Tren skincare dan perawatan kecantikan kini menjelma menjadi gaya hidup wajib bagi kaum hawa.
Klinik kecantikan pun menjamur, memenuhi setiap sudut kota.
BUKAN lagi sekadar tren, skincare kini menjadi kebutuhan sehari-hari bagi hampir semua wanita.
Mulai dari remaja hingga ibu rumah tangga, semua berlomba memiliki wajah glowing dan sehat.
Peluang ini ditangkap banyak pelaku usaha yang mendirikan toko skincare hingga klinik kecantikan, membuat bisnis perawatan kulit tumbuh pesat bak jamur di musim hujan.
Tak heran, antrean di klinik kecantikan kini menjadi pemandangan lumrah setiap akhir pekan.
skincareBaca Juga: 5 Rekomendasi Skincare Lokal NTB Berbahan Alami, Ada yang Jadi Favorit Wisatawan Asing
Salah satunya yang menangkap peluang ini Baiq Nadya Aisha Fitri Nazwin, pemilik toko skincare Justnad.
"Makin banyak, setiap jalan ada toko skincare bahkan di gang-gang. Sudah kayak Alfamart (ritel modern)," ujar Nadya.
Pergeseran signifikan dalam kesadaran akan perawatan kulit, terutama di kalangan usia muda, menjadi pemicu utama booming-nya usaha ini.
Bahkan kini, anak-anak sekolah dasar sudah mulai akrab dengan produk dasar seperti sunscreen. JustNad pun sering didatangi oleh anak SMP.
Perubahan ini sangat kontras dengan pengalamannya sendiri yang baru mengenal skincare setelah lulus SMA.
"Sekarang masyarakat mulai lebih aware atau sadar sejak dini, dari remaja, untuk menggunakan skincare. Mulai dari anak SD sudah menggunakan skincare, baik hanya sunscreen," jelas Nadya.
Ia menambahkan, di usianya yang kini berkepala tiga, ia melihat potensi besar dari kesadaran dini ini.
"Ini yang dilihat pebisnis untuk mencoba peluang membuka bisnis toko skincare."
Produk-produk yang laris manis di Justnad, sebuah drugstore yang hanya menjual produk BPOM atau dari distributor resmi, bervariasi sesuai segmen usia.
Kalau di kalangan remaja yang sedang hype saat ini seperti Glad2Glow. Kemudian di kalangan perempuan dewasa seperti Somethinc.
Meski setuju bahwa ada harga ada kualitas, Nadya menekankan bahwa faktor utama adalah kecocokan produk.
"Tergantung keluhan, tergantung jenis kulit. Skincare produk A yang cocok di mbak, belum tentu cocok di saya. Begitu sebaliknya. Dan cara tau cocok tidaknya itu, ya coba” jelasnya.
Pergeseran gaya hidup masyarakat yang menganggap skincare sebagai kebutuhan esensial kini sangat terasa. Nadya bahkan menyamakan rutinitas perawatan kulit dengan pola makan sehari-hari.
Baginya, skincare telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian, dilakukan rutin layaknya makan tiga kali sehari.
“Sehari makan tiga kali, begitu juga dengan skincare, tiga kali sehari penggunaannya. Menggunakan rutin sunscreen atau sekadar moisturizer,” ucapnya.
Namun, di balik narasi kebutuhan primer ini, Nadya juga mengamati bahwa persepsi kecantikan umumnya di Lombok masih didominasi oleh citra "putih dan mulus."
Hal ini secara langsung memengaruhi prioritas stok produk di JustNad, di mana produk pemutih lebih banyak tersedia dibandingkan pelembap.
“Jadi saya pasti lebihkan stok untuk produk whitening," ujarnya.
Dampak media sosial terhadap keputusan pembelian skincare tidak bisa dipungkiri.
Nadya mengakui bahwa penggunaan brand ambassador dari kalangan selebriti papan atas, seperti Prilly Latuconsina hingga Lee Min Ho, memicu fenomena FOMO (Fear of Missing Out) di kalangan konsumen.
Banyak pembeli yang sekadar mengikuti produk yang sedang tren atau viral.
"Sangat berpengaruh ya," papar Nadya.
Di tengah sengitnya persaingan, JustNad berupaya menonjol dengan strategi unik.
Nadya menyebutkan bahwa tokonya menawarkan pengalaman berbelanja yang berbeda, mulai dari atmosfer yang wangi hingga pelayanan yang ramah dan berpengetahuan tentang dasar-dasar skincare.
“Pembeli juga butuh tanya-tanya dengan apa yang akan mereka cari, beli, dan butuhkan," ujarnya.
Selain itu, Justnad juga menarik pembeli dengan diskon, voucher, dan harga yang dijamin lebih murah. “Walaupun selisih hanya seribu," imbuhnya.
Namun, di balik citra cerah industri skincare, Nadya mengungkapkan realitas yang lebih sulit.
Tantangan terbesar adalah margin keuntungan yang tidak besar, jauh dari yang dibayangkan.
Ia hanya mengambil keuntungan sebesar 10 persen dari setiap produk. Untuk sekadar mengisi rak toko, modal yang dibutuhkan sangat besar.
"Tantangannya keuntungan yang didapatkan tidak banyak, tidak semudah yang dibayangkan. Seperti awal saja, dengan modal Rp 40 juta, hanya dapat membeli dua kardus serum.
Itu baru 40 juta hanya mendapatkan segitu, apalagi untuk memenuhi rak skincare di toko tersebut,” kenangnya.
Nadya menyampaikan pesan penting bagi masyarakat Mataram di tengah euforia produk kecantikan. Ia menekankan perlunya kembali pada dasar perawatan kulit dan menghindari tren yang berlebihan. Karena menurutnya, akan ada ratusan jenis skincare tiap tahunnya yang akan bermunculan.
"Untuk yang belum aware dengan skincare, coba mulai gunakan basic skincare karena itu perlu, seperti sunscreen dan moisturizer. Perlu juga tidak mencoba segala merek atau jenis skincare. Kalau memang sudah cocok di satu skincare pakai yang itu saja. Jangan FOMO dengan produk baru,” pesannya.
Terpisah, Putry (25), salah satu pelanggan di salah satu toko skincare di Mataram, mengaku sangat terbantu dengan beragam pilihan produk dan pelayanan yang diberikan.
“Awalnya saya bingung mau pakai skincare apa, tapi setelah dijelaskan saya jadi lebih paham kebutuhan kulit saya," ujar Putry.
Putry mengungkapkan bahwa penggunaan skincare bukan lagi sekadar gaya-gayaan, melainkan kebutuhan penting untuk menjaga kesehatan dan penampilan kulit. Setelah rutin menggunakan produk yang direkomendasikan, ia merasakan perubahan signifikan pada kulitnya lebih membaik.
“Kuliit saya sensitif, mudah berjerawat, jadi saya direkomendasikan untuk menggunakan skincare dengan bahan menenangkan. Seperti Centella Asiatica (Cica), Aloe Vera, Chamomile, atau Allantoin,” tandasnya. (chi/r3)
Editor : Kimda Farida