LombokPost-Penyebab di balik Rizkil Watoni, warga Desa Sesait, Kayangan, Kabupaten Lombok Utar (KLU) bunuh diri belum terungkap. Sebelumnya, Rizkil mengakhiri hidupnya karena diduga mendapatkan tekanan oknum anggota Polsek Kayangan usai dituduh mencuri handphone di Alfamart.
Akibat dari peristiwa tersebut, masyarakat menyerang Mapolsek Kayangan. Merusak sejumlah fasilitas.
Baca Juga: Bangun Kualitas Demokrasi Masyarakat, KPU Usulkan Program Pelopor Desa Demokrasi ke Iqbal
Persoalan itu sempat menjadi sorotan publik. Sejumlah advokat memberikan pembelaan terhadap keluarga Rizkil Watoni. Mereka mendorong Polda NTB mengusut tuntas kasus tersebut hingga tuntas. Termasuk adanya dugaan pemerasan terhadap korban.
Kuasa Hukum keluarga Rizkil Watoni, Marianto menegaskan, pihaknya sudah menyerahkan sejumlah barang bukti. Salah satunya Polda NTB diminta melakukan pemeriksaan digital forensik. "Kami sudah koordinasi dengan tim ahli Polda NTB, setelah lebaran ini akan dilakukan pemeriksaan digital forensik," kata Marianto.
Untuk melakukan itu, Marianto sudah menyerahkan handphone korban. Tujuannya untuk mengekstraksi isi pesan dalam percakapan digitalnya. "Di situ kami duga ada percakapan antara penyidik Polsek Kayangan dengan korban ini. Itu harus dibuka buktinya," kata dia.
Sebab ada isu beredar Rizkil ditekan dan diminta menyerahkan uang ke penyidik atas dugaan kasus pencurian yang menjeratnya. Meskipun, pihaknya sudah mengembalikan handphone pegawai supermarket yang melapor kasus pencurian. "Kalau di CCTV itu kita memang melihat ada pengambilan handphone. Tetapi, Rizkil itu tidak sengaja mengambil handphone tersebut. Lalu dimasukkan ke dalam ranselnya," kata dia.
Atas kasus tersebut, Rizkil ditangkap dan sempat ditahan. "Yang perlu diusut adalah adanya tekanan terhadap Rizkil. Diminta menyerahkan uang agar kasusnya ditutup," ungkapnya.
Baca Juga: 31 Desa di Lotim Belum Bisa Pencairan Dana Desa
Saat ini pihaknya masih menunggu kepastian agenda Polda NTB melakukan digital forensik. "Kita tunggu saja," ujarnya.
Kapolda NTB juga akan terbuka terkait penanganan kasus tersebut. "Pihak keluarga juga berharap kasus ini bisa tuntas secara adil. Agar almarhum tenang di dalam kubur," harapnya.
Kapolres Lombok Utara, AKBP Agus Purwanta menepis dugaan permintaan uang damai atas kejadian tersebut. Dia menegaskan bahwa hal tersebut tidak benar.
Kendati demikian, pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap motif pasti dari aksi massa tersebut. "Sampai saat ini, kita masih dalam penyelidikan. Jika ada hal-hal penyimpangan lain, nanti kita sampaikan," katanya.
Kabid Humas Polda NTB, Kombes Pol Mohammad Kholid juga menerangkan hal yang sama. Tim yang sudah dibentuk Polda NTB masih bekerja. "Sementara masih didalami penyebab kejadiannya," kata Kholid singkat via WhatsApp.(arl/r5)
Editor : Jelo Sangaji