LombokPost - Tersangka kasus prostitusi kakak jual adik berinisial Memey alias ME akhirnya buka suara.
Dia menceritakan awal bertemu dengan MAA, bos PT Baling-Baling Bambu yang juga ditetapkan sebagai tersangka.
Dia mengenal MAA saat masih duduk di bangku kelas 3 SMP.
”Saat itu, saya dikenalkan teman saya. Yang bahasanya berpacaran dengan teman saya,” kata ME kepada wartawan.
Seiring berjalannya waktu, temannya itu putus dengan MAA. Ketika duduk di bangku kelas 2 SMA, ME sering diajak keluar bersama MAA.
“Awalnya sering diajak keluar makan. Sering juga dikasih uang,” cerita mengingat perjalanan bersama MAA.
Ketika sudah cukup dekat, ME dirayu melayani MAA di dalam kamar hotel. Dia dijanjikan akan diberikan uang.
”Saya dijanjikan diberikan uang Rp 1 juta,” akunya.
Atas rayuan itu, ME pun menyetujui melayani MAA. “Ya, saya layani. Kalau awal-awal diberikan bayaran Rp 1 juta,” ungkapnya.
ME mengaku sudah tiga kali melayani MAA di kamar hotel. Tetapi, yang kedua dan ketiga, uang yang diberikan lebih sedikit. ”Hanya dikasih Rp 700 ribu yang kedua. Ketiga Rp 500 ribu,” kata dia.
Meskipun hanya dikasih uang sedikit, namun beberapa kali sering dikirimi uang oleh MAA.
”Kadang kalau kita minta hanya dikasih Rp 300 ribu. Itu diberikan untuk uang belanja,” ungkapnya.
Saat melayani MAA di hotel, ME selalu diantarkan adiknya yang juga sebagai korban dari MAA.
”Jadi adik saya ini sudah mengerti apa yang saya kerjakan. Pekerjaan saya ini salah,” kata dia.
ME pun putus sekolah dan menikah. Sejak saat itu, dia mengurangi komunikasi dengan MAA.
”Tetapi, saya bertemu lagi dengan MAA. Saya dimintai tolong untuk mencarikan cewek yang bisa melayani,” ujarnya.
Tetapi, dia tidak bisa memenuhi itu. Dikarenakan fokus mengurus rumah tangga.
“Saya bilang ke dia (MAA), nanti sudah kalau ada saya kabari,” ungkapnya.
Kebetulan saat itu, sang adik yang menjadi korban pada kasus tersebut butuh uang membeli handphone. Dia pun menawari adiknya.
”Adik saya mau melayani MAA,” tuturnya.
Sempat terjadi negosiasi harga. ME meminta bayaran Rp 15 juta.
Awalnya MAA tidak menyanggupi.
Tidak berselang lama, MAA merespon dengan menawar harga. “Dia (MAA) sanggup membayar Rp 8 juta,” kata dia.
Terjadilah peristiwa tersebut. ME mengantarkan adiknya ke Hotel Lombok Raya. ”Saya yang mengantarkannya,” kata dia.
Adiknya sempat menangis setelah melayani MAA. Tetapi, setelah itu dia menenangkannya.
”Menangisnya karena kesakitan,” beber ME.
Usai keluar dari kamar, adiknya mengambil uang bayaran Rp 8 juta. Uang itu digunakan untuk membeli handphone di salah konter di Cakranegara. ”Adik saya beli handphone yang harga Rp 3 juta-an. Sisa uangnya digunakan sendiri sama adik saya,” ujarnya. (arl/r5)
Editor : Jelo Sangaji