HAMDANI WATHONI, Mataram
Hartatik salah satu lansia di Lingkungan Majeluk begitu ceria. Ia Bersemangat dengan raut wajah riang gembira berinteraksi dengan sesamanya. Para lansia ini begitu aktif kala wartawan Lombok Post meyambangi mereka saat mengikuti sekolah lansia beberapa waktu lalu.
"Kami semangat karena dengan adanya program sekolah lansia, kami akhirnya punya kegiatan positif," ujar Hartatik.
Lansia yang awalnya tidak bisa keluar rumah karena mengurus anak cucu kini punya semangat baru. Dengan adanya forum lansia ini, mereka punya motivasi lebih untuk terus bersemangat agar tetap produktif. Lansia sekarang bukan hanya dianggap sebagai beban tetapi juga bisa menghasilkan karya di sela-sela waktu senggang mereka.
"Makanya kalau ada kegiatan, para lansia di lingkungan kami semangat datang," tutur Hartatik.
Terutama ketika ada praktek, semua datang dengan penuh sukacita. Mereka melatih gerak motorik dan daya pikir yang memang sudah mulai mengalami penurunan. Akan tetapi dengan latihan yang rutin namun ringan, kemampuan para lansia ini sebenarnya tak terlalu banyak menurun. Mereka bisa membuat aneka kerajinan hingga olahan pangan.
"Jadi nggak kaku dan monoton aktivitasnya. Masa lansia masih bisa bermanfaat," syukur Hartatik.
Para lansia Lingkungan Majeluk dibina memanfaatkan pekarangan rumah masing-masing. Ada yang menanam kunyit, okra, kelor dan aneka tanaman pangan produktif lainnya.
Dengan memanfaatkan hasil pekarangan itu juga, para lansia ini tetap produktif. "Kami buat produk kopi okra campur dengan beras merah dan jahe merah yang kami sebut kopi kobra," ucap Hartatik tersenyum.
Ada juga olahan pangan keripik bayam Brazil dan yang lainnya. Aneka produk olahan ini dijual dengan harga terjangkau mulai Rp 15 ribu dan yang lainnya. "Ada juga pembelinya dari luar daerah. Karena produk kami perlahan sudah cukup dikenal. Ada yang dari Jogja, Kalimantan yang beli," tuturnya.
Ketika permintaan cukup banyak, maka okra ini didatangkan kelompok lansia produktif Lingkungan Majeluk dari Bima. Itu kemudian diolah menjadi Kopi Kobra Mataram. "Kelompok kami yang sudah terdaftar 36 orang. Dulu namanya Kelompok Wijaya Kesuma," ujar perempuan yang mengaku berusia 72 tahun itu.(*) Editor : Administrator