Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Bayu Andipa Buktikan Hidroponik Bisa Jadi Jalan Ninja di Tengah Kota, Aliran Air dan Nutrisi Harus Rajin Dikontrol

Lombok Post Online • Sabtu, 30 Agustus 2025 | 12:53 WIB

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
 

LombokPost - Dari bengkel yang sepi, Bayu Andipa justru menemukan “ladang baru” di lantai tiga rumahnya.

Di tengah sempitnya ruang kota, ia menanam harapan lewat hidroponik. 

Naik ke Lantai Tiga, Turun Bawa Cuan.

Sore itu, perhatiannya fokus pada tanaman yang ia rawat. Sesekali memeriksa pompa air, untuk memastikan media hidroponik teraliri air sepanjang waktu.

Senyumnya merekah saat melihat tanamannya tampak segar. Ini bukan hasil dari membalikkan telapak tangan. Butuh kerja keras untuk bisa sampai di titik sekarang ini.

Bayu menceritakan, semuanya berawal saat pandemi Covid-19, situasi yang melumpuhkan segalanya. Keterpurukan ekonomi pada akhir 2019, rupanya menjadi titik balik untuk memulai perjalanan menjadi petani hidroponik.

Ia bukan petani sejak awal. Ia adalah lulusan teknik elektro yang sehari-harinya mengelola usaha bengkel dan reparasi mesin. Pelanggannya kebanyakan hotel-hotel yang ada di Kota Mataram maupun daerah lainnya.

“Saya di rumah buka usaha bengkel atau reparasi mesin, saya biasanya menerima perbaikan mesin dari hotel. Saat pandemi kan, hotel berhenti beroperasi karena lockdown, nggak ada kerjaan jadinya ya sempat menganggur saat itu,” ujarnya.

Waktu luang yang melimpah selama masa karantina justru membuka jendela baru. Ia menghabiskan waktu menonton video di YouTube, hingga akhirnya tertarik pada sebuah konten tentang bertani dengan metode hidroponik.

“Kelihatannya gampang. Saya ulang-ulang videonya, saya pelajari. Dari situlah muncul ide untuk mulai bertani,” kata dia.

Awalnya, Bayu mencoba sistem hidroponik sederhana menggunakan talang air, bukan pipa. Ia menanam kangkung, sawi, pakcoy, dan selada, sayuran yang menurutnya mudah tumbuh. Hasilnya? Menjadi motivasi besar.

Alhamdulillah semua tumbuh segar. Saya cicipi sendiri, ternyata enak. Lalu saya bagi-bagi ke tetangga,” katanya.

Playstore Lombok Post
Playstore Lombok Post

Tembus Dapur Hotel

Di sinilah tantangannya menjual hasil panen. Saat panen raya, harga selada air anjlok, sempat menyentuh Rp 6 ribu per kilogram. Karena banyak didatangkan dari Bali dan Sembalun.

Bayu bersama sang istri, Sherly, sempat berpikir untuk berhenti. Seperti tidak ada masa depan. Keduanya, sampai menjual selada itu ke pedagang kebab, hingga menjajakan hasil tanamannya ke Pasar Kebon Roek.

“Setiap hari polanya seperti itu, sampai sempat mikir apa berhenti aja kali ya, kayak nggak ada harapan waktu itu, kita jual dengan harga standar yang penting balik modal aja,” jelas Bayu.

Secercah harapan datang. Akhirnya ia bertemu seorang suplier dari Kediri, Lombok Barat yang memasok sayuran ke hotel-hotel di kawasan wisata Kuta, Lombok Tengah.

“Awalnya kami pikir dia penipu. Dia pesan sampai 10 kilogram selada air. Ternyata memang suplier. Sejak itu kami kerja sama,” tutur Bayu.

Dari suplier itulah, Bayu mulai belajar tentang dinamika pasar sayuran untuk industri pariwisata. Langkahnya, pun naik satu level. Meninggalkan media talang air, ia kemudian membangun instalasi pipa hidroponik secara serius.

 Baca Juga: ITDC Beri Peluang Anak Muda di Mandalika Tekuni Usaha Hidroponik

Diversifikasi Tanaman

Tahun 2020, ia memanfaatkan lantai tiga rumahnya, tidak ada tembok, tidak juga beratap, lapang berukuran 7x15 meter, untuk dijadikan lahan produksi. Modal awal Rp 16 juta ia alokasikan untuk membangun instalasi dan benih tanaman.

