LombokPost – Di balik omzet yang terus dikejar, ada waktu, tenaga, pikiran, hingga kesabaran yang harus dicurahkan pengusaha setiap hari.
Memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat bukan berarti mengurangi keseriusan dalam berbisnis.
Justru, mengambil jeda dapat menjadi bagian dari upaya menjaga ritme usaha agar tetap berjalan dalam jangka panjang.
Salah satunya melalui self reward.
Bagi pengusaha, penghargaan terhadap diri sendiri tidak harus diwujudkan dalam bentuk barang mahal.
Hal sederhana yang mampu membuat pikiran kembali tenang pun dapat menjadi bentuk apresiasi.
Baca Juga: Mitsubishi XForce Ultimate 2026, SUV ICE Paling Premium
Owner Kolanta Coffee Raden Prawangsa mengatakan, self reward penting dilakukan karena pengusaha juga membutuhkan ruang untuk menghargai proses yang telah dilewati.
Kesibukan dalam mengelola usaha sering membuat seseorang lebih fokus pada target dibandingkan kondisi dirinya sendiri.
“Self reward penting, sangat-sangat penting. Bagaimana kita mengapresiasi diri sendiri di tengah kesibukan, kegiatan, ataupun beban. Menghargai diri sendiri juga penting karena kaitannya dengan kesehatan mental,” ujarnya.
Bagi Raden, bentuk penghargaan tersebut tidak selalu harus menguras isi dompet.
Ia memilih aktivitas sederhana yang mampu membuat suasana hati lebih nyaman.
Pergi ke sungai, berkunjung ke kebun, hingga menikmati secangkir kopi menjadi cara yang dipilih untuk mengambil jarak sejenak dari pekerjaan.
Menurutnya, setiap orang memiliki cara berbeda untuk mengembalikan energi setelah menjalani rutinitas.
Ada yang merasa lebih rileks setelah bepergian, menekuni hobi, berkumpul dengan keluarga, atau sekadar menikmati waktu sendirian.
Intinya bukan pada seberapa besar uang yang dikeluarkan, melainkan efek yang dirasakan setelahnya.
“Bagi saya lebih kepada bagaimana membuat hati menjadi tenang, pikiran menjadi fresh. Itu bagian dari self reward di tengah kesibukan-kesibukan yang hampir setiap hari kita laksanakan,” katanya.
Baca Juga: Suzuki Hadirkan Inovasi Fitur Parkir di Ruang Terbatas
Konsep tersebut menjadi semakin relevan di tengah kehidupan yang bergerak cepat.
Pengusaha tidak hanya berhadapan dengan pekerjaan operasional, tetapi juga harus memikirkan pemasaran, keuangan, pelanggan, karyawan, hingga perkembangan pasar.
Jika seluruh perhatian hanya diarahkan pada bisnis, kebutuhan untuk beristirahat bisa dengan mudah terabaikan.
Padahal, tubuh dan pikiran yang mendapatkan kesempatan untuk pulih dapat membantu seseorang kembali menghadapi pekerjaan dengan perspektif yang berbeda.
Jeda juga memberikan kesempatan untuk melihat persoalan usaha dengan lebih tenang, termasuk ketika harus mengambil keputusan penting.
Raden juga melihat media sosial ikut membuat istilah self reward semakin populer.
Berbagai konten tentang belanja, perjalanan, kuliner, maupun gaya hidup kerap dikemas sebagai bentuk penghargaan setelah seseorang bekerja keras.
Kondisi itu tidak selalu menjadi persoalan, selama pilihan yang diambil sesuai kebutuhan dan kemampuan.
“Self reward yang paling cocok bagi dia itu seperti apa, kembali lagi kepada diri pribadi,” ujarnya.
Bagi pelaku usaha, pertimbangan finansial menjadi hal yang tidak bisa dilepaskan.
Baca Juga: Saat Gen Z Memberi Jeda untuk Dirinya Sendiri, Mendaki Rinjani hingga Menjauh Sejenak,
Keinginan memberikan hadiah kepada diri sendiri jangan sampai mengganggu modal usaha.
Apalagi, kondisi keuangan bisnis tidak selalu stabil setiap bulan.
Karena itu, self reward idealnya tetap disesuaikan dengan kemampuan.
Tidak perlu memaksakan diri membeli barang mahal atau melakukan perjalanan yang membutuhkan biaya besar hanya demi mengikuti tren.
Menikmati kopi, berjalan-jalan ke tempat yang tenang, menghabiskan waktu bersama keluarga, atau memberikan waktu untuk beristirahat tetap memiliki nilai sebagai apresiasi.
“Jangan sampai perilaku self reward itu menjadi sebuah beban bagi diri kita, jadi harus memaksakan kehendak. Kita menyesuaikan dengan diri kita,” tegasnya.
