Dedi Shopan Shopian, Lombok Tengah
Talk, nama tempat tongkrongan ini baru dibuka beberapa hari lalu. Lokasinya dekat SPBU Tampar-ampar atau taman Biau Praya. Nama Talk sendiri diartikan sebagai tempat untuk berbincang-bincang atau tempat tongkrongan.
Yang membedakannya dengan tempat tongkrongan atau kafe lain pada umumnya. Di Talk selalu diramaikan para pelajar sekolah dan mahasiswa. Mereka biasanya berkunjung usai pulang sekolah. Di tempat itu, mereka mengerjakan tugas sekolah sembari menikmati menu-menu yang ada.
Mereka pun dimanjakan dengan jaringan internet gratis. Belum lagi sarana dan prasarana pendukung lainnya. Ditambah parkir yang luas, ada musala dan kamar mandi membuat Talk semakin diminati kalangan muda. Bahkan kalangan tua.
Ownernya Cahyu Riestya Vinanda. Gadis cantik dan manis kelahiran 1 April 1998 tersebut sukses membuka peluang usaha. Di wilayah bagian timur Praya, Talk menjadi satu-satunya tempat tongkrongan. Kalau sudah seperti itu, maka Praya bagian timur terlihat hidup.
Karena selama ini, di wilayah tersebut sepi dan gelap. Beda halnya wilayah Praya bagian tengah, barat, utara dan selatan. Berdiri kafe-kafe hingga rumah makan. Sehingga tetap ramai. Talk buka setiap hari dari pukul 11.00-23.00 Wita.
“Kami juga menyediakan live music. Itu hanya tersedia malam Kamis dan malam Minggu,” ujar Riestya yang merupakan lulusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota ITN Malang, Jawa Timur tersebut.
Menu spesial di Talk yakni, aneka pilihan kopi. Ada 20 jenis varian kopi yang disiapkan di tempat itu. Harganya pun terjangkau. Apa saja jenis-jenis kopi yang dimaksud, dipersilakan datang langsung mencoba. Yang pasti, tidak ditemukan di tempat lain. Kecuali di Talk.
“Semoga yang lain mengikuti. Sehingga wilayah Praya bagian timur maju,” harapnya.
Lahan yang digunakan Talk sendiri merupakan aset pemkab. Lahan itu awalnya telantar, tidak menghasilkan apa-apa untuk daerah. Begitu kehadiran Talk, maka sedikit tidaknya mampu menyumbang pendapatan asli daerah (PAD).
Baik yang bersumber dari sewa lahan, pajak hiburan hingga retribusi parkir. Selain itu, membuka peluang pekerjaan baru bagi warga lokal. Dalam pelayanannya, mereka tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan berlapis. Wajib pakai masker dan mengatur jarak duduk, dan berdiri. (*/r5)
Editor : Administrator