Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mimpi Masa Kecil Bertransformasi Jadi Cuan, Proses Impor Makan Waktu Lama

Redaksi • Sabtu, 30 Mei 2026 | 11:03 WIB
BERSIHKAN: Yuda Farizki membuka etalase action figur di tokonya satu per satu untuk dibersihkan, Selasa (26/5). (IVAN/ LOMBOK POST)
BERSIHKAN: Yuda Farizki membuka etalase action figur di tokonya satu per satu untuk dibersihkan, Selasa (26/5). (IVAN/ LOMBOK POST)

LombokPost - Berawal dari hobi dan mimpi masa kecil. Kegiatan yang awal hanya sekadar pengisi waktu luang kini bermutasi menjadi usaha yang sangat produktif. Sejumlah pemuda ini sukses mengomersialkan kecintaan mereka terhadap mainan koleksi menjadi ladang bisnis dengan omzet jutaan rupiah, bahkan hingga menembus pasar internasional.

Salah satu toko yang cukup terkenal adalah Mataram Gundam. Bagi para pengunjung setianya, tempat ini bukan sekadar gerai mainan konvensional. Ini adalah sebuah mesin waktu yang mampu mewujudkan mimpi masa kecil mereka yang sempat tertunda.

Sosok di balik berdirinya Mataram Gundam adalah Ivan Prima Nugraha. Merintis langkah sejak tahun 2017 silam, Ivan mengaku bisnis ini lahir secara organik tanpa rencana muluk-muluk di awal.

 Baca Juga: Sambut Piala Dunia 2026: FIFA Museum dan Hyundai Gelar Pameran Imersif Gratis di New York, Hadirkan Trofi Bersejarah hingga Robot Canggih

Awalnya, ia hanya melihat celah pasar dari banyaknya rekan sekomunitas di Mataram yang kerap menitipkan pembelian koleksi robot dari luar daerah karena keterbatasan distribusi lokal.

Siapa sangka, aktivitas titip-beli antar-teman tersebut justru berevolusi menjadi usaha rumahan yang sangat produktif dengan basis pelanggan atau database konsumen yang sangat loyal. Salah satu keunikan yang membuat Mataram Gundam kokoh berdiri adalah segmentasi pasarnya yang spesifik. Ivan bahkan mengusung tagline menggelitik yang berbunyi: ‘Mainan bapak yang ngakunya untuk anak’.

“Kalimat itu bukan sekadar banyolan pasar, melainkan potret nyata perilaku konsumen di toko kami. Banyak orang dewasa datang membawa anak, tetapi sebenarnya mereka sendiri yang ingin menghidupkan kembali hobi lamanya. Ada rasa nostalgia kuat yang memicu mereka melakukan pembelian secara spontan,” beber Ivan.

 Baca Juga: Pasukan Robot AI Resmi Ambil Alih Tugas Polisi Lalu Lintas di Marathon China

Beri Dampak Positif bagi Pelanggan

Produk replika robot Gundam menjadi top seller yang konsisten mendominasi total penjualan toko. Dalam kurun waktu satu bulan, usaha berbasis komunitas ini mampu meraup omzet kotor di kisaran Rp 5 juta hingga Rp10 juta. Sebuah angka yang sangat menjanjikan.

Meski skala usahanya terlihat sederhana, dampak sosial ekonomi yang dihasilkan dari ekosistem Mataram Gundam ini cukup signifikan. Aktivitas merakit model kit terbukti menjadi instrumen perubahan gaya hidup yang positif bagi para pelanggannya.

Baca Juga: Cak Imin Ingatkan Media, Jangan Sampai Nurani Jurnalis Kalah Sama Robot AI

Beberapa pelanggan dewasa mengaku mulai rela mengurangi kebiasaan merokok harian demi bisa menabung untuk menebus koleksi robot terbaru. Di sisi lain, para orang tua memanfaatkan proses merakit komponen robot yang presisi sebagai sarana edukatif untuk melatih fokus dan kesabaran anak, sekaligus taktik jitu mengalihkan ketergantungan anak terhadap gadget.

Bagi konsumen dewasa, setiap unit Gundam yang berhasil dirakit merupakan simbol pencapaian pribadi atau self-reward. Jika dulu barang-barang ini hanya sebatas impian di layar kaca yang sulit terjangkau secara finansial, kini mengoleksinya menjadi bentuk apresiasi diri atas kerja keras mereka.

