LombokPost - Penyidikan dugaan penggelapan mobil operasional Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) terus berlanjut di Polresta Mataram.
Untuk mendalami kasus tersebut, penyidik bakal memeriksa Ketua Bawaslu NTB.
Pemanggilan terhadap Ketua Bawaslu itu hanya sebagai saksi.
"Kita agendakan pemeriksaannya pekan ini. Jumat atau Sabtu," kata Kasatreskrim Polresta Mataram AKP Regi Halili.
Mendalami peran terlapor penggelapan mobil oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) berinisial LIA.
"Kami sudah periksa pihak terlapor itu. Tetapi keterangan pertama banyak bohongnya," ungkap dia.
Pada keterangan awal, LIA mengaku ada tiga mobil operasional yang digelapkan. Jumlah tersebut masih kurang dari unit mobil yang digelapkan.
"Sisanya itu dikelola atau dikontrak oleh adiknya. Itu keterangan dari yang bersangkutan," jelas Regi.
Untuk itu, menurutnya, perlu adanya pendalaman secara administratif terlebih dahulu. Apakah proses tersebut diketahui Ketua Bawaslu.
"Untuk itu perlu kami periksa," kata dia.
Selain itu, bakal didalami juga berapa jumlah kendaraan yang disewa untuk operasionalnya. Juga berapa yang sudah dikembalikan.
"Berapa yang belum dibayar dan lain-lain," ujarnya.
Saat ini, penyidik baru mengamankan tiga unit mobil operasional yang diduga digelapkan LIA.
Sejauh ini, pihaknya sudah menelusuri lokasi tempat mobil lain yang digelapkan.
"Masih kita telusuri. Kemarin tim Opsnal juga sibuk dengan Operasi Jaran, makanya belum ketemu mobil yang lain," terang Regi.
Sebelumnya, tercatat ada sebanyak 12 mobil operasional Bawaslu yang digelapkan. Namun, yang baru terdeteksi ada enam unit dan tiga unit sudah diamankan.
"Tiga unit ditemukan digadai di cafe tuak dan beberapa wilayah di Lombok Tengah," bebernya.
Ketua Bawaslu NTB Itratip mengatakan, pihaknya belum mendapatkan panggilan dari penyidik terkait kasus tersebut.
Kalau pun ada, pihaknya akan tetap menghadiri panggilan.
"Saya akan tetap datang kalau ada panggilan. Saya berikan keterangan," kata Itratif.
Dia membenarkan jika ada mobil operasional yang disewa Bawaslu NTB.
"Kalau tidak salah ada 46 unit," jelasnya.
Tetapi, dia tidak mengetahui adanya penggelapan mobil operasional.
Dia memastikan semua mobil operasional itu sudah dikembalikan ke pihak ketiga.
"Tanggal 26 Februari itu kami sudah kembalikan," ujarnya. (arl/r5)
Editor : Kimda Farida