Kasatreskrim Polresta Mataram Kompol I Made Yogi Purusa Utama mengatakan, pihaknya berencana memanggil ulang para saksi yang telah dimintai keterangan sebelumnya.
"Rekan korban dan ibunya, paman korban, nakes (tenaga kesehatan), dan ponpes nanti akan kami mintai keterangan," kata Yogi kepada wartawan, Senin (1/7).
Penyidik juga sudah menerima hasil visum dari poliklinik dan puskesmas. Namun mereka masih enggan membukanya ke publik.
Yogi hanya memastikan pihaknya telah menemukan indikasi perbuatan melawan hukum dari proses penanganan laporan di tahap penyelidikan.
Terkait hasil otopsi jenazah Nurul Izzati, penyidik belum menerima hasil resmi dari RS Bhayangkara Mataram.
"Hasil otopsi masih kami tunggu, nantinya akan jadi kelengkapan alat bukti," ucapnya.
Diketahui, Nurul Izzati meninggal Sabtu (29/6) pagi, usai menjalani perawatan medis selama 16 hari. Mulai dari poliklinik pindah ke puskesmas dan berakhir di RSUD R Soedjono Selong.
Meninggalnya santriwati asal Ende Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu menyisakan pertanyaan bagi orang tua dan publik. Menyusul, sebelum meninggal dia mengaku kepada orang tuanya sempat dianiaya rekannya sesama santriwati.
Namun pihak Ponpes Al-Aziziyah membantahnya. Mereka telah menginvestigasi dan mengungkapkan tidak menemukan adanya tindakan penganiayaan di ponpes.
Kepala Instalasi Forensik RS Bhayangkara Mataram Iptu I Nyoman Madiasa dikonfirmasi hasil otopsi mengaku belum menyerahkan ke penyidik.
"Masih ada pemeriksaan tambahan dulu," jawabnya singkat. (ton/r8)
Editor : Marthadi