ALI ROJAI, Mataram
SEKITAR pukul 10.00 Wita SMKN 5 Mataram sekilas terlihat sepi dari luar. Tidak ada satupun siswa yang terlihat diluar. Mereka (siswa) melaksanakan proses belajar mengajar didalam kelas.
Di sisi lain, beberapa orang guru terlihat berlalu lalang di pintu masuk utama sekolah. Ada yang kedalam, ada juga yang keluar. Pintu ruang pameran sebelah barat waktu itu terbuka lebar. Tidak seperti biasanya. Ruangan ini kerap tertutup jika tidak ada kegiatan siswa ataupun guru. Namun waktu itu nampak sejumlah turis terlihat membatik. Mereka terlihat asyik mencelupkan tinta ke kain yang ada di depannya.
Turis yang belajar membatik merupakan mahasiswi dari berbagai universitas di Belanda. Mereka datang jauh-jauh untuk belajar membatik. “Sebelum balik ke Belanda kita membatik dulu,” kata Gertje, seorang mahasiwsi dari Belanda ini.
Belajar membatik menjadi kegiatan yang akan dilakukan di pulau seribu masjid. Tak hanya membatik, namun belajar membuat keramik juga menjadi tujuan datang di sekolah ini. “Asyik, seru,” katanya sembari tertawa.
Para mahasiswi terlihat begitu serius. Pendangannya terus ke kain yang ada didepannya. Tangannya yang memegang kuas sesekali dicelupkan di wadah tinta yang disiapkan. Bahkan tinta juga mengenai tangan mahasiswi. “Cuma sehari di sini, besok langsung pulang,” terangnya.
Tak hanya membatik dan keramik, namun Gertje dan kawan-kawan juga akan diajak menikmati kuliner khas Sasak. “Kita akan diajak makan siang di lesehan, habis itu balik belajar keramik,” ucapnya.
Kepala SMKN 5 Mataram H Istiqlal mengatakan, kedatangan sejumlah mahasiswai Belanda ke sekolah yang dinahkodainya tidak lepas dari promosi yang dilakukan. Bahkan ia kerap meminta bantuan teman-temannya di negara Eropa untuk memprmosikan sekolah yang menjadi Badan Layanan Usaha Derah (BLUD) sebagai sarana edukasi wisata. “Kebetulan ada temen dari Belanda yang bawa mahasiswi ini ke sini (sekolah),” ucapnya.
Kadatangan mahasiswi kincir angin untuk belajar membatik dan keramik. Sebagian besar mahasiswi yang masih muda sudah berwisata di Lombok. “Belajar membatik dan keramik kegiatan terakhir di Lombok,” terangnya.
Tak hanya mahasiswi belanda, namun pada Jul sekolah ini akan kedatangan puluhan siswa dari Singapura. Mereka akan belajar membatik dan keramik. Dia menyebutkan, sebagai sekolah yang resmi menjadi BLUD ia akan terus melakukan terobosan. Kedepan ia akan membangun sejumlah sarana olahraga dan bermain untuk disewakan. “Rencananya kita akan bangun lapangan futsal dan kolam renang,” pungkasnya. (*/r3)
Editor : Administrator