LombokPost - Obesitas kini tak hanya mengancam kesehatan fisik, tapi juga memicu masalah kesehatan mental.
Rasa tidak percaya diri, kecemasan, hingga depresi sering dialami penderita obesitas. Kondisi ini membuat mereka sulit beraktivitas, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga menurunkan kualitas hidup.
Direktur Rumah Sakit Universitas Mataram dr. Akhada Maulana mengatakan, obesitas erat kaitannya dengan pola makan tidak sehat.
Seperti konsumsi junk food, makanan tinggi gula, hingga makanan asin seperti nugget. Faktor genetik juga turut memengaruhi.
“Anak dari orang tua obesitas memiliki risiko besar mengalami kondisi serupa,” jelasnya.
Dampak obesitas tak bisa disepelekan. Penderitanya rentan mudah lelah, stamina menurun, hingga terancam diabetes, kolesterol tinggi, dan hipertensi.
“Kalau sudah diabetes bisa berlanjut ke penyakit serius lain seperti gagal ginjal,” tambahnya.
Yang lebih mengkhawatirkan, obesitas kini tak hanya menyerang orang dewasa, tapi juga anak-anak.
Gaya hidup tidak teratur, konsumsi makanan manis berlebih, serta kurangnya aktivitas fisik membuat kasus obesitas pada anak semakin meningkat.
“Sekarang banyak anak lebih sering main game daripada bergerak,” tegas dr. Akhada.
Akademisi Universitas Pendidikan Mandalika (Undikma) Mataram Dr Dadang Warta Candra menekankan, pentingnya gaya hidup sehat untuk mencegah obesitas. “Sejak PAUD, anak-anak perlu diarahkan untuk rutin berolahraga. Gaya hidup aktif jadi kunci utama,” ujarnya.
Salah satu olahraga paling efektif untuk mengatasi obesitas adalah joging. Aktivitas aerobik ini terbukti mampu membakar kalori lebih banyak dibandingkan berjalan kaki. “Jogging efektif atasi obesitas karena membantu menciptakan defisit kalori, kunci utama menurunkan berat badan,” terang Dadang yang juga Wakil Dekan I FIKKM Undikma.
Selain efektif membakar kalori, joging juga praktis. Tidak butuh peralatan mahal, cukup sepatu lari yang nyaman. Bisa dilakukan di taman, jalan sekitar rumah, atau treadmill. Joging secara teratur juga memperkuat jantung, paru-paru, meningkatkan sirkulasi darah, serta menurunkan risiko penyakit kronis yang sering menyertai obesitas.
Untuk pemula, Dadang menyarankan memulai joging secara bertahap dan terjadwal. Jangan langsung memaksakan diri berlari jauh atau cepat. “Jadwalkan jogging minimal 3 sampai 4 kali seminggu. Pagi hari waktu yang ideal karena bisa meningkatkan metabolisme sepanjang hari,” sarannya.
Dengan pendekatan yang konsisten, joging bukan hanya efektif menurunkan berat badan, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri dan kesehatan mental penderita obesitas. “Kalau berat badan sudah ideal, tinggal menjaga gaya hidup sehat,” pungkasnya. (jay/r3)
Editor : Kimda Farida