LombokPost - Tradisi dan ketakutan akan aib masih menjadi pemicu maraknya perkawinan anak di kawasan pedesaan.
Pemdes Dasan Geria terus memutar otak untuk mengikis kebiasaan tersebut melalui edukasi masif dan penegakan sanksi moral.
”Langkah pencegahan terus kami lakukan agar anak-anak berfokus menyelesaikan program pendidikan sembilan tahun,” kata Kades Dasan Geria Fahrul Aziz kepada Lombok Post.
Sikap tegas ditunjukkan jajaran perangkat desa.
Mereka sepakat menolak menghadiri setiap undangan pernikahan yang melibatkan anak di bawah umur.
Langkah ini diambil sebagai bentuk sanksi sosial agar masyarakat berpikir ulang sebelum menikahkan anaknya yang masih usia sekolah.
Baca Juga: Pemdes Tamansari Siasati Pembangunan Dengan Kolaborasi, Dampak Pemangkasan Dana Desa
Praktik membawa lari anak gadis atau merarik kerap membuat orang tua panik dan mengambil jalan pintas. Bayang-bayang sanksi sosial dan rasa malu di tengah tetangga kerap mengalahkan pertimbangan masa depan anak.
Guna mendobrak pola pikir tersebut, pemdes menggandeng Babinsa, Bhabinkamtibmas, hingga pendamping kesehatan. Petugas merangkul tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk memberikan pemahaman secara bertahap kepada warga.
”Pendekatan bersama unsur aparat Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta pendamping kesehatan terus diperkuat guna memberikan pemahaman mendalam,” terang Fahrul.
Baca Juga: Dana Desa Eyat Mayang Anjlok Drastis
Edukasi tidak hanya berfokus pada aturan hukum, tetapi juga menyoroti risiko kesehatan. Penanganan perkawinan anak kini diselaraskan dengan program pencegahan stunting dan kesadaran gizi.
Pendekatan ini mulai membuah hasil. Sejumlah pihak keluarga akhirnya sepakat menunda pernikahan anak setelah mendapat penjelasan soal bahaya persalinan di usia dini dan risiko bayi lahir kerdil.
Pemdes bahkan merombak alokasi anggaran untuk menyokong program kesehatan masyarakat. Pos dana desa kini lebih banyak diarahkan pada pemenuhan gizi anak dan ibu hamil. ”Penyesuaian alokasi anggaran desa kini dialihkan untuk mendukung optimalisasi pemenuhan gizi serta kesehatan,” tuturnya.
Baca Juga: Dana Desa Sekotong Barat Dipangkas Drastis
Langkah ini sejalan dengan program bantuan pangan bergizi dari pemerintah pusat. Intervensi gizi dinilai menjadi investasi jangka panjang untuk menyelamatkan generasi muda di desa.
Meski efisiensi anggaran dilakukan, pemdes memastikan pelayanan publik lainnya tetap berjalan optimal. Bantuan pangan yang masuk terbukti ampuh menopang kebutuhan ratusan anak sasaran di Desa Dasan Geria.
”Program bantuan pangan bergizi terbukti sangat membantu pemenuhan gizi ratusan anak sasaran di desa,” imbuh Fahrul.
Data pemdes mencatat, setidaknya ada satu kasus perkawinan anak yang terjadi setiap tahunnya. Angka ini menjadi alarm bagi pemdes untuk terus turun ke lapangan.
Fahrul optimistis sinergi seluruh elemen masyarakat dapat mengubah cara pandang lama warga secara bertahap. Lingkungan desa yang ramah anak hanya bisa terwujud jika semua pihak memiliki komitmen yang sama.
”Kami dan aparat turun langsung ke masyarakat untuk menginformasikan dampak negatif perkawinan anak. Ini upaya desa agar pernikahan bisa ditunda hingga usia matang,” pungkasnya.
Editor : Kimda FaridaSumber : Lombok Post