LombokPost – Mengelola diabetes ternyata bukan sekadar urusan menahan diri dari godaan makanan manis atau menjaga grafik gula darah tetap stabil.
Ada musuh dalam selimut yang jauh lebih mematikan dan sering kali terabaikan: kolesterol jahat atau Low-Density Lipoprotein Cholesterol (LDL-C).
Fakta mencengangkan diungkap dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PIT PERKENI) 2026 ke-14 yang digelar di Hotel Aryaduta Bandung, 26–28 Juni lalu.
Berdasarkan data studi registri multisenter terbaru, kondisi pengelolaan lipid di Indonesia sedang berada di lampu merah. Bayangkan, di antara pasien diabetes melitus tipe 2 dengan risiko kardiovaskular tinggi, hanya 4,9 persen atau genapnya hanya 5 dari 100 pasien yang kadar LDL-C nya berhasil menyentuh target aman di bawah 55 mg/dL.
Angka ini jelas menjadi alarm keras. Pasalnya, dislipidemia (gangguan kadar lemak darah) dan diabetes adalah paket komplit pemicu serangan jantung dan stroke. Data World Heart Federation (WHF) mencatat penyakit kardiovaskular telah merenggut 765.660 jiwa di Indonesia pada 2021 saja. Studi lokal di Surabaya bahkan mempertegas bahwa 74 persen pasien diabetes tipe 2 terbukti mengidap dislipidemia. Angka itu melonjak jadi 85 persen jika pasien juga memiliki riwayat penyakit jantung koroner.
"Dalam praktik klinis di Indonesia, pasien diabetes sering kali memiliki berbagai faktor risiko kardiovaskular sekaligus. Oleh karena itu, menurunkan kadar LDL-C secara aktif merupakan prioritas terapi yang sangat penting," tegas pakar endokrinologi terkemuka, Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, Sp.PD-KEMD.
Dobrak Kebuntuan Monoterapi
Rendahnya angka pencapaian target ini sering kali dipicu oleh ketidakmampuan obat tunggal (monoterapi) untuk bekerja maksimal.
Baca Juga: Daewoong Foundation Buka Pendaftaran untuk Young Medical Scientist Research Grant 2025
Menjawab tantangan tersebut, Daewoong Pharmaceutical Indonesia menggelar simposium ilmiah khusus di hadapan sekitar 500 tenaga medis dan peneliti dari seluruh penjuru negeri. Solusi mutakhir pun diperkenalkan: terapi kombinasi ezetimibe dan rosuvastatin.
Berbeda dengan obat konvensional yang bekerja di satu jalur, kombinasi ini menerapkan strategi kepung ganda.
"Terapi kombinasi ini secara bersamaan menargetkan sintesis kolesterol di organ hati sekaligus memblokir penyerapan kolesterol di usus," papar Prof. Da-Hye Seo, pembicara internasional dari Inha University Hospital, Korea Selatan. Gabungan dua mekanisme ini diklaim jauh lebih agresif dan cepat dalam menurunkan angka LDL-C ke zona aman.
Komitmen Riset untuk Populasi Asia
Langkah Daewoong di pasar kesehatan Indonesia tampaknya tidak mau setengah-setengah. Selain mengenalkan opsi terapi baru, raksasa farmasi ini berkomitmen mempererat transfer ilmu antara dokter-dokter di Korea Selatan dan Indonesia.
CEO Daewoong Pharmaceutical, Seong-soo Park, menegaskan bahwa fokus perusahaan kini bergeser ke arah penyediaan solusi jangka panjang untuk penyakit kronis. "Lebih dari 20 tahun kami tumbuh bersama komunitas medis di Indonesia. Ke depan, kami berencana melakukan penelitian bersama berdasarkan data klinis pasien lokal untuk membangun bukti ilmiah yang lebih presisi dan sesuai dengan karakteristik populasi Asia," pungkasnya.
Editor : Redaksi Lombok Post Online