LombokPost - SKINCARE dulunya identik dengan kaum hawa.
Tapi kini, kaum adam pun juga sudah banyak yang terlihat berdiri di depan cermin sambil menepuk toner ke wajah atau mengoleskan sunscreen sebelum berangkat kerja.
Fenomena cowok skincare-an makin marak, menandai pergeseran cara pandang terhadap perawatan diri.
Abdul Razi, 33 tahun, warga Kota Mataram menuturkan jika saat ini merawat kulit bukan lagi dianggap sebagai hal yang tabu.
Di Mataram sendiri, Razi yang dipercaya sebagai brand ambasador salah satu klinik kecantikan di Mataram menegaskan kalau perawatan kulit tidak lagi fokus pada gender.
Sudah banyak pria di Mataram yang sadar bahwa kulit adalah organ tubuh yang juga butuh perhatian.
Apalagi kulit pria punya karakteristik tersendiri, seperti lebih tebal, cenderung berminyak, dan pori-pori lebih besar.
“Menurut saya saat ini skincare-an sudah jadi hal biasa bagi cowok.
Terutama mereka yang bekerja outdoor. Dan faktanya, sekarang tidak sedikit cowok yang sadar akan pentingnya merawat kulit,” kata Razi pada Lombok Post, Jumat (27/6).
Ditanya lebih jauh mengenai alasan cowok mulai banyak yang merawat kulit, Razi menerangkan jika alasan tersebut beragam. Ada yang ingin tampil lebih percaya diri, ada juga yang ingin mengatasi jerawat bandel, atau sekadar ingin wajah tidak kusam saat bekerja. Terutama pekerja kantoran.
“Namun biasanya juga banyak saya temui karena ikut pasangannya. Jadi kalau istri atau pacarnya perawatan, biasanya ikut,” jelas Razi.
Meski banyak brand yang menawarkan produk khusus untuk pria, faktanya, produk skincare pada dasarnya unisex.
Kata Razi, yang terpenting adalah memilih produk yang cocok dengan jenis kulit, bukan berdasarkan label “for men” atau “for women”.
Ia mencotohkan, untuk kulit berminyak lebih disarankan menggunakan produk berbahan ringan dan bebas minyak.
Kulit kering disarankan menggunakan pelembap yang mengandung hyaluronic acid atau ceramide.
Sedangkan yang kulit sensitif, disarankan untuk menghindari produk yang berbahan aktif yang keras seperti alkohol atau parfum buatan.
Mulai dari Langkah Sederhana
Razi yang merupakan seorang pegawai bank menjelaskan jika biasanya cowok mulai melakukan perawatan yang standar.
Seperti dirinya, rutinitas sederhana sudah cukup dengan produk facial wash, pelembap, dan sunscreen.
“Tapi saya juga perawatan di klinik. Itu sekali sebulan. Normalnya satu kali dua minggu atau sebulan dua kali. Tapi saya satu kali sebulan saja,” jelasnya.
Memang ada juga cowok yang juga melakukan perawatan lebih spesifik seperti memakai toner atau serum.
Hal ini biasa untuk mengatasi bekas jerawat atau mencerahkan kulit.
Dari langkah sederhana, yang dibutuhkan adalah rajin atau konsisten.
Perawatan kulit membutuhkan waktu untuk dapat mencapai hasil yang maksimal.
Konsistensi jauh lebih penting daripada banyaknya produk.
Bukan Tanda Kurang Macho
Anggapan bahwa skincare bikin pria terlihat “kurang macho” memang masih ada di daerah atau kota-kota kecil seperti Mataram.
Kata Razi, di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, cowok skincare-an sudah menjadi hal biasa.
Justru hal itu menunjukkan bahwa mereka peduli dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
Apa yang disampaikan Razi sesuai dengan hasil sejumlah survei gaya hidup yang menunjukkan pria yang merawat diri dengan baik cenderung lebih percaya diri dan lebih disukai dalam lingkup profesional maupun sosial.
Tren ini menandakan perubahan cara pandang soal maskulinitas.
Merawat diri bukan berarti mengorbankan jati diri sebagai pria, tapi justru memperkuat citra sebagai sosok yang sehat, bersih, dan percaya diri.
“Kalau saya melihat, ke depan akan semakin banyak cowok yang peduli pada perawatan kulit khususnya wajah. Apalagi dengan bertambahnya banyaknya produk,” jelasnya. (tih/r3)
Editor : Siti Aeny Maryam