Menjawab tantangan tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Mataram menggelar program pemberdayaan kader kesehatan bertajuk “Pemberdayaan Kader Siaga Kanker: Edukasi, Pencegahan, Deteksi, dan Penanganan Awal untuk Masyarakat Sehat” di Desa Bonjeruk, Kabupaten Lombok Tengah.
Kegiatan ini dipimpin oleh Lale Wisnu Andrayani, M.Kep, selaku Ketua Tim Pengabdian, dengan beranggotakan tiga dosen keperawatan lainnya: Ni Putu Sumartini, M.Kep, Theresia Avila Kurnia, M.Kep, dan Chandra Irawan, M.Tr.Kep.
Baca Juga: Dikes Kota Mataram-Poltekes Teken MoU, Perkuat Pendidikan dan Layanan Kesehatan
Hingga saat ini, kanker masih menjadi salah satu ancaman kesehatan utama di Indonesia. Sebagian besar pasien baru mendatangi fasilitas kesehatan ketika keluhan sudah dirasakan dalam waktu lama atau penyakit telah memasuki stadium lanjut. Situasi ini menegaskan pentingnya memperkuat upaya pencegahan, pengenalan tanda dan gejala sejak dini, serta keberanian masyarakat untuk memeriksakan diri.
Upaya pengendalian kanker tidak bisa hanya bertumpu pada pelayanan rujukan di rumah sakit atau pemeriksaan di puskesmas semata. Masyarakat membutuhkan sosok edukator lokal yang mampu menyampaikan informasi medis dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.
Dalam konteks inilah kader kesehatan memegang peran strategis. Sebagai warga setempat yang hidup di tengah masyarakat dan memahami kondisi sosial setempat, kader sering kali menjadi rujukan pertama warga saat menghadapi berbagai persoalan kesehatan.
Baca Juga: Dikes Mataram Kejar Target Cek Kesehatan Gratis
Pelatihan ini diikuti oleh 26 orang kader kesehatan Desa Bonjeruk. Berbeda dari penyuluhan satu arah pada umumnya, pelatihan dirancang interaktif dan aplikatif melalui serangkaian metode: penyampaian materi, diskusi interaktif, pemanfaatan modul panduan, demonstrasi, hingga praktik langsung.
Materi yang dibekalkan meliputi Pengertian dasar dan jenis-jenis kanker, Faktor risiko dan langkah-langkah pencegahan, Pengenalan tanda serta gejala awal kanker, Pentingnya pemeriksaan dan deteksi dini, Penanganan awal sesuai batas kewenangan kader, serta Alur pendampingan dan rujukan bagi warga yang memiliki keluhan atau faktor risiko.
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI). Kader diberikan demonstrasi cara melakukan SADARI menggunakan phantom (manekin) payudara, kemudian diminta mempraktikkan kembali langkah-langkahnya secara mandiri di bawah bimbingan tim instruktur. Metode ini terbukti membangun kepercayaan diri kader sebelum nantinya mengedukasi warga.
Hasil evaluasi pra dan pasca-kegiatan menunjukkan peningkatan kapasitas yang signifikan di seluruh aspek penilaian:
1. Tingkat Pengetahuan
Sebelum Edukasi: 100% kader (26 orang) berada pada kategori pengetahuan kurang terkait pencegahan, deteksi dini, dan penanganan awal kanker.
Setelah Edukasi: 100% kader (26 orang) berhasil mencapai kategori pengetahuan baik.
2. Sikap dan Keterampilan
Sikap: Pada akhir kegiatan, 100% kader menunjukkan sikap positif dan mendukung penuh upaya deteksi dini serta pencegahan kanker di wilayahnya.
Keterampilan: Tidak ada lagi kader yang berada pada kategori keterampilan kurang. Mayoritas peserta berhasil menguasai praktik teknis dengan kategori baik.
