Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pria Usia Produktif Wajib Waspada! Sering Lemas dan Perut Buncit? Bisa Jadi Anda Terkena Andropause, Ini Penjelasan Dokter!

Nurul Hidayati • Sabtu, 30 Mei 2026 | 14:06 WIB
Ilustrasi Generated Gemini Ai
Ilustrasi Generated Gemini Ai

LombokPost – Selama ini istilah menopause identik dengan kaum hawa. Namun, para pria kini tidak boleh lagi tutup mata. Fenomena andropause atau "menopause-nya pria" kini semakin marak menyerang kalangan usia produktif. Kondisi ini dipicu oleh penurunan hormon testosteron secara bertahap yang berdampak sistemik pada kesehatan fisik, mental, hingga merosotnya kualitas hidup.

Berbeda dengan perempuan yang mengalami menopause dengan fase yang cukup jelas, andropause pada pria berjalan senyap, perlahan, sehingga sering kali tidak disadari sejak awal.

Dokter spesialis urologi dan praktisi kesehatan pria, dr. Wempy Supit, SpU, FACS, mengungkapkan bahwa kombinasi antara penurunan hormon dan stres kronis kerap memicu berbagai keluhan. "Banyak pria datang dengan keluhan cepat lelah, sulit fokus, dan kualitas tidur menurun. Ada juga perubahan fisik seperti peningkatan lemak tubuh, penurunan massa otot, sampai rambut rontok. Ini kondisi nyata yang butuh perhatian," tegas dr. Wempy dalam keterangan resminya.

Baca Juga: Dekatkan Akses Layanan Kesehatan, 25 Pengurus Koperasi Merah Putih Mataram Bekali Diri Kelola Klinik dan Apotek

Gaya Hidup Modern Jadi "Bahan Bakar"

Mengapa andropause bisa datang lebih cepat pada pria usia produktif? dr. Wempy menunjuk gaya hidup modern sebagai biang keroknya.

Tekanan pekerjaan yang tinggi, kebiasaan kurang tidur, pola makan amburadul, serta minimnya olahraga mempercepat penurunan kualitas hormonal pria.

Baca Juga: Mendikdasmen dan Gubernur NTB Resmikan RS UMMAT, Perkuat Akses Layanan Kesehatan Masyarakat

Sinyal Bahaya Andropause pada Tubuh

Energi Drop: Mudah lelah dan stamina merosot tajam.

Fokus Kendur: Sulit berkonsentrasi saat bekerja.

Baca Juga: Revolusi Kesehatan di Pergelangan Tangan, Huawei Rilis WATCH FIT 5 Series, Smartwatch Pertama dengan Deteksi Risiko Diabetes

Metabolisme Melambat: Lemak tubuh meningkat (perut buncit) dan massa otot menyusut.

Risiko Penyakit Naik: Meningkatnya potensi gangguan metabolik seperti diabetes.

Oleh karena itu, menjaga massa otot bagi pria matang kini bukan lagi urusan gagah-gagahan atau estetika semata. Ini adalah investasi wajib untuk menjaga metabolisme, keseimbangan hormon, dan energi tubuh jangka panjang.

Rambut dan Kulit Jadi "Alarm" Tubuh

Sinyal andropause nyatanya tidak hanya dirasakan dari dalam tubuh, tetapi juga terpancar lewat penampilan luar. Dokter spesialis dermatologi dan venereologi, dr. Arini Astasari Widodo, Sp.DVE, FINSDV, menilai kondisi kulit dan rambut bisa menjadi indikator adanya gangguan kesehatan yang lebih luas.

"Saat seseorang stres kronis, kurang tidur, atau hormonnya tidak seimbang, tubuh akan memberikan sinyal lewat kulit dan rambut. Jadi, merawat rambut hari ini adalah bagian dari menjaga kebugaran menyeluruh, bukan sekadar kosmetik," jelas dr. Arini.

Menurutnya, tren konsultasi medis saat ini sudah bergeser. Pria datang ke dokter bukan lagi sekadar ingin tampil lebih tampan, melainkan karena merasa fungsi tubuhnya sudah tidak lagi berjalan optimal.

Jangan Anggap Normal Maklum Tua

Para ahli sepakat, gejala-gejala penurunan performa ini jangan lagi dianggap sebagai hal biasa akibat faktor penuaan semata. Risiko dampak andropause ini sebenarnya bisa ditekan seminimal mungkin.

Caranya adalah dengan mulai disiplin menerapkan pola hidup sehat, rutin berolahraga, menjaga kualitas tidur, pintar mengelola stres, serta melakukan medical check-up secara berkala agar kualitas hidup tetap prima hingga usia lanjut.

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#Andropause Pria Produktif #Gejala Kurang Testosteron #dr Wempy Supit Urologi #Penurunan Massa Otot #Stres Hormonal Pria