LombokPost - Lombok Timur (Lotim) memilik potensi besar dalam pengembangan ikan hias jenis koi. Namun sayang potensi itu selama ini terkendala dengan pemasaran.
Padahal ikan kualitas ikan Koi Lombok Timur tidak kalah dengan ikan-ikan koi asal daerah bahkan negara lain.
Teknik budi daya koi di Lombok masih sangat tradisional.
SUARA gemercik air menyambut kedatangan para pengunjung di sebuah rumah makan yang cukup terkenal di Selong. Puluhan ikan hias menari-nari di kolam kaca yang didesain cukup menarik dan estetik itu, hingga menarik perhatian para pengunjung.
Di kolam kaca di depan gerbang rumah makan itu, sosok laki-laki tengah duduk memandang ikan di tempat berukuran 50-60 cm yang tengah berebut makanan sebesar biji kacang. Hampir setiap sudut rumah makan, terdapat satu kolam ikan hias jenis Koi.
Kolam-kolam itu milik Matlalil Anwar, Ketua Komunitas Selaparang Koi Club Lombok. Ia merupakan salah satu pehobi ikan koi di Lombok Timur. Hampir setiap sudut rumah makannya dipenuhi dengan kolam ikan koi dari berbagai jenis. Mulai jenis impor hingga jenis lokal.
“Saya juga punya kolam di kebun. Kalau kolam yang di bawah itu khusus untuk ikan koi jenis lokal,” terang Matlalil Anwar, Jumat (8/8)
Diceritakan komunitas Selaparang Koi Club ini dibentuk pada tahun 2023 lalu. Sejak terbentuknya komunitas ini mereka rajin melakukan kontes ikan koi, baik yang bertaraf lokal dan nasional. Dan tahun ini mereka akan kembali mengadakan event tingkat nasional yang ke lima.
Jumlah pehobi ikan koi yang tergabung di Selaparang koi Club saat ini sebanyak 36 orang. Dan Selaparang Koi Club merupakan satu-satunya komunitas ikan koi di Lombok Tumur. Pelaksanaan kontes ikan koi diakui merupakan tuntutan dari pehobi dan pembudidaya ikan koi di Lombok Timur.
“Karena tujuan utama event ini adalah tujuan ekonomi, bagaimana supaya meningkatkan perekonomian masyarakat khususnya para pembudidaya ikan koi dan reseller. Karena di Lotim banyak pembudidaya ikan koi dan reseller ikan koi,” Katanya.
Pembudidaya ikan koi di Lotim memiliki semangat yang besar dalam mengembangkan ikan koi. Hanya saja yang menjadi masalah selama ini adalah pemasaran. Padahal potensi ikan koi lokal sangat bagus namun sangat sulit dipasarkan. Bahkan ikan koi Lombok beberapa kali berhasil menjadi juara kontes tingkat nasional.
Sehingga, dengan kontes ikan koi yang diselenggarakan bertujuan untuk mengenalkan potensi dan memasarkan ikan-ikan koi kepada para penghobi ikan dari luar daerah. Bahkan ketika ada kontes di luar daerah, ikan koi lokal juga kerap ditampilkan.
“Setiap ada konteks di luar daerah, yang saya bawa itu jenis lokal, ini untuk memperkenalkan ikan lokal kita. Dan mereka bisa juara. Kualitas ikan lokal tidak kalah dengan ikan koi luar daerah,” katanya.
Dia menyebutkan, teknik budi daya ikan koi di Lombok masih sangat tradisional, jika dibandingkan dengan di luar daerah seperti pulau Jawa.
Pada event yang akan dilaksanakan nanti akan mempertandingkan lima kelas dengan 21 jenis ikan Koi. Dengan size yang terbesar kali ini ialah 55 cm. Ukuran ikan yang di lombakan pada kontes mendatang lebih kecil di bandingkan dengan tahun lalu, dengan ukuran 75 cm, hal ini dikarenakan keterbatasan tempat.
“Biasanya ikan yang sudah lomba itu cukup mahal. Sebenarnya ikan koi Lombok bisa mahal juga. Bahkan beberapa ikan Lombok berhasil dikirim ke luar daerah dengan harga Rp 20 juta,” katanya.
Dalam konteks ikan koi katanya, penilaian yang bisanya dinilai oleh juri ialah mulai dari bodi ikan, pola warna ikan, warna kulit, kecerahan warna dan lainnya.
Kata dia, bagi pehobi ikan koi, konteks bukan sebatas untuk mencari hadiah. Karena hadiah kontes ikan koi sangat minim, tidak sebanding dengan biaya transportasi saat ikut kontes. Namun ikan yang pernah juara kontes akan lebih bernilai bahkan sampai dengan keturunannya.
“Kalau hadiah kontesnya tidak seberapa. Harga ikan kadang sampai ratusan juta, tapi hadiahnya hanya Rp 1-2 juta. Tapi bukan itu sebenarnya yang dikejar, selain hobi juga kan berpengaruh terhadap harga ikan dan keturunannya nanti,” tutupnya. (Supardi, Lombok Timur/r3)
Editor : Jelo Sangaji