Tradisi memelihara tanaman hias untuk mempercantik lingkungan di sekitar rumah telah berlangsung sejak lama.
Bahkan jauh di masa kerajaan. Tradisi ini berlangsung hingga kini bahkan kian masif dengan menjamurnya penjual tanaman hias.
Di Mataram misalnya, aneka tanaman tropis sengaja ditanam untuk memperindah taman-taman kota.
Saat tiba di Mataram pada 17 Juli 1846 ahli Botani asal Swiss Heinrich Zollinger memberi sedikit gambaran mengenai bagaimana kondisi alam dan tata Kota Mataram yang ditata sedemikian rupa dengan aneka yg tumbuhan.
Catatan ini ia tulis dalam Reis Over de Einlanden Bali en Lombok.
Baca Juga: Indonesia Bisa Jadi Eksportir Besar Tanaman Hias di Dunia
Sepuluh tahun kemudian tepatnya pada tengah bulan Juni 1856, Naturalis Inggris Alfred Russel Wallace yang datang ke Lombok masih menyaksikan tata Kota Mataram yang memesona.
“Sisa-sisa keteraturan tersebut masih bisa terlihat kini dalam jalan-jalan Utama Kota Mataram,” kata Zulhakim, penggiat sejarah di Lombok Heritage (LHSS).
Selain itu, kehadiran Belanda membawa perubahan signifikan dalam tren bangunan dan hunian. Rumah-rumah dibangun dengan halaman dan taman yang terhampar luas. “Berkat Belanda kita kemudian mulai lebih familiar dengan taman-taman di depan rumah,” pungkasnya.
Ngeri-Ngeri Sedap
Di Kota Mataram, Putu Garden di Jalan Saleh Sungkar, Kelurahan Bintaro diklaim sebagai lapak tanaman hias paling lengkap seantero NTB. Tersedia aneka tanaman hias. Mulai tanaman kecil hingga pohon hias besar yang banyak diburu kolektor tajir. Biasanya tanaman hias ini ditanam sebagai mahkota taman di perumahan elite.
Memasuki halaman kebun, pengunjung langsung dimanjakan dengan hamparan tanaman. Area seluas 55 are itu disesaki bunga-bungaan hingga aneka pohon hias. Setiap tanaman tertata rapi di tempatnya.
Di bagian paling depan berjejer pohon-pohon hias. Ada pohon pule, baobab, kamboja gunung, pohon ancak hingga moringa atau kelor Afrika. Masing-masing menampilkan karakter batang pohon yang berbeda-beda. "Setiap tanaman ini punya pangsa pasar sendiri," kata pemilik stan Putu Didiet Pratama kepada Lombok Post, Rabu lalu (30/7).
Dia biasa menyebut lokasi itu sebagai lapak. Namanya "Putu Garden". Didiet berani mengklaim bahwa lapaknya merupakan stan penjualan tanaman hias terlengkap di NTB.
"Karena di sini ada tanaman kecil sampai yang besar-besar," ujarnya.
Harganya pun mulai kisaran ratusan ribu hingga ratusan juta. Yang paling mahal adalah jenis pohon hias. Salah satunya pohon pule. "Ini sudah ditawar Rp 120 juta. Tapi saya belum lepas," tutur Didiet.
Pohon Pule setinggi 8,5 meter itu berdiri menjulang. Lingkar batangnya mencapai 6 meter. Sehingga dibutuhkan 3-4 orang untuk bisa memeluk seluruh lapisan batang pohon.
Pohon pule dengan ukuran besar banyak diburu kolektor tajir. Mereka sengaja membeli pohon ini sebagai koleksi. Biasanya ditanam di taman depan rumah sebagai simbol atau mahkota di taman. "Ini dibeli kolektor-kolektor kaya. Hanya untuk pajangan saja," ujarnya.
Pantauan Lombok Post ada sekitar lima batang pohon pule dengan ukuran besar. Ada juga beberapa yang masih kecil. Karakternya yang unik terlihat dari lingkar batang yang besar dan fosil di batang pohon.
"Tiga hari lalu baru laku harga Rp 150 juta," ungkapnya.
