LombokPost - Tren mendaki gunung dan berkemah (camping) dan glamping telah menjadi gaya hidup yang mendarah daging, khususnya di kalangan generasi muda NTB. Di balik menjamurnya aktivitas outdoor ini, rupanya menjadi peluang cuan yang menjanjikan bagi Taufan Ade Chandra di Mataram.
Dimulai pada Agustus 2015, Taufan mendirikan usaha bernama Sherpa Montana. Bukan sekadar sebagai penyedia jasa, melainkan sebagai saksi bisu perkembangan pesat wisata pendakian di Pulau Lombok.
Berawal dari sekadar menyewakan beberapa peralatan, kini Sherpa Montana bertransformasi menjadi salah satu destinasi utama bagi para petualang yang mencari perlengkapan berkualitas di Kota Mataram.
Baca Juga: Lokasi Camping dan Glamping Menjamur, Tawarkan Berbagai Keunggulan Berbeda
Keputusan Taufan untuk terjun ke dunia bisnis alat outdoor didasari oleh dua faktor kuat. Yakni latar belakang pribadi dan tajamnya insting melihat pasar.
Sebagai mantan anggota pencinta alam saat duduk di bangku sekolah dan kuliah, Taufan memiliki pemahaman mendalam tentang standar peralatan yang aman untuk digunakan di medan ekstrem.
“Saya memulai usaha ini karena melihat peluang bisnis saat tren pendakian mulai ramai di kalangan anak muda. Apalagi saat itu, banyak dibuka destinasi wisata pendakian bukit baru, terutama di kawasan Sembalun yang menjadi primadona,” tutur Taufan.
Baca Juga: Liburan Santai di Tengah Alam, Pengalaman Jadi Inti Utama Perjalanan Wisata
Berawal dari Hobi
Kecintaan pada dunia petualangan membuat Taufan tidak merasa terbebani dalam menjalankan bisnisnya. Baginya, Sherpa Montana adalah manifestasi dari passion yang dikonversi menjadi unit usaha yang produktif.
Sherpa Montana menawarkan ekosistem peralatan yang sangat lengkap. Wisatawan dapat menemukan hampir semua kebutuhan. Mulai dari kebutuhan dasar seperti tenda, carrier (tas gunung), sleeping bag, matras, hingga perlengkapan pendukung seperti flysheet, jaket, sepatu, gaiter, dan trekking pole.
Baca Juga: Top Puncak Gedong, Lokasi Tektok dan Camping yang Asyik di Sembalun
Tak hanya itu, mengikuti tren glamping dan santai di alam, Taufan juga menyediakan hydropack, kompor, cooking set, headlamp, hingga set meja, kursi, dan alat grill. Fleksibilitas ini membuat pelanggannya tidak hanya terbatas pada pendaki profesional, tetapi juga keluarga yang ingin berpiknik di kaki gunung.
Soal harga, Sherpa Montana dikenal sangat kompetitif. Tarif sewa dibanderol mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 40.000 per malam, tergantung jenis alat. Persyaratan sewa pun cukup sederhana namun tetap aman. pelanggan hanya perlu memberikan nama dan nomor kontak, serta meninggalkan identitas asli seperti KTP, SIM, atau Kartu Mahasiswa sebagai jaminan.
Dalam perjalanannya, Taufan mencatat adanya pergeseran minat pelanggan. Jika dulu tenda dan matras selalu mendominasi, kini tren pendakian tektok atau pendakian pulang-pergi tanpa menginap mulai menjamur.
“Untuk kebutuhan camping konvensional, tenda, carrier, dan sleeping bag memang tetap yang paling sering disewa. Namun belakangan, permintaan untuk hydropack, sepatu gunung, dan trekking pole meningkat pesat karena banyak anak muda yang lebih suka lari gunung atau tektok di bukit-bukit sekitar Sembalun dan Lombok Barat,” jelasnya.
Pada akhir pekan, kesibukan di toko Sherpa Montana meningkat drastis. Taufan menyebutkan, jumlah pesanan bisa mencapai 50 hingga 70 unit alat yang tersewa konsumen.
Kunci utama Sherpa Montana dapat bertahan selama hampir 11 tahun adalah ketelatenan dan kemampuan beradaptasi. Taufan sangat aktif memantau perkembangan tren jenis alat terbaru yang dibutuhkan pelanggan agar koleksinya tetap relevan.
Selain itu, kekuatan media sosial menjadi senjata utamanya untuk tetap terhubung dengan komunitas pendaki. Aktif mengunggah ketersediaan alat dan tips pendakian di platform digital, Sherpa Montana berhasil menjaga loyalitas pelanggan lama sekaligus menjaring pasar baru.
Tak hanya itu, warga lokal di sekitar camping atau glamping ground juga ketiban rezeki. Dede salah satu pemuda setempat di sekitar Lembah Datu, Pringgarata.
“Sebagian besar pemuda di sini membuka atau menyediakan persewaan tenda, peralatan masak dan bahan bakar, matras hingga printilan kemping maupun outbond, polanya kami bermitra dengan pengelola Lembah Datu,” katanya.
Selain penyewaan alat kemping, lanjut Dede, dengan adanya desa wisata camping dan glamping ini juga mendorong kuliner lokal yang dihadirkan masyarakat setempat. Kuliner yang disajikan mulai dari rebusan pisang berbalut kelapa muda dan gula merah, singkong goreng, keripik dan sale pisang dan kopi lokal.
“Penyajiannya pun kami buat menarik yang benar-benar terasa suasana desanya,” ungkap Dede. (fer/ewi/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online