LombokPost – Matahari boleh terik, aktivitas jangan sampai ikut tumbang.
Bagi Eni Oktaviani alias Enio Shadu, cuaca panas bukan alasan untuk menghentikan rutinitas.
Sebagai kreator konten, penyanyi, sekaligus presenter media TV online, ia tetap harus bergerak dan bekerja, termasuk di luar ruangan.
Kuncinya sederhana: jangan menunggu haus untuk minum.
Cuaca panas terkadang datang tanpa kompromi.
Baca Juga: Usung Teknologi EREV, iCar V27 Long-Range Tempuh 1.230 Km, Bakal Launching 30 September 2026
Matahari terasa menyengat, keringat lebih cepat mengucur, dan tubuh pun lebih mudah kehilangan tenaga.
Bagi sebagian orang, kondisi itu mungkin hanya terasa sebagai gerah biasa.
Namun, jika berlangsung cukup lama, tubuh bisa mengalami kekurangan cairan. Rasa lelah, pusing, haus berlebihan hingga sulit berkonsentrasi bisa ikut muncul.
Kondisi seperti itu cukup akrab bagi Enio Shadu.
Aktivitasnya sebagai kreator konten, penyanyi, dan presenter membuat perempuan asal Lombok Utara tersebut cukup sering berpindah tempat.
Tidak melulu bekerja di ruangan berpendingin udara.
Ada kalanya ia harus beraktivitas di bawah terik matahari.
“Kalau cuaca sedang panas, biasanya tubuh terasa lebih cepat gerah, berkeringat, haus, kadang juga pusing dan lemas. Kalau terlalu lama berada di kondisi panas, kita bisa merasa cepat capek,” kata Enio.
Keringat yang keluar menjadi salah satu tanda tubuh sedang berusaha menjaga suhu tetap normal.
Bersamaan dengan itu, cairan dan elektrolit tubuh juga ikut berkurang.
Baca Juga: Hyundai Stargazer Produksi Indonesia Resmi Meluncur di Malaysia
Karena itu, Enio memilih tidak menunggu rasa haus datang terlalu kuat.
Air putih menjadi teman yang sebisa mungkin selalu tersedia ketika beraktivitas.
“Kalau saya, sebisa mungkin tetap minum tanpa harus menunggu kondisi sangat kehausan. Lebih baik minum sedikit-sedikit tetapi rutin sepanjang hari,” tuturnya.
Kebiasaan sederhana tersebut menjadi semakin penting ketika aktivitas berlangsung di luar ruangan atau menguras tenaga.
Apalagi, saat ini Enio sedang hamil dan tetap menjalankan sejumlah aktivitas di tengah cuaca yang panas.
“Tidak jarang saya merasakan hal tersebut saat sedang bekerja. Apalagi kondisi saya saat ini sedang hamil dan masih berkegiatan ketika cuaca sedang panas-panasnya,” ujarnya.
Bagi Enio, menjaga tubuh saat cuaca panas bukan perkara sulit.
Tidak harus dengan kebiasaan yang rumit. Justru hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten menurutnya cukup membantu.
Selain air putih, ia juga mengandalkan buah-buahan yang mengandung banyak air. Semangka, jeruk, melon, stroberi, hingga nanas menjadi beberapa pilihan.
Baginya, buah bukan sekadar camilan. Kandungan air di dalamnya juga bisa menjadi pelengkap asupan cairan sehari-hari.
Baca Juga: Volkswagen Kenalkan Mission Efficiency, Mobil Listrik Paling Hemat dan Efisien
Namun, ada satu kebiasaan yang berusaha dihindarinya. Yakni terlalu banyak menggantungkan kesegaran tubuh pada minuman manis.
“Sebisa mungkin jangan sampai air putih justru kalah dengan minuman manis,” katanya.
Menjaga asupan cairan juga tidak berarti melupakan makanan.
Ketika cuaca panas, Enio cenderung memilih makanan yang lebih ringan tetapi tetap bergizi.
Sayur, buah, serta makanan yang tidak terlalu berminyak menjadi pilihan.
Sebab, rasa gerah terkadang membuat selera makan ikut menurun.
Padahal, tubuh tetap membutuhkan asupan energi untuk menjalankan aktivitas.
“Jangan sampai karena panas kita malah malas makan atau hanya mengandalkan minuman manis. Tetap makan teratur dan pilih makanan yang seimbang,” tegasnya.
Atur Waktu Aktivitas
Selain soal makanan dan minuman, Enio juga lebih selektif mengatur waktu beraktivitas. Terutama untuk olahraga.
Baca Juga: Ada E. Coli di Sampel MBG SDN Beber Penyebab Ratusan Siswa dan Guru Keracunan
Pagi atau sore menjelang malam dinilainya lebih nyaman untuk berolahraga karena paparan panas matahari biasanya tidak setinggi tengah hari.
Sebelum berolahraga, tubuh juga perlu dipastikan dalam kondisi cukup terhidrasi.
Pemanasan tetap dilakukan agar tubuh tidak langsung menerima beban aktivitas berat.
Saat olahraga berlangsung, kebutuhan cairan pun perlu diperhatikan.
Terlebih ketika keringat keluar cukup banyak.
Yang tidak kalah penting, Enio memilih tidak memaksakan tubuh.
Ketika mulai muncul rasa lemas, pusing, mual, atau haus berlebihan, aktivitas sebaiknya dihentikan sementara.
Tubuh diberi kesempatan untuk beristirahat di tempat yang lebih sejuk.
“Intinya kita harus lebih mendengarkan kondisi tubuh. Kalau tubuh sudah memberikan tanda seperti lemas, pusing atau terlalu haus, jangan diabaikan,” ujarnya.
Rumah Juga Harus Sejuk
Menghadapi cuaca panas bukan hanya soal aktivitas di luar rumah.
Kondisi di dalam rumah pun ikut diperhatikan.
Baca Juga: Kemenkum NTB Koreksi Syarat Calon Kades, PPPK Tak Wajib Mundur di Tahap Pencalonan
Bagi Enio, sirkulasi udara menjadi salah satu hal penting.
Jendela atau pintu bisa dibuka pada waktu yang tepat agar udara tidak terperangkap.
Kipas atau AC juga dapat digunakan seperlunya. Yang terpenting, udara di dalam rumah tetap bisa bergerak sehingga rasa pengap berkurang.
Aktivitas yang membutuhkan banyak tenaga pun sebisa mungkin dilakukan pada pagi atau sore hari.
Sementara ketika matahari sedang terik-teriknya, tubuh diberi kesempatan untuk beristirahat lebih banyak.
Bagi Enio, menghadapi cuaca panas pada akhirnya kembali kepada kebiasaan sehari-hari.
Tidak harus menunggu tubuh benar-benar lemas untuk mulai peduli.
Segelas air putih, seporsi buah, makanan bergizi, mengatur waktu aktivitas, dan cukup beristirahat bisa menjadi langkah sederhana untuk menjaga tubuh tetap bugar.
“Tidak perlu menunggu sampai merasa sangat haus atau sangat lemas baru kita mulai menjaga tubuh. Karena mencegah tentu lebih baik daripada menunggu tubuh mengalami masalah,” pungkasnya.
Baca Juga: Pakai Bahan Bakar Hidrogen, Toyota Hilux FCEV Siap Melaju di Tahun 2028
Editor : Kimda Farida
Sumber : Liputan Berita Lombok Post