3. Sejumlah 26 Kader Siaga Kanker yang telah dilatih melakukan edukasi dan screening tahap 1 kepada masyarakat, masing-masing kader membina 5 orang masyarakat sehingga didapatkan 130 orang masyarakat yang telah teredukasi dan satu diantaranya dirujuk ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer yaitu Puskesmas Bonjeruk dikarenakan membutuhkan pemeriksaan lanjutan terkait hasil screening mandiri.
"Kesimpulan hasil kegiatan, dari jumlah peserta yakni 26 Kader, sebelum dilakukan edukasi memiliki tingkat pengetahuan 100% kategori kurang, namun setelah edukasi seluruh peserta memiliki tingkat pengetahuan 100% kategori baik, sikapnya terhadap deteksi dini 100% sikap positif dan keterampilan peserta mayoritas baik," jelas Lale Wisnu Andrayani, M.Kep, selaku Ketua Tim Pengabdian.
Peningkatan nilai evaluasi hanyalah langkah awal. Dampak sesungguhnya terletak pada bagaimana kader mengaplikasikan ilmu tersebut di lapangan. Usai pelatihan, Kader Siaga Kanker diharapkan bergerak menyebarkan informasi hidup sehat, mendorong deteksi dini, dan menghilangkan rasa takut atau enggan pada masyarakat untuk memeriksakan diri.
Penting untuk dicatat bahwa kader tidak bertugas menentukan diagnosis medis. Peran utama kader dibatasi pada: memberikan informasi kesehatan yang benar dan berbasis bukti, meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan masyarakat, memotivasi warga untuk mau melakukan pemeriksaan rutin, serta menjadi penghubung yang mengarahkan warga berisiko ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Kader juga dibekali dengan cara melakukan screening sederhana menggunakan Format Deteksi Dini Kanker yang dapat dilakukan secara mandiri oleh masyarakat.
Pesan-pesan edukasi ini nantinya disisipkan secara berkelanjutan dalam berbagai kegiatan rutin desa yang sudah berjalan, seperti Posyandu, Posbindu, pengajian, pertemuan kelompok perempuan, hingga obrolan santai antarwilayah tetangga.
Keberhasilan pelaksanaan program di Desa Bonjeruk tidak terlepas dari sinergi dengan Pemerintah Desa Bonjeruk dan perangkat setempat.
Dukungan nyata ditunjukkan oleh Kepala Desa Bonjeruk Lalu Audia Rahman yang memfasilitasi tempat pelaksanaan, mengkoordinasikan kehadiran peserta, serta menyediakan sarana penunjang demonstrasi.
Untuk menjaga keberlanjutan (sustainability) program Kader Siaga Kanker, beberapa langkah strategis ke depan yang direkomendasikan, yakni pertama pendampingan berkala dan pembaruan materi (refresher course) oleh tenaga kesehatan Puskesmas.
Kedua, integrasi kegiatan Kader Siaga Kanker ke dalam alokasi program kesehatan desa. Dan ketiga, pencatatan dan pemantauan sederhana terkait jumlah keluarga yang telah tersosialisasi, inventarisasi pertanyaan warga, serta rekapitulasi jumlah rujukan warga ke fasilitas kesehatan.
Melalui pembentukan Kader Siaga Kanker, Desa Bonjeruk kini memiliki fondasi kuat dalam membangun masyarakat yang lebih tanggap terhadap ancaman kanker. Kombinasi metode edukasi berbasis praktik terbukti efektif menumbuhkan agen-agen perubahan di tingkat desa.
Dalam penanganan kanker, waktu adalah kunci. Semakin cepat risiko dikenali dan tanda-tanda awal dideteksi, semakin besar peluang penanganan medis dapat dilakukan secara optimal.
“Mencegah lebih baik, mendeteksi lebih dini lebih berarti. Kader bergerak, masyarakat semakin tanggap terhadap kanker," himbau Lale Wisnu Andrayani.
Editor : Siti Aeny MaryamSumber : Liputan