Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

HPV Bukan Hanya Ancaman Perempuan! Kemenkes dan MSD Indonesia Dorong Perlindungan Inklusif: 1 dari 3 Pria Terinfeksi Sejak Usia 15 Tahun

Nurul Hidayati • Selasa, 21 April 2026 | 23:10 WIB
Kegiatan menyoroti fakta medis bahwa infeksi Human Papillomavirus (HPV) tidak hanya mengancam perempuan, tetapi juga memberikan beban kesehatan yang signifikan bagi laki-laki, sehingga pendekatan pencegahan yang inklusif dan komprehensif menjadi semakin krusial.
Kegiatan menyoroti fakta medis bahwa infeksi Human Papillomavirus (HPV) tidak hanya mengancam perempuan, tetapi juga memberikan beban kesehatan yang signifikan bagi laki-laki, sehingga pendekatan pencegahan yang inklusif dan komprehensif menjadi semakin krusial.

LombokPost - Selama ini, narasi seputar Human Papillomavirus (HPV) di masyarakat seolah terkunci pada isu kanker leher rahim yang menyerang perempuan.

Namun, fakta medis terbaru mengungkap sisi lain yang tak kalah mengkhawatirkan: HPV tidak mengenal gender.

Virus ini menjadi ancaman nyata bagi masa depan anak laki-laki di Indonesia.

Baca Juga: Dinas Kesehatan Perkuat Sosialisasi Vaksinasi HPV

Dalam kegiatan "Kelas Jurnalis 2026" yang digelar MSD Indonesia bersama Kementerian Kesehatan RI (21/4), terungkap data global.

Bahwa hampir 1 dari 3 pria berusia di atas 15 tahun telah terinfeksi setidaknya satu jenis virus HPV.

Lebih jauh lagi, laki-laki berkontribusi pada sekitar 40 persen dari seluruh kasus kanker terkait HPV di dunia.

Baca Juga: Kemenkes Rencanakan Vaksin HPV Gratis untuk Wanita 20 Tahun ke Atas Mulai 2027

Beban Tersembunyi pada Laki-Laki

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (PERDOSKI), Dr. dr. Hanny Nilasari, Sp.DVE, menjelaskan adanya hidden burden atau beban tersembunyi pada pria.

Selain kutil kelamin, HPV pada laki-laki berisiko memicu kanker penis, anus, hingga kanker orofaring (tenggorokan).

Baca Juga: Cegah Kanker Serviks pada Siswi, Mataram Bakal Gelar Vaksinasi HPV Selama Bulan Agustus

Fakta medis menunjukkan bahwa laki-laki biasanya tidak membangun kekebalan alami yang kuat setelah terinfeksi.

"Karena tidak ada mekanisme skrining rutin seperti pap smear pada laki-laki, deteksi sering kali terlambat. Inilah yang membuat pencegahan sejak dini menjadi sangat krusial," tegas dr. Hanny.

Respons Imun Maksimal di Usia 9-13 Tahun

Senada dengan hal tersebut, Ketua Satgas Imunisasi Anak IDAI, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, SpA (K), menekankan pentingnya periode emas pencegahan. Sistem imun anak memberikan respons paling kuat terhadap imunisasi pada usia 9 hingga 13 tahun.

"Memberikan perlindungan pada anak usia sekolah dasar adalah langkah optimal. Ini bukan hanya soal melindungi diri sendiri, tapi juga memutus rantai transmisi virus kepada pasangan dan masyarakat di masa depan," ujar Prof. Hartono.

Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak membiarkan stigma menghalangi hak kesehatan fundamental anak laki-laki mereka.

Menuju Kesetaraan Hak Kesehatan (Health Equity)

Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, dr. Andi Saguni, M.A, mengapresiasi keberhasilan program BIAS pada anak perempuan yang mencapai cakupan 91,1 persen di tahun 2025. Namun, ia menegaskan pekerjaan rumah pemerintah belum usai.

"Fokus kami saat ini adalah memperluas literasi publik. Masyarakat harus paham bahwa imunisasi HPV adalah investasi kesehatan untuk seluruh anak, baik laki-laki maupun perempuan," ungkapnya.

Managing Director MSD Indonesia, George Stylianou, menambahkan bahwa melalui prinsip Health Equity, perlindungan harus bersifat inklusif.

"Kami berkomitmen memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam mendapatkan proteksi dari ancaman kanker terkait HPV di masa depan," pungkasnya.

Editor : Redaksi
#Virus HPV #Kanker Penis #Kesehatan Laki-laki #MSD Indonesia #imunisasi anak