Hal itu dijelaskan oleh dr. Erta Priadi Wirawijaya, SpJP, FIHA, spesialis jantung dan pembuluh darah dari Klinik Kiera. Ia mengungkapkan, banyak perokok muda yang merasa aman karena rutin berolahraga, padahal kebiasaan itu justru bisa memicu kematian mendadak.
“Waktu itu malam-malam di IGD datang seorang pria usia 30 tahun, atletis, kelihatannya sehat. Baru saja main futsal bareng teman-temannya. Tiba-tiba di tengah pertandingan dia ambruk, awalnya dikira cuma kelelahan,” kisah dr. Erta.
Begitu sampai di IGD, pasien itu mengalami sesak napas, wajah pucat, keringat dingin, dan menggenggam dada kiri. Saat dipasang monitor, detak jantungnya kacau hingga berhenti.
“Untung kejadiannya di IGD, kami langsung lakukan RJP dan alhamdulillah berhasil kembali,” ujarnya.
Namun hasil kateterisasi jantung menunjukkan penyumbatan total pada pembuluh darah koroner utama.
“Bukan sumbatan kecil seperti pasien usia 60 tahun, tapi panjang, padat, dan penuh gumpalan darah segar,” ungkapnya. Dokter intervensi pun harus bekerja keras menyedot bekuan darah satu per satu.
Kondisi itu membuat dr. Erta berpikir, bagaimana mungkin serangan jantung seberat itu terjadi pada pria muda dan bugar.
“Jawabannya muncul ketika keluarga datang. Ternyata dia perokok berat sejak SMP,” katanya.
Menurutnya, banyak orang beranggapan olahraga bisa menetralkan efek rokok.
“Ini logika yang bikin dokter jantung garuk-garuk kepala,” tegasnya.
Zat nikotin dan karbon monoksida dalam rokok membuat dinding pembuluh darah kasar dan mudah terluka. Ketika terjadi luka, kolesterol dan darah menempel, membentuk sumbatan keras di arteri koroner.
“Setiap kali Anda mengisap rokok, sebenarnya Anda sedang menambah lapisan aspal di dalam arteri Anda sendiri,” jelasnya.
Ketika olahraga berat dilakukan dalam kondisi pembuluh darah rusak, risiko fatal meningkat.
“Saat olahraga, detak jantung dan tekanan darah naik, kebutuhan oksigen melonjak, tapi pembuluhnya sudah sempit akibat rokok. Akibatnya, oksigen ke otot jantung tidak sebanding dengan permintaan. Inilah momen otot jantung mogok kerja,” jelasnya.
Ia mengibaratkan tubuh seperti mobil. “Mesinnya minta bensin lebih, tapi selangnya mampet. Mesin panas, meledak, selesai.”
Lebih berbahaya lagi, merokok membuat darah kental dan mudah menggumpal.
“Kalau main futsal dengan kadar nikotin tinggi, darah lebih mudah membeku. Itu seperti jalan tol macet masih ditambah truk mogok,” ujarnya.
Berbagai penelitian menunjukkan, perokok yang berolahraga berat memiliki risiko serangan jantung mendadak berkali lipat dibanding yang tidak merokok sama sekali.
“Olahraga itu sehat, tapi bukan penawar racun. Jadi kalau mau olahraga, kasih hadiah terbaik untuk jantung Anda: udara bersih, bukan asap,” pesan dr. Erta menutup. (*)
Editor : Marthadi