Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Perilaku Agresif Berujung Pidana, Buat Rumah Tak Nyaman Bahkan Jadi Korban Kriminalitas

Nurul Hidayati • Selasa, 27 Januari 2026 | 17:15 WIB
JUMPA PERS: Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Mohammad Kholid bersama Ditreskrimum Polda NTB Kombes Pol Arisandi dan jajarannya memberikan pernyataan atas kasus pembunuhan dan pembakar ibu kandungnya.
JUMPA PERS: Kabid Humas Polda NTB Kombes Pol Mohammad Kholid bersama Ditreskrimum Polda NTB Kombes Pol Arisandi dan jajarannya memberikan pernyataan atas kasus pembunuhan dan pembakar ibu kandungnya.

LombokPost – Terjadinya pembunuhan yang dilakukan anak kepada ibu kandungnya yang viral di Lombok beberapa hari ini menjadi salah satu bukti ketika rumah bukan lagi menjadi tempat yang aman.

Kasus yang viral ini berhasil diungkap Polda NTB dimana motif Bara Primario membunuh sekaligus membakar ibu kandungnya sendiri, Yeni Rudi Astuti karena uang.

Awalnya Bara terlilit hutang dengan orang lain sebesar Rp 39 juta, lalu meminta uang ke ibunya. Tetapi tidak dikasih. Dari dendam itulah pelaku berniat untuk membunuh ibunya sendiri.

 Baca Juga: Bara Diduga Bunuh Sekaligus Bakar Ibu Kandungnya Sendiri karena Dendam Tidak diberikan Uang untuk Bayar Hutang

Rumah yang tidak nyaman, atau lingkungan toxic home, memiliki dampak kesehatan fisik dan mental yang serius.

Ketika rumah bukan lagi tempat aman untuk pulang, hal ini menciptakan kondisi yang memengaruhi kesehatan secara keseluruhan, dan dalam kasus ekstrem, dapat memicu perilaku agresif, termasuk tindak kriminal di lingkungan keluarga. 

Berikut adalah analisis segi kesehatan dan dampak psikologis ketika rumah menjadi tempat yang tidak nyaman.

  1. Dampak Kesehatan Mental dan Psikologis

Stres Kronis dan Kecemasan: Rumah yang penuh konflik, kritik, atau ketakutan menyebabkan penghuninya berada dalam mode "bertarung atau lari" (fight-or-flight) secara terus-menerus.

Gangguan Mental: Lingkungan toxic berisiko memicu depresi, gangguan kecemasan, dan trauma psikologis.

Disregulasi Emosi: Anak yang tumbuh dalam keluarga tidak sehat sering mengalami kesulitan mengontrol emosi, menjadi lebih sensitif, atau menyendiri.

Kepribadian Menyimpang: Tekanan terus-menerus dapat membentuk kepribadian yang menyimpang, di mana individu kesulitan membangun hubungan sehat dan rentan terhadap perilaku agresif. 

  1. Dampak Kesehatan Fisik

Gangguan Tidur dan Pencernaan: Ketegangan emosional kronis dapat menyebabkan insomnia dan masalah sistem pencernaan.

Penurunan Imunitas: Stres tinggi menurunkan sistem kekebalan tubuh, membuat anggota keluarga lebih rentan terhadap penyakit. 

  1. Dampak terhadap Perilaku (Kasus Ekstrem: Pembunuhan)
    Ketika rumah menjadi sumber stres, bukan pelarian, hal ini bisa menyebabkan "lingkungan yang kacau" yang berujung pada perilaku ekstrem, seperti kekerasan dalam rumah tangga hingga anak membunuh ibu kandung. Beberapa pemicunya.

Konflik Finansial/Uang: Kasus pembunuhan seringkali dipicu oleh stres ekonomi, di mana pelaku yang tidak memiliki pekerjaan atau kecanduan menghabiskan uang bahkan pinjam uang, lalu bertindak sadis saat ditegur atau tidak diberi uang.

Pola Asuh Toxic/Kekerasan: Pengalaman kekerasan verbal/fisik dari orang tua (terutama strict parents) atau lingkungan yang tidak stabil meningkatkan risiko anak memiliki perilaku agresif di kemudian hari.

Dendam dan Trauma: Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan di rumah dapat menyebabkan penumpukan amarah yang meledak menjadi tindakan kekerasan. 

Rumah yang nyaman secara emosional di mana anggota keluarga merasa dihargai, didengar, dan didukung sangat penting untuk menjaga kesehatan mental dan mencegah perilaku menyimpang. 

Editor : Siti Aeny Maryam
#kriminalitas #ibu #uang #Anak #viral #pembunuhan