Ritual yang melibatkan sekitar 70 Warga Lingkungan Negarasakah Utara dan Lingkungan Sweta Cakranegara diadakan Rabu (2/3) di Bundaran Patung Tani Jalan Selaparang Cakranegara mulai pukul 17.30 Wita.
Perang api dilakukan menggunakan daun kelapa kering (bobok) yang dibakar. Perang api dilakukan oleh warga kedua lingkungan dengan saling menyerang dan memukul lawan menggunakan bobok yang sudah menyala.
Perang api yang berjalan sekitar 15 menit di tonton ratusan warga. Pengamanan juga dilakukan pihak kepolisian, TNI, dan Satpol PP.
Lurah Cakranegara Timur I Gusti Agung Ngurah Oka mengatakan, dari cerita para sesepuh, baik yang ada di Lingkungan Negarasakah maupun Sweta, ritual ini sudah berlangsung ratusan tahun pada zaman kerajaan yang terjadi perang dan menimbulkan musibah (gerubuk) yang saat itu banyak warga meninggal. Kemudian secara spiritual dimohonkan petunjuk ke orang-orang suci dan ke Ida Sang Hyang Widhi Wasa maka kedua wilayah ini mengadakan pembersihan (pacuruan) wilayah.
Dari itu munculah ide dari kedua wilayah untuk melakukan perang api. “Setelah perang api dilakukan gerubuk tidak terjadi lagi,” tutur Oka.
Kasi Operasional dan Ketertiban Umum Satpol PP Kota Mataram I Made Agus Jewe mengatakan, anggota Satpol PP bersama kepolisian dan TNI melakukan pengawasan ritual perang api karena dimasa pandemi Covid-19. Tak hanya itu, pihak kelurahan Mayura dan Cakra Timur juga melakukan pengawasan ritual setiap tahun jelang Nyepi. Dia sudah meminta ritual ini untuk menerapkan prokes.
Waktu ritual perang api yang awalnya 15 menit dipersingkat mejnadi 10 menit. “Ritual ini juga untuk menolak bala, termasuk wabah Covid-19,” katanya.
Dia menambahkan, pandemi Covid-19 masih merebak. Sehingga ada kekhawatiran pada ritual perang api menjadi wadah penyebaran Covi-19. Namun apa yang dikhawatirkan tidak terjadi. Karena Umat Hindu melaksanakan ritual ini memiliki niat untuk mengusir berbagai musibah yang akan terjadi, termasuk wabah Covid-19. (jay/r3)
Editor : Administrator