Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Merawat Bonsai adalah Seni, Pembentukan Tanaman Butuh Waktu Lama

Lombok Post Online • Sabtu, 2 Agustus 2025 | 12:41 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
 

LombokPost - Salah satu tanaman hias yang banyak diminati adalah bonsai.

Bentuknya yang kerdil, namun menyerupai pohon besar membuat tanaman ini sangat indah dan unik.

Meski ukurannya sangat kecil namun harganya cukup tinggi.

Terlebih jika sudah mengikuti kontes dan mendapat penghargaan, harganya mencapai ratusan juta.

"Kalau yang sudah masuk 10 besar itu paling rendah harganya Rp 20 juta, bahkan ada yang sampai Rp 200 juta," terang Eko Purwantho, Sekretaris Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Lombok Timur, Jumat (1/8).

Pehobi bonsai di Lotim saat ini cukup banyak. Sebanyak 250 orang memegang kartu anggota PPBI. Sedangkan yang belum punya kartu anggota sekitar 300 orang. 

Sejak bergabung di komunitas ini, ia mengaku semakin banyak mengetahui tentang bonsai, cara perawatannya hingga jenis-jenis bonsai.

Seperti bonsai jenis Serut, Sancang, Bonsai beringin, Kimeng, Asam Jawa dan berbagai jenis bonsai lainnya.

"Kalau yang saya punya itu ada enam jenis. Dan alhamdulillah tiga pohon sudah ikut lomba. Dan ketiganya sudah mendapatkan sepuluh terbaik tingkat nasional yang diadakan oleh PPBI," terangnya.

Dalam lomba bonsai ada beberapa pakem penilaian.

Di antaranya penilaian gerak dasar, kemudian performa, penilaian akar, batang, kemudian keserasian pohon dengan pot. Kemudian tingkatkan kematangan cabang, batang, ranting dan daun. 

Penilaian lomba bonsai juga tidak berdasarkan nama, namun berdasarkan ukuran pohon. Seperti kelas bahan bonsai atau bahan-bahan pembuatan bonsai.

Kelas regional, kelas madya, kelas utama hingga kelas bintang. 

"Dari Komunitas PPBI Lotim pernah ada satu orang yang berhasil menjadi juara bonsai di tingkat internasional," katanya.

Untuk menghasilkan bonsai yang indah dan unik, membutuhkan perawatan yang cukup lama dan intens. Bahkan perawatan dan pembentukan model bonsai tidak dilakukan oleh satu orang.

Pemilik bahan bonsai biasnya akan melakukan perawatan hanya sebatas melakukan penyiraman, pemberian pupuk dan penyemprotan insektisida daun, yang dilakukan secara rutin setiap bulan.

"Kemudian untuk mendesain itu dilakukan oleh orang lain. Yang mendesain model ini dilakukan oleh orang yang betul-betul sudah paham dengan bonsai," katanya.

Perawatan dan pembentukan tanaman bonsai diakui membutuhkan waktu cukup lama.

Dan bonsai yang paling cepat jadi ialah bonsai jenis Sancang dengan membutuhkan waktu perawatan selama 4-5 tahun.

Sementara bonsai jenis Serut membutuhkan waktu 10-15 tahun untuk bisa menjadi sebuah bonsai yang indah dan unik.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Selain membutuhkan waktu lama, bonsai juga membutuhkan perawatan dan perhatian ekstra.

Jika salah pemberian pupuk atau terlalu banyak pemberian pupuk, sangat rentan terkena hama dan penyakit, dan akan mengakibatkan tanaman bonsai menjadi mati.

"Banyak kasus yang kami alami. Ada bonsai yang jika terkena penyakit itu sulit sembuhnya, bahkan ada yang sampai mati. Makanya pohon ini harus tetap kita jaga perawatannya," katanya.

Sebelumnya untuk mencari bahan bonsai para penggemar berburu ke bukit-bukit dan tebing-tebing dengan melakukan teknik pendongkelan.

Namun saat ini cara itu sudah jarang dilakukan karena cara itu dianggap merusak lingkungan. 

Saat ini, untuk mendapatkan bahan bonsai cukup mudah,  sudah banyak pehobi bonsai yang menjual bahan bonsai dengan cara mencangkok dan stek, dengan harga yang relatif lebih murah berkisar antara Rp 400 sampai Rp 1 juta.

Tergantung tingkat kematangan bahan bonsai itu sendiri.

Seni yang Tak Pernah Selesai

Di Mataram, bonsai juga banyak peminat. Salah satunya adalah Centra Bonsai Rinjani, komunitas bonsai Mataram yang dibentuk dari hobi tujuh orang warga.

Kini, tempat ini menjadi sentra kegiatan pencinta bonsai sekaligus pusat penjualan berbagai jenis bonsai unggulan.

Centra Bonsai Rinjani terletak di Lingkungan Kebon Talo, Kota Mataram.

Awalnya hanya perkumpulan kecil yang menyewa lahan bersama.

Namun karena makin banyak yang bergabung dan tingginya minat warga terhadap bonsai Mataram, tempat ini berkembang menjadi sentra edukasi, diskusi, hingga jual-beli tanaman bonsai.

Salah satu penggagasnya adalah Indra Bangsawan, 34 tahun, warga Rembiga Utara.

Ia sudah menggeluti dunia bonsai sejak 2016 dan sering masuk Best 10 Pameran Bonsai Nasional.

Menurut dia, merawat bonsai adalah seni yang tidak pernah selesai.

"Merawat bonsai itu susah-susah gampang. Beda pohon beda perlakuan. Tapi dari situ kita belajar sabar, teliti, dan tekun,” ujar Indra.

Bonsai menurut Indra bukan sekadar tanaman yang dikerdilkan, tapi karya seni yang tumbuh terus.

Belum bisa disebut bonsai jika belum mendapat sentuhan manusia, baik dari segi pemangkasan, pembentukan, hingga media tanam.

Bagi Indra, bonsai bukan hanya hobi tapi jalan hidup.

Dari bonsai, ia belajar disiplin, kesabaran, dan seni memahat waktu.

Ia juga aktif membagikan konten terkait bonsai di kanal youtubenya bernama Ternak Bonsai.

RAWAT: Eko Purwantho saat merawat tanaman bonsai miliknya yang pernah mendapatkan juara kontes bonsai tingkat nasional, di halaman rumahnya, Jumat (1/8)
RAWAT: Eko Purwantho saat merawat tanaman bonsai miliknya yang pernah mendapatkan juara kontes bonsai tingkat nasional, di halaman rumahnya, Jumat (1/8)

"Bonsai ini bagian dari seni dan karya yang tidak pernah selesai. Karena dia terus tumbuh dan berubah. Kita yang menyesuaikan diri," ucapnya. (par/van/r3)

Editor : Kimda Farida
#seni #bonsai #perawatan #pot #pohon #jenis