Pria 40 tahun itu menyerahkan diri melalui perantara tokoh agama Mangku Wenten.
Tim Polsek Sandubaya kemudian menjemputnya di kediaman Mangku Wenten, selanjutnya dibawa ke Polresta Mataram.
“Awalnya melalui temannya atas nama Wayan Suarjana, tersangka meminta untuk diantar ke kediaman tokoh masyarakat Mangku Wenten di Lingkungan Pamotan, Kelurahan Mayura,” terang Kapolsek Sandubaya Kompol Imam Maladi.
Melalui temannya itu, Komang Astika menyampaikan maksudnya untuk meminta pendampingan menyerahkan diri kepada polisi.
Setelah itu, Mangku Wenten menghubungi pihak kepolisian.
“Pengakuannya, ia merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi,” kata Imam.
Sebelumnya, Komang Astana sempat berencana bunuh diri setelah melakukan perbuatannya, menikam mantan istrinya NKA hingga tewas di sebuah kamar kos di Cakranegara, Sabtu (20/4).
Namun temannya Wayan Suarjana, berhasil menasihatinya agar tidak berpikiran pendek.
Mengingat ia masih memiliki dua anak yang butuh perhatian. Akhirnya ia pun memilih menyerahkan diri ke polisi.
“Pelaku menyesali perbuatannya. Ia nekat menikam istrinya karena tersulut emosi dan cemburu,” jelas mantan kasatlantas Polresta Mataram tersebut.
Informasi yang dihimpun pihak kepolisian, pelaku sudah beberapa kali mengajak korban rujuk, namun ditolak.
Baca Juga: Kisah Para Lelaki Desa Perigi Lombok Timur yang Menjadi Transporter Jagung dan Gabah
“Namun terkait dengan motif pelaku melakukan pembunuhan, lebih jelas nanti akan disampaikan saat pemeriksaan dan penyidikan lebih lanjut di Polresta Mataram,” ujar Imam.
Sementara Kasatreskrim Polresta Mataram Kompol I Made Yogi Purusa Utama menyampaikan, hasil interogasi awal pelaku nekat menganiaya mantan istrinya karena terbakar api cemburu.
“Ia cemburu karena mengetahui mantan istrinya memiliki pria idalam lain,” ungkap Yogi.
Ini yang membuat mereka sering cekcok dan akhirnya bercerai.
Perceraian keduanya pun diputuskan di pengadilan. Namun Komang Astana diduga masih mencintai mantan istrinya.
Ini yang mendorongnya datang ke kos korban dan terlibat cekcok sebelum aksi penikaman terjadi.
Komang Astika mengaku sangat menyesali perbuatannya. Ia bahkan sempat menangis, menyesali perbuatannya dan merasa kasihan dengan kedua anak.
“Saya tidak pernah merencanakannya. Kejadiannya terjadi begitu saja,” ucap dia menyesali perbuatannya.
Setelah aksi penikaman tersebut, ia mengaku tidak tenang. Ia tidak berani pulang ke rumahnya, bahkan tidak pernah bisa tidur.
Ia pindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain, agar tidak ditemukan polisi.
Kadang ia tidur di toko yang kosong hingga tidur di pinggir pantai sebelum memutuskan menyerahkan diri. (ton/r1)
Editor : Marthadi