Ia diberi masukan untuk tidak hanya menanam selada, karena saat musim panen raya dari Bali dan Sembalun, harganya bisa anjlok hingga Rp 10 ribu per kilogram.

Kembangkanlah tanaman yang dibutuhkan hotel, namun saingannya sedikit. Akhirnya Bayu menjatuhkan pilihannya untuk basil, selada merah, kale, kailan, daun mint, dan coriander. “Semua saya tanam dengan belajar otodidak,” katanya.

Dari instalasi pipa hidroponik di lantai 3 rumahnya, tanaman itu tumbuh segar dan sehat. Bayu sekarang memiliki tiga instalasi pipa hidroponik dan bekerja sama tetap dengan suplier yang sama, untuk memenuhi permintaan dari hotel-hotel yang terus mengalir.

Dari seorang suplier itu, dia diamanahkan untuk fokus pada dua komoditas utama, basil dan selada merah. Jadwal panen pun ketat: Senin, Rabu, dan Jumat, tanpa boleh absen. “Walaupun cuma panen tiga kilo, tetap harus kirim. Komitmen itu penting,” tegasnya.

Paling primadona dan menjadi andalannya adalah Basil, tanaman herbal yang banyak digunakan di dapur hotel berbintang sangat diminati. Satu kilogram basil dihargai Rp 55 ribu, dan Bayu bisa mengirim antara 6 sampai 9 kilogram per panen.

 

TUMBUH SUBUR: Bayu Andipa memeriksa tanaman Basil yang dibudidayakan dengan sistem hidroponik. Semuanya terlihat siap panen untuk memenuhi kebutuhan sejumlah hotel di kawasan Kuta.
TUMBUH SUBUR: Bayu Andipa memeriksa tanaman Basil yang dibudidayakan dengan sistem hidroponik. Semuanya terlihat siap panen untuk memenuhi kebutuhan sejumlah hotel di kawasan Kuta.

Balik Modal

Dengan harga tersebut, satu kali panen dari satu instalasi saja sudah bisa menghasilkan ratusan ribu rupiah. Sekarang Bayu sudah memiliki karyawan yang membantu menyemai benih. Dengan biaya operasional Rp 1,5 juta per bulan, tapi pemasukan dari memanen tanaman segar itu bisa Rp 6 juta per bulan. “Sudah balik modal,” ujar Bayu dengan bangga.

Urban Farming menurutnya bukan tren semata. Meski terlihat menjanjikan, Bayu tidak menampik bahwa bertani di kota tetap ada tantangan. Keterbatasan lahan menjadi masalah utama.

Namun, ia justru melihat kelebihan lain. penggunaan air yang efisien, belajar pemanfaatan ruangan dengan maksimal, petani bisa mengontrol nutrisi lebih baik sehingga tanaman dapat tumbuh lebih cepat dan menghasilkan panen yang lebih baik karena nutrisi yang diatur secara akurat sesuai dengan kebutuhan tanaman.

Tak kalah penting, pengendalian hama dan penyakit lebih baik, karena tanaman tumbuh di dalam lingkungan yang terkontrol, dengan cahaya, suhu, dan kelembaban yang tepat, tanaman lebih tahan terhadap hama dan penyakit.

Setiap hari, Bayu rutin memeriksa aliran air dan ketersediaan nutrisi dalam instalasi hidroponiknya. Tanaman seperti basil dipanen seperti teh, dipetik daunnya secara berkala, lalu tumbuh kembali. Dalam satu siklus, tanaman bisa bertahan hingga enam bulan sebelum diganti.

“Kalau batangnya sudah keras seperti kayu, artinya sudah nggak produktif. Harus diganti,” jelasnya.

Melalui usahanya, Bayu kini bukan hanya memenuhi kebutuhan dapur hotel, tetapi juga membuktikan, semangat inovasi dan ketekunan bisa mengubah keterbatasan menjadi peluang.

Ia berharap sektor pariwisata NTB terus tumbuh, karena di situlah pasar utama bagi hasil tanamannya. “Ini peluang yang sangat bagus. Hidroponik bisa jadi masa depan pertanian di kota,” tutupnya. (YUYUN ERMA KUTARI, Mataram/r3)

Editor : Pujo Nugroho
#tanaman #panen #Ekonomi #hidroponik #Lombok