LombokPost - Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat NTB untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi dampak musim kemarau tahun ini.
Berdasarkan analisis iklim terbaru, periode kemarau di NTB diprakirakan akan berlangsung relatif panjang hingga Oktober 2026 mendatang.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Satria Topan Primadi mengungkapkan bahwa kondisi ini diperkuat oleh menguatnya fenomena El Nino global yang terdeteksi di wilayah Pasifik Tengah.
"Seluruh wilayah di NTB saat ini telah resmi berada pada periode musim kemarau,” tegasnya.
Untuk itu pihaknya mengimbau masyarakat menghemat dan menggunakan air secara bijak guna mengantisipasi krisis air bersih.
”Selain itu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan, lahan, dan pemukiman," katanya.
Baca Juga: Kemarau Ancam Produksi Pangan di Selatan Lotim
Hari tanpa Hujan
Hasil monitoring BMKG pada Dasarian II Juli 2026 menunjukkan curah hujan di NTB secara umum berada pada kategori Rendah (0–10 mm/dasarian) dengan sifat hujan Bawah Normal (BN).
Meski sebagian besar wilayah minim hujan, curah hujan tertinggi masih sempat tercatat di Pos Hujan Pringgasela, Lombok Timur, sebesar 50 mm/dasarian.
Baca Juga: Komitmen Jaga Layanan Air di Musim Kemarau, Ini Profil Plt Dirut PAM Giri Menang Aini Kurniati
Catatan Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut di wilayah NTB bervariasi mulai dari kategori Sangat Pendek (1–5 hari) hingga Sangat Panjang (31–60 hari).
Kondisi paling krusial ditemukan di Kabupaten Bima, di mana Pos Hujan Belo dan Pos Hujan Bolo mencatat HTH mencapai 63 hari, yang menempatkan kawasan tersebut dalam status Kekeringan Ekstrem (>60 hari).
Pada Dasarian III Juli (21–31 Juli 2026), peluang hujan di Pulau Lombok tercatat sangat minim, yaitu di bawah 10 persen hingga 20 persen.
Sementara untuk Pulau Sumbawa, peluang hujan di atas 20 mm/dasarian hanya berkisar 10 persen –60 persen, khususnya di wilayah Sumbawa bagian selatan.
Seiring minimnya potensi hujan, BMKG tidak mengeluarkan peringatan dini curah hujan tinggi (NIHIL), melainkan menetapkan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Level Waspada untuk sejumlah kecamatan. Yakni, Kecamatan Praya Barat (Lombok Tengah); Jerowaru, Pringgabaya, dan Sambelia (Lombok Timur); Moyo Utara dan Utan (Sumbawa): serta Tambora dan Palibelo (Kabupaten Bima).
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk terus memantau pembaruan informasi iklim resmi agar dapat mengantisipasi potensi kerugian dalam perencanaan kegiatan ekonomi maupun sosial ke depan. "Secara estimasi kemarau diperkirakan hingga Oktober 2026," kata dia. (nur/r3)
Editor : Redaksi Lombok Post OnlineSumber : Lombok Post