LombokPost - Keberadaan komunitas motor dinilai memberikan dampak positif. Tidak hanya dalam kegiatan sosial maupun program lainnya. Melainkan juga menjadi corong bagi kepolisian dalam membangun budaya tertib berlalu lintas.
Kapolres Loteng AKBP Eko Yusmiarto menjelaskan pihaknya merangkul masyarakat melalui pendekatan humanis lewat jalur otomotif, yakni komunitas Setia Vesva Polres Lombok Tengah.
Lewat wadah ini, korps baju cokelat ikut mengambil peran aktif untuk melebur tanpa sekat dengan para pencinta motor. “Di sinilah kepolisian masuk untuk mengedukasi masyarakat mengenai kamtibmas dan pentingnya peran kita bersama,” ujarnya.
Baca Juga: Iritnya Kebangetan, Touring Lombok–Jakarta Naik Honda Scoopy, BBM Cuma Habis Rp150 Ribu
SETIA merupakan akronim dari nilai-nilai pelayanan Polres Loteng yang meliputi Sinergi, Empati, Tegas, Inovatif, dan Akuntabel. Setia Vesva adalah sebuah wadah silaturahmi dan aksi sosial bagi para pencinta motor Vespa di wilayah hukum Polres Loteng.
Komunitas ini rutin mengadakan berbagai kegiatan positif yang menggabungkan hobi berkendara dengan pelayanan masyarakat. Salah satu acara akbar yang pernah diselenggarakan adalah Bhayangkara Riding Day yang diramaikan dengan riding bersama dari Kota Mataram menuju Sirkuit Internasional Mandalika dan kegiatan sosial lainnya yang berpusat di Gumi Tatas Tuhu Trasna.
Seiring berjalannya waktu, Setia Vesva tidak sekadar menjadi tempat berkumpulnya para pemilik skuter, melainkan telah menjelma menjadi ajang silaturahmi yang kuat antar-warga. Kehadiran komunitas binaan Polres ini sekaligus menjadi jawaban atas keresahan publik terkait maraknya aksi geng motor atau balap liar yang kerap mengganggu ketertiban di jalan raya.
Baca Juga: Astra Motor NTB Gelar Touring Kartini ke Mandalika, Dorong Keselamatan Berkendara Lady Biker
Dengan touring bersama, pihaknya bisa menyisipkan edukasi bagaimana tata cara berlalu lintas yang baik dan benar sesuai aturan. “Alhamdulillah, pelan-pelan mereka menjadi lebih paham, angka pelanggaran bisa ditekan, dan potensi kecelakaan lalu lintas ikut berkurang,” terangnya optimis.
Meski konsep yang diusung adalah rekreasi dan penyaluran hobi, aspek keselamatan tetap menjadi harga mati yang wajib dipatuhi sebelum mesin motor dinyalakan. Persiapan sebelum jalan selalu mengacu pada Standar Operasional Prosedur (SOP). Mulai dari pengecekan fisik kendaraan, kelengkapan surat-surat (administrasi), hingga atribut keselamatan yang melekat pada pengendara itu sendiri. “Semua harus siap dan patuh aturan,” pungkas pria asal Jogjakarta itu.
Hal senada disampaikan Kasatlantas Polresta Mataram AKP Muhammad Puteh Rinaldi. Pihaknya menyebut, selama ini telah terjalin sinergi dengan berbagai komunitas touring untuk mengedukasi anggotanya agar selalu mengutamakan keselamatan di jalan raya. Melalui berbagai kegiatan sosialisasi dan diskusi, komunitas motor diajak menjadi pelopor keselamatan berkendara atau safety riding.
Baca Juga: Touring Asik Tanpa Panik, Simak Tips Biar Perjalanan Lo Anti Drama
”Penggunaan helm standar, kepatuhan terhadap aturan lalu lintas, hingga etika berkendara terus diingatkan kepada seluruh anggota komunitas,” katanya.
Dia menegaskan, komunitas berbeda dengan geng motor. Geng motor selama ini memiliki stigma negatif di masyarakat.
Komunitas touring dibentuk untuk kegiatan yang positif dan taat aturan. Sedangkan geng motor identik dengan aksi tidak menggunakan helm, berkendara ugal-ugalan, hingga mengganggu ketertiban umum. "Tidak ada toleransi terhadap aksi geng motor maupun balap liar yang meresahkan masyarakat," tegasnya. (ewi/arl/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post Online