Berburu Sunrise-Sunset Bukan Sekadar Tren, Ada Misi Ekologis

Jay • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 15:36 WIB
Dr Dwi Setiawan Chaniago
Dr Dwi Setiawan Chaniago

 

LombokPost- Di balik popularitas tren berburu sunrise dan sunset, tersimpan peluang besar untuk membangun kesadaran ekologis sekaligus mengangkat potensi wisata alam NTB jika dikelola secara berkelanjutan.

Sosiolog Universitas Mataram (Unram) Dr Dwi Setiawan Chaniago menilai aktivitas menikmati matahari terbit maupun terbenam kini bukan lagi sekadar rekreasi atau memenuhi kebutuhan estetika. Lebih dari itu, kegiatan tersebut telah menjadi pengalaman sosial yang mempertemukan kebutuhan fisik, emosional, hiburan, hingga interaksi antarmasyarakat.

"Secara sosiologis, berburu sunrise dan sunset bukan hanya soal datang, melihat, lalu menikmati fenomena alam. Di tengah tekanan pekerjaan dan kehidupan perkotaan, masyarakat membutuhkan ruang resonansi yang menghadirkan ketenangan melalui pengalaman menikmati alam," ujarnya.

Baca Juga: Kisah Unik TikToker La More, Direkrut Klub Kasta Tertinggi Honduras di Usia 30 Tahun

Menurut Dwi, fenomena tren berburu sunrise dan sunset juga membuka peluang memperkenalkan kekayaan alam NTB kepada masyarakat luas melalui aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dwi menjelaskan, manusia, masyarakat, alam, dan teknologi sesungguhnya berada dalam satu ekosistem yang saling berkaitan. Namun, modernitas sering membentuk persepsi bahwa alam yang indah hanya berada di gunung, pantai, laut, hutan, atau kawasan wisata populer.

Padahal, pengalaman ekologis juga dapat ditemukan di sekitar lingkungan tempat tinggal, seperti permukiman yang hijau, taman kota yang tertata, sungai yang bersih, hingga hamparan sawah yang tetap lestari.

Baca Juga: MA Koreksi Kerugian Negara di Perkara Korupsi PT Timah, dari Rp 300 Triliun ke Rp 28 Triliun

"Keindahan ekologis juga hadir di sekitar kita. Kawasan permukiman yang asri, sungai yang bersih, taman kota, maupun persawahan memiliki potensi besar menjadi ruang menikmati sunrise dan sunset," jelasnya.

Menurut Dwi, agar tren berburu sunrise dan sunset benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat, perlu dibangun ekosistem yang saling mendukung antara manusia, masyarakat, alam, dan teknologi.

Ia mencontohkan pengalaman menikmati matahari terbit di pantai akan jauh lebih bernilai apabila wisatawan menemukan lingkungan yang bersih, masyarakat yang ramah, lanskap yang terawat, serta promosi digital yang mampu memperkenalkan destinasi tersebut kepada publik lebih luas.

Baca Juga: Tim Hukum Yaqut: Pembagian Kuota Haji Tak Otomatis Jadi Dasar Kerugian Negara

"Menikmati sunrise atau sunset menjadi pengalaman ekologis yang utuh ketika manusia menjaga kebersihan, masyarakat mendukung pariwisata, lanskap tetap terpelihara, dan teknologi membantu menyebarkan pengalaman positif itu melalui media sosial," katanya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa daya tarik sebuah destinasi tidak hanya ditentukan oleh panorama alamnya. Keindahan sebuah kawasan juga dibentuk oleh pelayanan pedagang, pengelolaan parkir yang tertib, fasilitas umum yang memadai, komunitas fotografi yang aktif, pelaku wisata yang profesional, hingga citra positif yang berkembang di media sosial.

"Ketika seluruh unsur dalam ekosistem ekologis dan ekonomi saling mendukung, maka tren ini akan memiliki daya ungkit yang kuat terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat," terangnya.

Baca Juga: Jorge Martin Rebut Pole MotoGP Inggris, Rekor Marco Bezzecchi Hancur di Silverstone

Di sisi lain, Dwi mengingatkan bahwa meningkatnya minat masyarakat menikmati alam juga harus diimbangi dengan kesadaran ekologis. Menurutnya, aktivitas wisata berpotensi menimbulkan pencemaran maupun eksploitasi lingkungan apabila tidak disertai tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian alam.

"Kita perlu meminimalkan perilaku yang berpotensi merusak alam. Dibalik aktivitas menikmati keindahan alam, terdapat risiko pencemaran dan eksploitasi yang harus dicegah," tegasnya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat mengubah rasa kagum terhadap panorama alam menjadi kepedulian nyata dalam menjaga lingkungan.

Baca Juga: Pantai hingga Kawasan Perbukitan Jadi Spot Menikmati Sunrise dan Sunset di Lombok Utara

"Kepedulian, tanggung jawab untuk menjaga, melindungi, dan merawat alam harus menjadi gaya hidup yang terus kita pelihara," ujarnya.

Pulau Lombok memiliki banyak lokasi untuk menikmati sunrise dan sunset, mulai kawasan pantai, perbukitan, pegunungan hingga berbagai bentang alam lainnya yang menawarkan panorama berbeda sesuai karakter masing-masing.

Meski demikian, Dwi mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada anggapan bahwa keindahan alam hanya berada di kawasan wisata populer seperti gunung, gili, pantai, atau hutan.Menurutnya, lingkungan sekitar tempat tinggal juga dapat menjadi spot sunrise dan sunset yang menarik selama kebersihan dan kelestarian ekologinya tetap terjaga.

Baca Juga: Pesona Keajaiban Mistis Nan Eksotis Pulau Ular Bima

Dengan semakin berkembangnya tren berburu sunrise dan sunset, wisata alam NTB memiliki peluang besar untuk terus tumbuh. Namun, keberhasilan tren tersebut bergantung pada kemampuan seluruh elemen masyarakat membangun kesadaran ekologis, menjaga kelestarian lingkungan, dan menciptakan pengalaman wisata yang berkualitas sekaligus berkelanjutan.

Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Lombok Post
berburu sunrise dan sunset kesadaran ekologis tren berburu sunrise dan sunset wisata alam NTB sunrise dan sunset Lombok