--------------------
Usai diguyur rintisan hujan pagi itu, Sinardi bergegas menuju lahan tembakau yang disewanya Rp 10 juta per are di Dusun Serewa, Desa Pejanggik, Kecamatan Praya Tengah, Loteng. Bermodalkan karung, baju dan celana panjang, tak lupa topi berwarna abu pun dikenakannya.
Tanpa sarung tangan pelindung, Sunardi mulai memetik daun tembakau yang berada paling bawah pada lahan seluas satu hektare itu menggunakan tangannya. Tembakau yang merupakan tanaman musim kemarau mengalami layu hingga busuk. Hal itu menjadikannya terancam gagal panen, termasuk tembakau miliki Sunardi.
Terlihat daun-daunnya sudah menguning kecokelatan hingga ke tanah. Sedangkan daun-daun bagian atas hingga batang pohon pun layu akibat kebanyakan mendapat asupan air hujan.
"Dari kemarin hujan, pagi tadi juga membuat daun-daunnya layu. Jika tidak kita panen, pohonnya akan mati," ucapnya sembari menunjukkan beberapa batang pohon dan daun yang kering, kemarin (14/7).
Bila dibiarkan daun mengering di pohonnya, jangankan untung justru akan rugi total. Sebab daun yang kering tidak bisa diolah. Baik dengan cara di oven maupun di rajang.
"Kondisi yang seperti ini hanya bisa dirajang, tidak bisa kita oven karena masaknya tidak bagus hasilnya hitam, harga pun jatuh," beber bapak beranak satu ini.
Dipilihnya merajang daun tembakau, lantaran tidak memerlukan bahan bakar berupa kayu lebih banyak. Cukup dijemur saat kondisi cuaca kembali panas. "Meminimalisir kerugian dan modal berikutnya," imbuh pria asal Desa Ganti itu.
Sinardi mengatakan, kondisi cuaca tak menentu ini adalah kali kedua yang dialami. Namun jika dibandingkan tahun lalu, masih lebih baik kerugian yang dialami.
"Yang sekarang kemungkinan rugi 50 persen, walau belum bisa menutupi modal," katanya.
Dampak yang sudah dirasakan saat ini membuat petani sepertinya hanya bisa pasrah. Ia menjelaskan, jika hujan terus berlanjut, persentase gagal panen total akan meningkat. Kemungkinan juga bagian yang bisa dipanen saat cuaca kembali normal hanya sedikit.
Air yang banyak diserap tembakau saat terkena panas yang tinggi akan membuat tanaman tembakau rentan layu seperti sehabis direbus dan akhirnya menguning. "Statusnya sudah terancam saat ini, meskipun cuaca kembali membaik nantinya, dampak kerugian masih ada," ungkap Sinardi. (ewi/r5) Editor : Rury Anjas Andita