Lebih lanjut dikatakan Raden, tren tersebut juga membuka peluang peningkatan transaksi bisnis.
“Ketika orang memang ingin memanjakan diri, biasanya mereka lebih melihat pengalaman dan kepuasan yang didapat. Ini menjadi peluang kita untuk memberikan sesuatu yang lebih,” terang Raden.
Bagi pengusaha, perilaku tersebut dapat menjadi peluang untuk menawarkan produk dengan nilai tambah.
Konsumen yang memang berniat memanjakan diri cenderung memiliki toleransi lebih terhadap harga.
Baca Juga: BMW Alpina XD3, SUV Diesel Berperforma Tinggi dengan Sentuhan Mewah
Selama produk atau layanan yang ditawarkan mampu memberikan pengalaman sesuai harapan.
Strategi lain yang bisa diterapkan adalah melalui konsep bundling.
Pengusaha dapat mengemas beberapa produk menjadi satu paket, contohnya seperti Weekend Package.
Paket tersebut memberikan pengalaman yang lebih lengkap sekaligus praktis bagi konsumen.
“Bundling bisa menjadi cara menarik konsumen karena mereka mendapatkan beberapa produk sekaligus dalam satu pengalaman. Dari sisi usaha, tentu ada peluang untuk meningkatkan nilai transaksi,” katanya.
Tidak kalah penting, tren self-reward juga dapat dimanfaatkan dalam strategi pemasaran dan branding.
Pesan yang menyentuh sisi emosional konsumen dapat membangun kedekatan antara merek dan pelanggan.
Menurut Raden, pendekatan emosional menjadi penting karena konsumen tidak selalu membeli sesuatu hanya karena membutuhkan produk.
Ada kalanya keputusan pembelian didorong keinginan untuk memberikan apresiasi kepada diri sendiri setelah menjalani rutinitas dan pekerjaan yang melelahkan.
“Produk yang dijual bukan hanya barang atau minuman, tetapi juga bagaimana kita memberikan pengalaman kepada konsumen. Kalau pengalaman itu berkesan, mereka akan lebih mudah mengingat dan kembali lagi,” jelasnya.
Baca Juga: Hanya Satu Unit di Dunia! Rolls-Royce Phantom Hummingbird, Mahakarya Abalone Bernilai Tinggi
Imbasnya, itu menjadi peluang pemasaran yang berkembang secara organik melalui media sosial.
Konsumen yang sedang menikmati momen self-reward kerap membagikan pengalaman mereka melalui foto maupun video.
“Kalau konsumen merasa nyaman dan mendapatkan pengalaman yang menyenangkan, mereka dengan sendirinya bisa menjadi bagian dari promosi usaha. Itu yang menurut saya menjadi nilai penting dari tren self-reward,” tandas Raden.
Pandangan serupa juga disampaikan Rosliana, salah satu pelaku UMKM kuliner di Lombok Barat.
Menjalankan usaha membuat seorang pelaku UMKM harus terbiasa dengan rutinitas yang panjang.
“Mulai dari menyiapkan produk, melayani konsumen, mengatur keuangan, hingga memastikan usaha tetap berjalan,” ujar Ana, sapaan akrabnya.
Dalam kondisi tersebut, memberikan waktu kepada diri sendiri menjadi bagian dari menjaga semangat.
Apalagi, perjalanan UMKM tidak selalu diisi dengan pencapaian.
Ada masa ketika penjualan meningkat, tetapi ada pula periode ketika usaha harus berhadapan dengan berbagai kendala.
Karena itu, self reward dapat menjadi salah satu cara menikmati proses.
Baca Juga: Ini Dia Kia PV7, Van Listrik yang Sanggup Angkut Beban Hingga 1,2 Ton
Pengusaha tidak hanya melihat bisnis berdasarkan angka omzet dan keuntungan, tetapi juga menyadari adanya perjalanan panjang yang telah dilalui.
“Setiap kemajuan, sekecil apa pun, dapat menjadi alasan untuk memberikan apresiasi,” katanya.
Di sisi lain, self reward juga bisa dimanfaatkan sebagai momentum evaluasi.
Setelah mencapai sebuah target, pengusaha dapat mengambil waktu untuk melihat kembali perjalanan usahanya.
Apa yang sudah berjalan baik, bagian mana yang perlu diperbaiki, dan target apa yang akan dikejar selanjutnya.
Cara tersebut membuat jeda tidak sekadar menjadi waktu untuk bersantai.
Ada ruang untuk menyusun kembali energi sekaligus mempersiapkan langkah berikutnya.
“Dengan pikiran yang lebih segar, keputusan bisnis pun dapat dipertimbangkan secara lebih matang,” pungkasnya.
Baca Juga: Mercedes-Benz C 300 4MATIC Electric, Sedan Mewah Berteknologi Canggih
Editor : Akbar Sirinawa
Sumber : Liputan Berita Lombok Post