HAMDANI WATHONI, Mataram
Panggung Taman Sangkareang Minggu kemarin (21/8) cukup ramai. Sejumlah orang terlihat berkumpul di di atas panggung ini. Ada beberapa yang tengah sibuk mempersiapkan onderdil kendaraan mobilnya untuk balapan. Ya, balapan.
Tetapi bukan balapan mobil sungguhan. Ini adalah balapan mobil mini 4 Wheel Drive (4WD) atau yang lebih akrab disebut tamiya. Mobil ini kemarin dilombakan untuk adu cepat di lintasan buatan yang ada di panggung Taman Sangkareang.
Mobil tamiya ini ternyata masih banyak disukai tidak hanya anak-anak tetapi justru orang dewasa di Kota Mataram. Lantaran, ini adalah mobil yang memiliki kecepatan cukup tinggi dengan bentuk miniatur seperti kendaraan Formula 1. Meski secara spesifik bentuknya berbeda, tetapi lebih condong meniru kendaraan jet darat tersebut.
Di Kota Mataram pehobi mobil tamiya ternyata cukup banyak. Ini alasannya Pemkot Mataram menggelar lomba balapan ini sebagai salah satu rangkaian HUT Kota Mataram ke-29.
Rizal, salah satu pencinta mobil tamiya asal Ampenan mengaku baginya ini adalah hobi yang sangat menyenangkan. Sama seperti hobi lain yang digeluti masyarakat pada umumnya. “Dari kecil sampai sekarang sudah punya anak hobinya memang ini. Tetapi anak saya sekarang nggak suka. Cuma saya yang senang,” ungkapnya.
Rizal menilai tamiya lebih dari sekadar mainan. Karena mobil ini bisa dirakit layaknya mobil sungguhan. Hasil rakitan pemiliknya pun bisa menentukan kecepatan mobil saat berpacu di lintasan buatan yang disiapkan. Rizal menuturkan mereka yang hobi tamiya tidak hanya sekadar senang balapan. Tetapi juga butuh strategi dan teknik dalam merakit mobil agar tetap seimbang.
“Karena kalau terlalu kencang mobil juga bisa melayang keluar lintasan. Tertutama saat berbelok atau naik tanjakan. Jadi harus atur strategi dan pintar merakit komponennya,” papar pria yang mengaku sudah puluhan tahun senang dengan mobil tamiya ini.
Dengan hobi yang berbeda dari orang pada umumnya, Rizal mengaku tetap mendapatkan dukungan dari istrinya. Tapi kadang-kadang ia juga mengaku dimarahi. “Soalnya kadang kalau main atau lomba itu seharian dari pagi sampai malam,” tuturnya tertawa.
Senada dengan Rizal, Viki juga mengungkapkan tamiya menjadi salah satu bagian hidupnya. Hobi yang disukainya sejak SD tersebut masih ia nikmati sampai saat ini. Ia bahkan harus rela merogoh kocek jutaan rupiah untuk merakit mobil tersebut agar sesuai dengan apa yang diinginkan.
“Butuh biaya sekitar Rp 5 juta. Karena harus siapkan dinamo, roda, baterai dan komponen yang lainnya,” ungkap Viki sambil sibuk menyiapkan spare part mobilnya layaknya tukang servis bengkel.
Untuk memaksimalkan kecepatan dan kesimbangan kendaraan di lintasan, butuh spare part yang sesuai. Misalnya dinamo ultra yang memiliki putaran mesin tertentu hingga baterai dan komponen pendukung lainnya.
Viki menuturkan mobil tanpa remot ini dibanderol dengan harga kisaran Rp 250 ribu hingga jutaan. Tergantung kondisi mobil tersebut. Itu di luar spare part atau komponen mobil yang diinginkan.
Bagian yang paling menarik dari balapan tamiya menurut para pehobi mobil ini bukanlah seberapa cepat kendaraannya melaju di lintasan, tetapi ketika meramu atau merakit sendiri agar mobil menjadi yang tercepat. Ada kepuasan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata ketika mobil milik mereka juara.
“Kami pikir ini hobi yang positif karena bisa membuat penghobi tamiya ini bersilaturahmi dengan sesama penghobi lainnya. Dari pada kita senang dengan hobi yang negatif, jadi tidak ada salahnya,” ujar para pencinta mobil tamiya kepada Lombok Post. (*/r3) Editor : Administrator