pemerintah provinsi.

Tebing sungai yang mengikis dikhawatirkan dapat membahayakan pemukiman dan lahan pertanian warga sekitar. Keberadaan struktur penahan tanah tersebut dinilai sudah sangat mendesak. ”Penggunaan dana desa kami prioritaskan memenuhi program wajib prioritas pemerintah,” pungkasnya. (nur/r8)

Editor : Kimda Farida
Sumber : Lombok Post
Ranjok Edukasi sampah desa kebon kongok