LombokPost - Di tengah dinamika cuaca yang tidak menentu, ancaman penyakit menular kembali membayangi kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak.
Pakar kesehatan mengingatkan bahwa campak masih menjadi ancaman serius yang dapat memicu Kejadian Luar Biasa (KLB) di tahun 2026 jika cakupan imunisasi di daerah-daerah tidak segera dikebut.
Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp.IPT(K), Spesialis Anak dari Universitas Padjadjaran, menegaskan bahwa virus campak memiliki tingkat penularan yang sangat ekstrem, bahkan jauh melampaui virus influenza.
Baca Juga: Dikes Lotim Perkuat Pengawasan Kasus Campak
Satu Orang Bisa Tularkan Belasan Orang
Berbeda dengan virus lain yang cepat bermutasi, virus campak cenderung stabil. Namun, keganasannya terletak pada kecepatan penyebaran. Satu orang penderita dapat menularkan virus kepada banyak orang di sekitarnya, terutama di lingkungan yang tingkat imunisasinya rendah.
“Campak menyebar sangat cepat melalui udara atau droplet saat penderita batuk atau bersin. Penyakit ini tidak hanya menyerang anak-anak, tetapi siapa saja yang tidak memiliki kekebalan tubuh,” jelas Prof. Anggraini dalam seminar daring, Rabu (11/3).
Waspadai Gejala Mirip ISPA
Para orang tua diminta jeli melihat tanda-tanda awal. Seringkali, gejala campak di fase awal mengecoh karena menyerupai Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA).
Gejala Awal: Demam tinggi, batuk, pilek, serta mata merah dan berair.
Tanda Khas: Munculnya koplik spot atau bintik putih kecil di bagian dalam pipi sebelum ruam merah menyebar dari wajah ke seluruh tubuh.
Bahaya utama campak bukanlah ruamnya, melainkan komplikasi yang menyertai. Pada anak dengan kondisi gizi buruk, campak dapat memicu pneumonia (radang paru), infeksi telinga, hingga radang otak (ensefalitis) yang mematikan.
Vaksin Sejak 1954 Tetap Ampuh
Kabar baiknya, karena virus campak tidak mudah bermutasi, vaksin yang dikembangkan sejak puluhan tahun lalu tetap memiliki efektivitas yang sangat tinggi. Dua dosis vaksin campak mampu memberikan perlindungan hingga lebih dari 97 persen.
Di Indonesia, jadwal imunisasi wajib meliputi: Usia 9 Bulan: Dosis pertama. Usia 18 Bulan: Dosis kedua. Usia Sekolah Dasar: Dosis penguat (booster).
Masyarakat Harus Kejar Herd Immunity
Agar tercipta kekebalan kelompok (herd immunity), cakupan imunisasi di suatu wilayah harus mencapai minimal 95 persen. Jika angka ini tidak tercapai, maka risiko terjadinya KLB akan selalu menghantui.
Masyarakat, khususnya di wilayah dengan mobilitas penduduk tinggi seperti perkotaan dan kawasan wisata, dihimbau untuk memastikan buah hatinya telah mendapatkan imunisasi lengkap. Segera bawa anak ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat jika ditemukan gejala demam tinggi yang disertai bercak kemerahan.
"Pencegahan adalah kunci. Jangan tunggu sampai anak sakit, karena campak sebenarnya sangat bisa dicegah dengan imunisasi tepat waktu," pungkas Prof. Anggraini.
Editor : Pujo Nugroho