----
Tokoh adat Kelurahan Denggen, Kecamatan Selong Lalu Slamet memimpin sebuah ritual penyembelihan ayam. Darah segar beberapa ekor ayam kampung yang sembelih saat itu ditampung menggunakan daun bambu. Daun-daun bambu yang terkena tetesan darah ayam segar itu nantinya akan ditaruh di sekitar area tanaman padi para petani.
“Hama padi di sawah tertarik pada bau amis darah ayam. Dengan begitu yang dikerubungi bukan padi yang sedang berbuah,” kata Lalu Slamet merasionalisasikan salah satu bagian dari tradisi Slamet Dowong yang digelar setiap tahun di Kelurahan Denggen, Kecamatan Selong.
Seperti namanya, Selamet Dowong merupakan kegiatan doa bersama warga dengan harapan hasil panen yang melimpah. Tradisi ini digelar setiap tahun pada musim tanam padi.
Selamet Dowong digelar selama empat hari. Hari pertama diawali dengan kegiatan gotong royong membersihkan pemakaman umum. Hari Jumat dipilih sebagai waktu yang tepat untuk melaksanakan gotong royong.
Tahapan selanjutnya adalah penyembelihan ayam yang sebelumnya dijelaskan. Lalu ayam yang telah dipotong dimasak untuk disajikan kepada warga pada puncak acara doa bersama di hari Senin. Lalu Slamet menerangkan, hari Senin dipilih karena hari itu merupakan hari kelahiran baginda nabi.
Ia menuturkan, permohonan warga pada Yang Maha Kuasa menjadi bentuk spirit atau semangat untuk bertani dengan baik. Sehingga hasil panen akan baik karena keyakinan yang tertanam pada diri warga.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Haryadi Suranggana yang hadir dalam kegiatan tersebut berharap tradisi warga semacam itu dapat terus bertahan. “Tentu pemerintah berharap akan ada regenerasi dalam menjaga budaya warisan leluhur ini. Sehingga dapat terus terlaksana setiap tahunnya,” kata Haryadi.
Ia juga meyakini, keyakinan masyarakat akan harapan yang dipanjatkan pada Allah SWT itu mendatangkan spirit sehingga umumnya hasil panen mereka selalu lebih besar dari tahun sebelumnya. “Jika hasil panen bertambah, maka ketahanan pangan kita juga tetap terjaga,” tutur mantan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lotim itu. (fatih/r5) Editor : Rury Anjas Andita