Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Memilih Diri Sendiri: dr. Santi Yuliani Ungkap Mengapa Keluar dari Hubungan Toxic Adalah Investasi Masa Depan

Nurul Hidayati • Kamis, 25 Desember 2025 | 14:55 WIB
Edukasi dr. Santi Yuliani, M.Sc., Sp.KJ, mengenai pentingnya memutus rantai hubungan toksik demi kesehatan mental.
Edukasi dr. Santi Yuliani, M.Sc., Sp.KJ, mengenai pentingnya memutus rantai hubungan toksik demi kesehatan mental.

LombokPost – Hubungan yang tidak sehat atau sering disebut toxic relationship bukan sekadar drama asmara biasa.

Menurut pakar kesehatan jiwa, dr. Santi Yuliani, M.Sc., Sp.KJ, dampak dari hubungan ini jauh lebih dalam, yakni menguras habis cadangan energi, waktu, hingga mengikis kepercayaan diri seseorang.

Lewat edukasi di media sosialnya dr. Santi Yuliani, M.Sc.,Sp.KJ. instagram santi_psychiatrist, dr. Santi menekankan bahwa meninggalkan hubungan yang merusak bukanlah sebuah kekalahan, melainkan sebuah langkah awal untuk "pulang" ke diri sendiri.

 Baca Juga: Siswi SLB Usia 4 Tahun Diduga Jadi Korban Pelecehan: Polisi Kesulitan Gali Keterangan, Libatkan Psikolog UNRAM

Membuka Kembali Ruang Mental yang Sesak

Selama berada dalam hubungan toksik, kapasitas mental seseorang biasanya habis hanya untuk mengelola konflik, kecemasan, dan ketidakpastian.

Dr. Santi menjelaskan bahwa ketika seseorang berani keluar dari lingkaran tersebut.

Ruang emosional kembali terbuka: Kamu memiliki kapasitas untuk merasakan hal lain selain stres.

Proses Pertumbuhan: Dengan ruang mental yang lega, seseorang bisa kembali mengenal jati dirinya dan memperbaiki aspek kehidupan yang sempat rusak atau terabaikan.

Memilih Diri Sendiri sebagai Bentuk Kesadaran

 Baca Juga: Sering Tanyakan Keberadaan Ayahnya, Dua Putri Almarhum Brigadir Esco Diberikan Pendampingan Psikolog

Meninggalkan sesuatu yang merusak adalah bentuk tertinggi dari mencintai diri sendiri. Dr. Santi menyoroti bahwa tindakan ini akan membawa dampak jangka panjang pada cara seseorang memandang hubungan di masa depan:

Peningkatan Standar: Saat kamu sadar bahwa kamu layak mendapatkan yang lebih baik, secara otomatis "radar" atau standar kamu terhadap pasangan berikutnya akan meningkat.

Toleransi terhadap Ketidakadilan: Kamu menjadi lebih tegas mengenai apa yang bisa ditoleransi dan apa yang harus segera ditinggalkan.

Akhir yang Menjadi Awal Baru

Banyak orang takut mengakhiri hubungan karena menganggapnya sebagai "akhir dari segalanya". Namun, dr. Santi mematahkan stigma tersebut.

"Meninggalkan hubungan toxic bukan akhir dari cerita, tapi awal dari hidup yang lebih sehat. Selalu ada 'yang lebih baik', karena kamu sendiri juga sedang tumbuh menjadi versi dirimu yang lebih baik," ungkapnya.

Ia mengingatkan bahwa proses healing atau pemulihan adalah perjalanan untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri, yang nantinya akan menarik orang-orang dengan kualitas yang serupa ke dalam hidup kita.

Tips dari Perspektif Psikiatri:

Jika Anda merasa terjebak dalam hubungan yang menguras energi, dr. Santi sering kali menyarankan untuk:

Validasi Perasaan: Akui bahwa Anda sedang tidak baik-baik saja dan hubungan tersebut memang merusak.

Cari Dukungan Profesional: Terkadang, trauma dari hubungan toksik membutuhkan bantuan psikiater atau psikolog untuk diurai.

Fokus pada 'Self-Growth': Gunakan waktu pasca-putus untuk fokus pada kesehatan fisik, hobi, dan karier.

Editor : Kimda Farida
#pemulihan #relationship #diri sendiri #toxic #mental