Disampaikan, pohon pule banyak digemari kolektor. Sebab karakter pohonnya bagus untuk peneduh. Daunnya juga awet dan tidak menimbulkan banyak sampah yang berserakan. "Secara karakter pohonnya juga kuat. Makanya ini yang membuat orang-orang kaya suka pohon pule," papar Didit.
Selain pule, ada juga pohon ancak. Awal Juni lalu dia berhasil menjualnya seharga Rp 200 juta per pohon. Awalnya pohon itu dibeli dari seorang warga di Kabupaten Bima dengan harga Rp 40 juta. "Setelah saya dikirimi video dan foto-foto pohon saya langsung tertarik. Dan langsung bayar cash Rp 40 juta," tuturnya.
Prediksi Didiet bahwa pohon itu akan banyak diburu kolektor maupun pengusaha tanaman hias ternyata betul. Setelah membayar kontan, banyak pengusaha dan kolektor dari Bali dan Jawa ramai-ramai ikut menawar. Tentu dengan harga lebih mahal.
Daya tarik pohon itu terletak pada karakter batangnya seperti bonsai. Cabang-cabangnya juga menyembul di semua sisi. Menariknya, batang pohon tidak rapuh meskipun sudah berusia ratusan tahun. "Karakter batang kayak bonsai mini. Besar di bawah dan punya cabang serta ranting," tuturnya.
Menurutnya, menjadi kolektor dan pengusaha pohon hias ngeri-ngeri sedap. Terkadang bisa panen untung besar, tapi juga bisa rugi besar. Sehingga pembeli pohon hias harus pintar-pintar mencari karakter. "Pemain pohon besar (pohon hias, Red) kalau belum kena tipu belum jadi pengusaha yang sebenarnya. Di balik untung besar juga ada risiko besar. Makanya saya bilang bisnis ini ngeri-ngeri sedap," ujarnya lalu tertawa.
Bukan seorang pengusaha jika tidak pernah merasakan rugi. Selain merasakan untung besar, Putu Didiet Pratama juga pernah rugi besar.
Keluarga Putu Didiet Pratama sudah mulai terjun di bisnis tamanan dan pohon hias sejak 2006. Usaha itu dirintis ayahnya bernama Putu Belong, 62 tahun. Karena kendala usia, usaha itu diteruskan oleh Didiet sendiri sejak 2014.
Selain pohon hias, Didiet juga mengoleksi banyak pohon penghijauan. Seperti pohon tabebuya, pohon bunga kuning, flamboyan, sepatu dea, pohon bintaro, liang liu, serta pohon jakaranda.
Didiet juga mengoleksi banyak tanaman hias. Mulai dari monstera variegata, bunga anthurium, janda bolong, anglonema, philodendron pink princess, philodendron paraiso verde, serta philodendron silver cloud.
Ada juga jenis homalomena, pisang florida variegata, hingga tanduk rusa. Harga tanaman pun bervariasi. Mulai puluhan ribu hingga jutaan rupiah. "Untuk jenis variegata ini ada varian baru per bulan," tuturnya.
Panggilan Jiwa
Bisnis tanaman hias tidak melulu soal mengejar profit. Tapi juga panggilan jiwa karena hobi merawat tanaman. Tidak heran, hampir setiap hari Didiet datang ke lapaknya hanya untuk memastikan tanaman tidak ada yang mati dan terbuang. "Pohon-pohon yang itu saya rawat juga. Misalnya saya tempelkan bunga tanduk rusa di batang-batang. Jadi kesannya pohon ini hidup," tandas pria kelahiran 24 Juni 1995 itu.
Hal yang sama juga dilakukan Baiq Rohawa Asmawati. Dia mulai berbisnis tanaman hias sejak 2006. Dia juga membuka lapak di Jalan Saleh Sungkar, Ampenan. Di lapaknya terdapat ratusan jenis tanaman hias. Mulai dari pisang-pisangan, rumput, palm, puring, bogenvil, kamboja, hingga pandan Bali. Ada juga bunga kucai, seribu bintang, bunga krokot, bunga sepatu dan banyak lagi yang lain. Semua tertata rapi dalam wadah.
"Awal buka lapak ini karena hobi dengan tanaman," ujar Rohawa. (zul/mar/r3)
Editor : Jelo Sangaji