lombokpost - Pilihan terapi bagi pasien gastroesophageal reflux disease (GERD) di Indonesia bertambah.
PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia resmi meluncurkan fexuprazan, terapi golongan Potassium-Competitive Acid Blocker (P-CAB), dalam rangkaian Indonesian Digestive Disease Week (IDDW) 2026.
Peluncuran tersebut berlangsung di Shangri-La Jakarta, Jumat (18/9), dan diikuti lebih dari 150 dokter spesialis penyakit dalam serta konsultan gastroenterologi dari berbagai daerah.
Baca Juga: Daewoong Dorong Inovasi Terapi GERD di Indonesia Melalui Studi IIT Fexuprazan
“Peluncuran resmi fexuprazan di Indonesia menjadi momentum yang sangat berarti. Sebagai terapi P-CAB generasi baru, kami berharap fexuprazan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup pasien GERD di Indonesia,” kata Prof. Ji Won Kim, M.D., President Korean Gastroenterology Association sekaligus Professor Division of Gastroenterology Seoul National University College of Medicine.
Dalam simposium tersebut, para pakar membahas penggunaan terapi P-CAB pada pasien GERD sekaligus memaparkan sejumlah hasil penelitian.
Salah satunya investigator-initiated trial (IIT) yang melibatkan 134 pasien di tiga rumah sakit besar di Jakarta.
Baca Juga: RSUD Soedjono Selong Tambah Depo Farmasi
GERD menjadi salah satu gangguan saluran cerna yang banyak ditemukan di Indonesia. Berdasarkan Konsensus Nasional Penatalaksanaan Penyakit GERD Indonesia 2022, prevalensi GERD pada populasi umum diperkirakan mencapai 9,35 persen.
Data tersebut menjadi perhatian karena sebagian pasien GERD juga mengalami kerusakan pada lapisan esofagus.
Data dari rumah sakit rujukan tingkat tersier menunjukkan 55,4 persen pasien GERD mengalami esofagitis erosif.
Baca Juga: Pemprov NTB Raih Tiga Apresiasi Kemendagri, Jadi Bukti Kebijakan Publik Makin Berdampak
Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI), Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, MMB, Sp.PD, K-GEH, FACG, FACP, mengatakan kondisi tersebut membutuhkan strategi terapi yang didukung bukti klinis, termasuk data dari pasien Indonesia.
“Indonesia memiliki proporsi pasien GERD dengan esofagitis erosif yang cukup tinggi. Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan klinis terhadap terapi generasi baru yang mampu memberikan supresi asam secara cepat dan kuat sejak awal pengobatan,” ujar Prof. Ari yang juga profesor di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo.
Menurut dia, data klinis dalam negeri memiliki nilai penting dalam penyusunan strategi terapi GERD. Bukti tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menyesuaikan pendekatan pengobatan dengan karakteristik pasien dan kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia.
Pengalaman penggunaan P-CAB di Korea Selatan juga dibahas dalam simposium tersebut. Prof. Ahn Ji Yong, Professor of Gastroenterology di Asan Medical Center dan University of Ulsan College of Medicine, menyebut terapi P-CAB terus berkembang di Korea Selatan untuk menjawab kebutuhan klinis yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh terapi proton pump inhibitor (PPI).
Baca Juga: Perubahan APBD NTB 2026 Disepakati, Layanan Publik Dijaga di Tengah Tekanan Fiskal
“Di Korea Selatan, terapi P-CAB telah digunakan secara bertahap sehingga pengalaman klinis penggunaannya terus bertambah,” jelas Prof. Ahn.
Dalam studi fase 3 yang melibatkan 263 pasien Korea Selatan dengan esofagitis erosif, fexuprazan dilaporkan menghasilkan tingkat penyembuhan berdasarkan pemeriksaan endoskopi sebesar 99,1 persen pada minggu kedelapan.
Sementara itu, data IQVIA mencatat pasar obat antiulkus di Indonesia mencapai sekitar Rp2,55 triliun atau USD164,3 juta pada 2025, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 6 persen.
Baca Juga: Potensi Rumput Laut Sargassum Ekas Belum Tergarap Maksimal
Brand and Marketing Manager PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia, dr. Wicak Prasetiadi, mengatakan kehadiran fexuprazan diharapkan menambah pilihan terapi bagi pasien GERD di Indonesia.
“Kami berharap kehadiran fexuprazan dapat menjadi salah satu pendorong perkembangan tata laksana GERD di Indonesia,” ujar Wicak.
Simposium IDDW 2026 juga menjadi forum bagi tenaga medis dari Indonesia dan Korea Selatan untuk membahas perkembangan terapi GERD serta pengalaman klinis penggunaan P-CAB. (***)
Editor : Alfian Yusni