Ratusan pasang mata menyaksikan momen sakral nan emosional saat institusi ini menggelar prosesi Capping Day, sebuah tradisi sakral yang menandai kesiapan mental dan spiritual para mahasiswa kesehatan sebelum diterjunkan langsung ke medan pengabdian masyarakat untuk pertama kalinya.
Bukan sekadar seremonial biasa, Capping Day diibaratkan sebagai "sumpah setia" awal. Ini adalah momen di mana atribut keperawatan disematkan, membawa konsekuensi besar berupa tanggung jawab moral untuk melayani sesama dengan sepenuh hati.
Baca Juga: STIKES Mataram Perkuat Mutu Pasca-Raih Akreditasi Unggul
Wakil Ketua 1 Bidang Akademik STIKES Mataram, Ns. Robiatul Adawiyah, S.Kep., M.Kep., menegaskan bahwa prosesi ini merupakan jembatan krusial bagi mahasiswa baru sebelum mencicipi atmosfer dunia kerja medis yang sesungguhnya. Menurutnya, esensi dari tradisi ini adalah menanamkan pilar-pilar kemanusiaan secara mendalam.
"Tujuan utama Capping Day adalah menyuntikkan nilai-nilai kepedulian (caring), kasih sayang, empati yang tinggi, serta dedikasi tanpa batas untuk melayani masyarakat," ujar Robiatul Adawiyah.
Dalam pengarahannya, Robiatul Adawiyah juga membakar semangat para mahasiswa dengan merefleksikan kisah pelopor keperawatan dunia.
"Kami ingin mereka meneladani sosok Florence Nightingale. Sang pelopor perawat modern, reformis sosial, dan ahli statistik asal Inggris yang namanya abadi sebagai simbol kebaikan, dedikasi, dan ketulusan di dunia kemanusiaan," tambahnya.
Baca Juga: Hadapi Tantangan Global, UKM English Club STIKES Mataram Gelar Workshop "Trend Fades, English Stays"
Tradisi luhur ini ditegaskan hanya terjadi sekali seumur hidup akademik mahasiswa. Pada praktik-praktik lapangan berikutnya, mereka tidak perlu lagi melewati prosesi serupa karena fondasi komitmen dianggap telah tertanam kuat.
Meski dipenuhi semangat membara, STIKES Mataram tetap mengedepankan regulasi dan keselamatan pasien. Robiatul Adawiyah menjelaskan bahwa status mahasiswa yang turun kali ini lebih condong ke arah field trip edukatif.
"Secara kompetensi klinis, mereka belum legal melakukan tindakan medis secara mandiri. Batasan itu ada hingga mereka nanti lulus dan menempuh jenjang profesi. Jadi, praktik ini adalah ruang observasi, adaptasi, dan penerapan teori dasar," paparnya secara realistis.
Setelah resmi dikukuhkan dalam Capping Day, genderang praktek lapangan sesungguhnya akan ditabuh pada Senin (13/7/2026) mendatang melalui prosesi pelepasan resmi. Durasi waktu yang dihabiskan mahasiswa di lapangan akan bervariasi, tergantung pada spesifikasi Program Studi (Prodi) masing-masing.
Untuk mahasiswa Prodi Kebidanan akan menjalani praktik lapangan selama lima minggu. Sementara mahasiswa Prodi Keperawatan akan menjalani praktek lapangan selama dua minggu di masing-masing lokasi praktiknya.
Untuk memastikan kualitas luaran praktik, STIKES Mataram telah bermitra dengan sejumlah fasilitas kesehatan (Faskes) papan atas di Nusa Tenggara Barat. Para mahasiswa akan disebar secara strategis di beberapa titik krusial, antara lain RSUD Patut Patuh Patju (Tripat) Gerung, Lombok Barat, RSUD Kota Mataram, RSUD Awet Muda Narmada, dan Puskesmas (PKM) Meninting.
Dengan bekal mental yang ditempa lewat Capping Day dan pengawasan ketat dari para instruktur klinis, mahasiswa STIKES Mataram kini berdiri tegak, siap bertransformasi dari sekadar penuntut ilmu menjadi pahlawan garda depan kesehatan masyarakat.
Editor : Siti Aeny Maryam