Hiruk pikuk kehidupan modern, dimana makanan serba instan dan olahan ultra proses mendominasi, sebuah gerakan mulai muncul di Kota Praya. Kupus, Kukusan Perpus mengajak masyarakat mulai menyingkirkan makanan kemasan dan merangkul kembali kebaikan makanan alamiah.
-----
AREA festival literasi pagi itu dipenuhi getaran semangat. Ratusan anak sekolah, dari yang berseragam merah putih hingga putih biru membanjiri jalan di depan kantor dinas yang telah disulap menjadi lorong-lorong stan pameran. Suara riang mereka berbaur dengan musik seremonial.
Pada stan-stan bertema buku, naskah kuno dan karya siswa, keriuhan tercipta dari diskusi kecil tentang cerita fantasi terbaru dari wayang botol bekas. Antusias mereka juga terbagi pada stan melukis yang menarik perhatian. Bahkan ada yang mengagumi deretan naskah kuno hasil karya para penulis terdahulu.
Namun, disudut yang sedikit terpisah, ada satu kerumunan yang tak kalah padat, yaitu stan Real Food KUPUS (Kukusan Perpus) dengan tagline Kukusan Sehat, Andalan Kita. Stan ini cukup menonjol dengan nuansa banner kuning kebiru-biruan. Di atas meja terlihat jelas kukusan hasil bumi yang mengeluarkan uap tipis nan harum.
Ini bukan sekadar jajanan, ini adalah hidangan real food yang belakangan kembali naik daun karena kebaikan dan kesederhanaannya. Kedelai lokal yang hijau, ubi ungu yang lembut, jagung manis dan ketan hingga pisang yang legit.
Para petugas stan sigap melayani antrian. Anak-anak sekolah berdesakan. Sesekali menyelip diantara kawan mereka takut kehabisan. Wajah-wajah mungil itu terlihat berbinar saat menunjuk pilihan aneka kukusan yang tersaji.
“Saya mau yang lima ribuan, bu!” seru seorang siswi Sekolah Dasar dengan seragm khas merah mudah kotak-kotak. “Saya mau ubi kukus saja,” timpal siswa lainnya mengeluarkan selembar uang berwarna ungu.
Antusiasme ini menunjukkan bahwa tren real food kukusan telah berhasil menembus pasar anak muda. Di tengah hiruk pikuk literasi, stan ini menjadi oase hangat yang menawarkan energi sehat.
Mereka yang baru saja menyaksikan penampilan murid sekolah lain, kini mengisi ulang tenaga sambil menikmati kelembutan aneka kukusan hangat di tangan.
“Bayangkan sayuran dan umbi-umbian segar dari pasar atau baru panen di kebun, buah-buahan yang dipetik saat matang, biji-bijian utuh, serta protein tanpa lemak, tanpa tambahan bahan kimia, pengawet, atau pemanis buatan yang berlebihan dimasak dan disajikan hangat,” ungkap Azizah pengelola Kupus pada Koran ini, Jumat (14/11).
Kupus, kata dia, sebuah komunitas atau kelompok dari Batukliang Utara yang ingin mengembalikan atau mengubah pola pikir masyarakat untuk kembali mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat. Atau minimal mengurangi konsumsi makanan dan minuman siap saji.
“Di sana (Batukliang Utara, red) menjadi sentranya hasil tanaman umbi-umbian, mulai dari jagung, ubi singkong, kacang tanah, hingga kedelai. Belum lagi sentra ikan air tawar yang dikelola masyarakat,” bebernya.
Tidak hanya di Kota Mataram, kata Azizah, real food juga menjadi primadona baru di Kota Praya dan sekitarnya. Dari orang dewasa, hingga anak-anak juga mulai menyukai aneka jenis kukusan tersebut. Lantaran disajikan selagi hangat dengan tekstur yang legit dan pas.
“Agar menarik, kami kemas dengan kemasan sekali pakai untuk menjaga kebersihan dan higienitasannya, harga pun terjangkau bagi anak-anak,” kata wanita berhijab ungu ini.
Kukusan yang dihadirkan Azizah cukup beragam dengan harga sangat terjangkau. Mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu, Jika ingin per biji hanya dibanderol seribu rupiah. Dalam sehari, Kupus bisa menghabiskan 100 pcs kukusan.
“Seringnya ludes terjual, karena bahan pangan lokal ini langsung dari petani,” katanya.
Selain menjadi gaya hidup, salah satu staf di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Lombok Tengah ini mengaku, mengonsumsi real food merupakan investasi kesehatan jangka panjang.
Kesadaran akan risiko penyakit kronis seperti diabetes, obesitas, dan penyakit jantung, yang erat kaitannya dengan pola makan tinggi gula, garam, dan lemak tidak sehat, mendorong masyarakat mencari solusi.
“Real food, yang kaya antioksidan, serat, vitamin, dan mineral, menawarkan fondasi kesehatan yang kokoh. Ini adalah pilihan hemat biaya jangka panjang, memindahkan alokasi dana dari biaya pengobatan ke bahan makanan berkualitas,” ucap dia.
Kemudian, dengan rutinnya orang tua menyajikan real food di atas meja makan akan memberikan kesehatan optimal untuk tumbuh kembang anak.
Saatnya para orang tua semakin sadar bahwa mengenalkan real food sejak dini adalah investasi terbaik bagi masa depan anak.
“Makanan alami membantu tumbuh kembang, energi stabil dan fokus, membentuk kebiasaan sehat karena menggunakan bahan pangan lokal yang sedang musim,” kata Azizah.
Lantas bagaimana upaya komunitas dalam mendorong masyarakat untuk mengubah pola pikir agar mengkonsumsi real food?
Kata dia, selain hadir langsung di tengah-tengah masyarakat, tidak ada salahnya popularitas real food didorong menggunakan media sosial.
“Dengan mengampanyekan gaya hidup ini di medias sosial dengan sering, maka mengubah citra makanan sehat dari membosankan menjadi simple, hemat dan lezat,” tukasnya. (*)
Editor : Siti Aeny Maryam