Manfaatkan Media Sosial

Di sisi lain, potensi ekonomi hobi juga dikembangkan oleh Rezha Pandu Adiwiguna. Di tangan kreatif kolektor sekaligus konten kreator asal Mataram ini, miniatur mobil besi atau diecast yang biasanya hanya menjadi mainan pajangan, disulap menjadi karya seni bernilai tinggi.

Rezha membuktikan ketekunan, kreativitas, dan literasi digital, hasil karyanya berupa diecast custom berhasil menembus pasar nasional hingga mancanegara. 

“Hobi ini awalnya cuma untuk mengisi waktu luang di rumah. Namun lambat laun saya merasa formula modifikasi ini bisa dikembangkan lebih jauh. Dari situ muncul ide untuk mendokumentasikan dan membagikan seluruh proses pembuatannya lewat platform YouTube,” beber Rezha.

Sejak tahun 2022, Rezha mulai serius membangun portofolio digitalnya. Kanal YouTube pribadinya membagikan video tutorial detail mengenai tahapan modifikasi, meliputi teknik pewarnaan ulang, penambahan aksesori bodi mikro, hingga teknik penciptaan efek visual weathering (efek karat atau usang) yang membuat miniatur mobil tampak sangat realistis seperti mobil nyata.

Konsistensi membagikan proses kreatif di media sosial ternyata melahirkan peluang bisnis baru secara instan.

Banyak penonton dan sesama kolektor dari berbagai belahan dunia yang terpikat dengan hasil keahlian tangannya, lalu mulai mengirimkan pesanan khusus atau custom order.

Kunci utama kesuksesan Rezha terletak pada ketelitian tingkat tinggi, kesabaran dalam mengecat detail terkecil, serta kepekaannya terhadap tren dunia otomotif riil. Ia kerap mengadaptasi konsep mobil-mobil modifikasi moderen yang sedang tren di dunia nyata, lalu mewujudkannya ke dalam skala mini.

Kini, produk diecast custom buatan tangan Rezha dipasarkan dengan harga premium, berkisar antara Rp 2 juta hingga Rp 4 juta per unit. Nominal tersebut bahkan bisa melonjak lebih tinggi tergantung pada tingkat kerumitan skema cat dan konsep desain yang diminta oleh konsumen.

Konsisten 14 Tahun Jualan

Tak hanya di Kota Mataram, penjual action figure juga ada di Lombok Barat. Bahkan Yuda Farizki sukses mempertahankan bisnis action figure anime ini selama 14 tahun.

Sama dengan Ivan, Yuda juga menggeluti bisnis ini dimulai dari ketidaksengajaan dan hobi sejak SD. Namun, titik balik bisnisnya baru muncul pada tahun 2011 silam.

Perlahan tapi pasti, usahanya tumbuh hingga akhirnya ia bisa membuka toko di BTN Narita Singgasana Symphony Paradise, Jl. Silverstone No. 10, Kecamatan Gunungsari. Dia juga aktif di media sosial melalui akun Instagram @Merchandise_Anime_mataram.

Ratusan produk action figure anime terpajang rapi di dalam etalase toko tersebut. Koleksinya pun sangat variatif, mulai dari yang berharga puluhan ribu rupiah hingga yang bernilai jutaan rupiah.

"Kalau yang versi KW (replika), saya berani stok dalam jumlah banyak karena perputarannya cepat di marketplace. Tapi kalau untuk action figure anime yang original buatan Jepang, treatment-nya beda. Harganya naik terus, jadi kalau ada yang harganya pas, langsung saya sikat untuk koleksi atau investasi," jelasnya.

Yuda membeberkan bahwa berburu action figure anime original langsung dari Negeri Sakura membutuhkan kesabaran ekstra. Proses impor bisa memakan waktu hingga empat bulan lamanya. Sistem pembayarannya pun harus lunas di awal di luar pajak. Setelah barang siap dikirim, barulah invoice termasuk komponen pajak diterbitkan sebelum dikirim ke Lombok Barat. (fer/van/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post Online
#hobi #internasional #BISNIS #Mimpi #pelanggan