lombokpost - Dua residen Ilmu Bedah FKIK, dr Rosfi F Huzaima dan dr Ewaldo A Hadi Universitas Mataram mendapat kesempatan mengikuti academic-professional exchange selama tiga minggu di Amphia Hospital, Breda, Belanda.
Mereka mengamati 22 prosedur bedah, termasuk 10 prosedur robotic surgery, enam laparoscopic surgery, dan enam open surgery.
“Kami ingin membawa pulang bukan hanya pengetahuan tentang teknik operasi, tetapi juga semangat untuk berbagi ilmu, memperkuat pendidikan, meningkatkan komunikasi dengan pasien, dan terus membawa pengalaman ini ke lingkungan pelayanan kesehatan di NTB,” kata dr Rosfi F Huzaima.
Baca Juga: Cegah Merariq Kodeq, FKIK Unram Edukasi Siswa SMAN 1 Sekotong
Keduanya merupakan residen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Ilmu Bedah FKIK Universitas Mataram.
Selama berada di Amphia Hospital, mereka mengobservasi berbagai prosedur dan kasus, mulai dari insisional hernia, kolesistektomi, sigmoidectomy, hepatectomy hingga kasus di bidang hepato-pancreato-biliary (HPB) surgery.
"Salah satu pengalaman yang menjadi perhatian adalah penerapan robotic surgery dalam pelayanan klinis," ujar dr Ewaldo A Hadi.
Baca Juga: 15 Pendaftar, 3 Lolos PPDS Jantung dan Pembuluh Darah FKIK Unram
Teknologi tersebut memberi gambaran mengenai bagaimana perkembangan perangkat bedah dipadukan dengan sistem pelayanan yang terstruktur dan tetap berorientasi pada keselamatan pasien.
Bagi kedua residen tersebut, pengalaman di Belanda juga memperlihatkan bahwa perkembangan teknologi harus berjalan bersama kemampuan klinis seorang surgeon.
Pengambilan keputusan, keterampilan bedah, kerja tim, serta pelayanan yang berpusat pada pasien tetap menjadi bagian penting dalam praktik.
Baca Juga: Guru SMPN 1 Lembar Jalani Skrining Jantung, FKIK Unram Deteksi Risiko PJK Sejak Dini
Suasana di Amphia Hospital memberi pengalaman berbeda bagi keduanya. Rumah sakit tersebut dinilai memiliki lingkungan kerja yang tenang, terorganisasi, dan terstruktur. Namun, kondisi itu tidak mengurangi aktivitas akademik di dalamnya.
Diskusi kasus berlangsung tidak hanya di ruang operasi. Pertanyaan dan pendapat dibahas secara terbuka sehingga proses belajar berjalan bersama antara dokter, konsultan, dan peserta pendidikan.
Selama program, Rosfi dan Ewaldo juga berkesempatan berdiskusi dengan sejumlah consultant, di antaranya dr Paul Gobardhan, dr Jennifer MJ Schreinemakers, George P van der Schelling, dan dr N Ayez yang merupakan consultant pada bidang gastro-intestinale en oncologische chirurgie.
Baca Juga: FKIK Unram Kukuhkan 92 Dokter Baru, Siap Mengabdi hingga Daerah 3T
Program tersebut turut didukung dr Paul Gobardhan dan dr.Tjay dari Indonesian Diaspora Global Network (IDGN) sebagai program coordinator.
Dari Indonesia, pengembangan akademik dan profesional dalam perjalanan tersebut juga mendapat dukungan dr Arif Zuhan dan Prof Hamsu Kadriyan sebagai mentor.
Pengalaman tiga minggu di Breda kemudian tidak hanya memperluas wawasan mengenai robotic surgery dan teknik bedah lainnya. Rosfi dan Ewaldo juga memberi perhatian pada aspek komunikasi antara dokter dan pasien.
Baca Juga: Dukung Asta Cita Presiden Prabowo, LDII NTB dan FKIK Unram Gelar Skrining Kesehatan Gratis
Mereka melihat patient education sebagai bagian penting dari surgical care. Pasien tidak hanya membutuhkan tindakan medis, tetapi juga penjelasan mengenai kondisi yang dialami, pilihan penanganan, serta proses pengambilan keputusan.
Bagi lingkungan pendidikan bedah di FKIK Universitas Mataram, pengalaman tersebut juga membuka ruang untuk memperkuat jejaring akademik dengan institusi dan tenaga medis di luar negeri.
Pertukaran pengalaman antara residen dan staf bedah menjadi salah satu bagian yang dapat dikembangkan dari program tersebut.
Selama berada di Amphia Hospital, total 22 prosedur bedah diamati. Rinciannya terdiri atas 10 robotic surgery, enam laparoscopic surgery, dan enam open surgery, dengan kasus yang mencakup bidang bedah umum hingga HPB surgery. (***)
Editor : Alfian Yusni