LombokPost – Istilah kesehatan mental kini semakin sering terdengar di media sosial, namun tak sedikit masyarakat yang masih bingung membedakan antara satu gangguan dengan gangguan lainnya.
Salah satu yang paling sering tertukar adalah Borderline Personality Disorder (BPD) dan Gangguan Bipolar.
Melalui unggahan di akun TikTok pribadinya, dokter spesialis kedokteran jiwa, dr. Zulvia Syarif, Sp.KJ, memberikan penjelasan mendalam untuk meluruskan miskonsepsi ini.
Meskipun keduanya sama-sama ditandai dengan perubahan suasana hati (mood swing), dr. Zulvia menekankan bahwa mekanisme dan durasinya sangat berbeda.
Durasi Perubahan Suasana Hati
Perbedaan paling mendasar terletak pada seberapa lama perubahan mood tersebut bertahan.
Baca Juga: Araujo Ajukan Pemulihan Mental Usai Kartu Merah Lawan Chelsea: Barcelona Beri Izin Penuh
Gangguan Bipolar: Perubahan mood terjadi dalam episode yang panjang.
Seseorang bisa berada dalam fase depresi atau manik selama beberapa hari hingga berminggu-minggu.
BPD (Gangguan Kepribadian Ambang): Perubahan mood terjadi sangat cepat dan drastis, biasanya hanya bertahan dalam hitungan jam atau paling lama satu hari.
Faktor Pemicu (Trigger)
Dokter Zulvia menjelaskan bahwa pemicu perubahan emosi pada kedua gangguan ini memiliki karakteristik yang berbeda:
BPD: Sangat sensitif terhadap isu interpersonal atau hubungan dengan orang lain. Pemicu utamanya sering kali adalah rasa takut akan penolakan atau ditinggalkan oleh orang terdekat.
Bipolar: Perubahan fase (dari manik ke depresi atau sebaliknya) sering kali terjadi secara biologis/internal dan tidak selalu dipicu oleh kejadian spesifik dalam hubungan antarmanusia.
Gejala Inti yang Berbeda
Selain mood swing, dr. Zulvia menyoroti "akar" dari masing-masing gangguan:
Ciri Khas BPD: Adanya perasaan kosong yang kronis, krisis identitas (bingung dengan jati diri sendiri), dan hubungan yang tidak stabil (benci jadi cinta dalam waktu singkat).
Ciri Khas Bipolar: Terfokus pada perubahan energi. Saat fase manik, seseorang merasa sangat bertenaga dan tidak butuh tidur; saat depresi, energi terasa hilang sepenuhnya.
Pesan Penting: "Self-diagnosis atau mendiagnosis diri sendiri melalui konten media sosial sangat tidak disarankan," ujar dr. Zulvia dalam videonya. Ia mengimbau siapa pun yang merasa mengalami gejala tersebut untuk segera berkonsultasi dengan profesional seperti psikiater atau psikolog.
Editor : Kimda Farida