LombokPost - Bagi sebagian orang, action figure dan diecast mungkin hanya terlihat sebagai pajangan kecil di atas rak kaca. Namun bagi para kolektor, miniatur itu menyimpan cerita, kenangan masa kecil, hingga kepuasan tersendiri saat berhasil mendapatkan item impian.
Hobi yang dulu dianggap sekadar permainan kini berkembang menjadi gaya hidup modern yang melibatkan komunitas, kreativitas, bahkan nilai investasi bernilai jutaan rupiah.
Deretan mobil mini, karakter superhero, robot anime, hingga tokoh film berjajar rapi di lemari kaca milik Ivan Prima Nugraha. Di balik ukurannya yang kecil, tersimpan rasa bangga, nostalgia, dan perjuangan berburu barang incaran yang kadang harus didapat dengan harga fantastis. Demam koleksi action figure dan diecast kini semakin ramai, termasuk di kalangan anak muda hingga pekerja profesional di NTB.
Berawal dari Hadiah
Di balik seragam polisi yang dikenakan Ivan Prima Nugraha sehari-hari, pria berusia 33 tahun asal Kota Mataram ini merupakan seorang kolektor. Dia berhasil mengubah nostalgia masa kecil menjadi hobi yang bernilai estetika tinggi. bahkan menjadi ladang bisnis yang menjanjikan.
Kisah asmara dan hobi pria yang akrab disapa Ivan ini berkelindan erat sejak satu dekade lalu. Langkah awalnya memasuki dunia koleksi action figure dimulai pada tahun 2015, sebuah momen sentimental yang tidak akan pernah dilupakannya.
Baca Juga: Viral! Sulap Foto Motor dan Mobil Jadi Miniatur Ala Tamiya dengan Bantuan AI
“Saya mengoleksi action figure terutama Gundam kira-kira sejak tahun 2015. Koleksi pertama yang saya miliki adalah HG (High Grade) Wing Gundam yang dibelikan oleh pacar tercinta, yang kemudian sudah saya nikahi hingga saat ini,” kenang Ivan tersenyum.
Ketertarikan Ivan pada dunia robot dan anime sebenarnya sudah mengakar sejak kecil melalui tayangan televisi nasional. Namun, keterbatasan finansial di masa kanak-kanak, membuat impian memiliki mainan robotik itu harus tertunda.
Ketika dewasa dan memiliki penghasilan sendiri, ditambah hadiah pemantik dari sang kekasih, hasrat yang sempat terpendam itu pun membuncah menjadi sebuah ketagihan yang positif.
Dari satu unit robot pertama, koleksi Ivan kini telah berkembang hingga menyentuh angka ratusan unit, mencakup Gundam, action figure, hingga diecast Hot Wheels.
Dari sekian banyak lini, Gundam tetap menduduki posisi takhta di hatinya. Selain karena nilai historis pribadinya, lini ini juga membuka peluang ekonomi baru baginya sebagai reseller yang mendatangkan barang langsung dari Jepang dan China.
Berburu Barang
Menjadi seorang kolektor, tentu tidak lepas dari cerita perburuan barang-barang langka (rare). Ivan menceritakan pengalaman paling ekstremnya saat masuk dalam arena lelang, untuk memperebutkan Action Figure Hot Toys Hulk Buster.
Saat itu, harganya menembus angka belasan hingga puluhan juta rupiah. “Item termahal yang pernah saya hunting dalam lelang adalah Hot Toys Hulk Buster, kalau tidak salah harganya berkisar Rp 15 sampai Rp 20 juta saat itu. Dan tidak banyak orang yang memilikinya di Indonesia,” bebernya.
Meski Hulk Buster tersebut kini telah berpindah tangan ke kolektor lain, Ivan masih menyimpan harta karun lain yang tidak kalah langka, yaitu 1/72 Takeda Shingen Black Limited Edition.
Robot ini tergolong sangat langka, karena produksinya telah dihentikan secara resmi dan diperkirakan hanya beredar beberapa ratus unit saja di seluruh dunia.
Meski memiliki barang langka berharga fantastis, Ivan menegaskan HG Wing Gundam pemberian istrinya tetap menjadi item terfavorit yang tidak ternilai dengan uang.
Kata dia, hobi ini tidak selamanya berjalan mulus. Di balik kepuasan memajang robot-robot estetik, ada perjuangan berdarah-darah yang akrab disebut perang rebutan (war), saat sesi Pre-Order (PO) dibuka oleh produsen.
Saking ketatnya persaingan mendapatkan slot, Ivan bahkan harus melatih kesabaran hingga bertahun-tahun. War saat PO atau rebutan item terbatas itu sudah jadi makanan sehari-hari kita pencinta action figure maupun Gundam.
“Malah ada barang yang saat ini sudah saya pre-order dari dua tahun yang lalu, sampai sekarang belum sampai juga di Indonesia. Jadi harus tetap bersabar,” jelasnya.
Harga Ikut Hukum Pasar
Mengenai anggaran, Ivan mengaku tidak mematok nominal kaku setiap bulannya. Baginya, berburu action figure adalah soal nilai kepantasan (worth to buy).
Ia bisa saja mengejar item seharga ratusan ribu jika dirasa menarik, namun di sisi lain siap merogoh kocek jutaan rupiah jika item tersebut masuk dalam daftar buruan utama (wishlist).
Ia juga menambahkan, hukum pasar supply and demand atau penawaran dan permintaan, sangat ekstrem di dunia mainan koleksi. Faktor kelangkaan produksi menjadi pemicu utama melonjaknya harga sebuah barang.
“Tantangan terbesar mungkin di harga. Kalau action figure tersebut dianggap rare, harganya bisa terbang sangat tinggi. Kadang ada pabrikan yang sekali produksi dan tidak produksi lagi, itu harganya bisa naik 2 sampai 4 kali lipat,” jelas Ivan.
Di sisi lain, dinamika tren action figure juga diakuinya sangat latah dan dipengaruhi oleh budaya pop, seperti film, anime, dan game. Ivan memberikan contoh nyata bagaimana harga figur dari Hot Toys sempat melonjak drastic, saat film Avengers sedang viral di bioskop.
Namun harganya perlahan merosot begitu demam film tersebut mereda di masyarakat. Bagi sebagian kolektor perfectionist, kondisi kotak (box) yang mulus, kelengkapan aksesori, dan keaslian (originalitas) adalah harga mati yang menentukan nilai investasi.
Tetapi Ivan memilih jalan yang lebih santai dan personal. Ia tidak ingin terjebak dalam standardisasi kaku yang justru bisa mengurangi esensi dari hobi itu sendiri.
“Kondisi box dan kelengkapan sangat memengaruhi harga, terutama bagi kolektor perfectionist. Tapi tidak untuk saya. Saya lebih menikmati apa yang saya miliki, dan kenangan yang berkaitan dengannya menurut saya jauh lebih penting,” terangnya.
Ivan menegaskan ia sama sekali tidak menjadikan tumpukan mainan premium ini sebagai bagian dari pamer gaya hidup.
Baginya, setiap robot yang berhasil terpasang di lemari pajangnya adalah sebuah pencapaian personal yang membawa kebahagiaan batin yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
“Kalau belum dapat slot PO dari penyuplai itu bikin kita susah tidur. Tapi saat barang sudah di tangan, merindingnya bukan main. Saya tidak jadikan ini gaya hidup, hobi ini murni menjadi 'tempat istirahat' saat saya penat akan aktivitas pokok sehari-hari," pungkasnya. (yun/fer/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online