Tren ngopi bukan sekadar urusan meneguk secangkir kopi.
Gaya hidup ini menjelma menjadi pasar besar yang memicu ledakan jumlah coffee shop di setiap sudut kota.
Aroma kopi menyeruak dari kedai kecil hingga coffee shop estetik di pinggir jalan protokol kota.
Tren ngopi yang menjelma menjadi gaya hidup generasi muda memicu menjamurnya coffee shop dalam beberapa tahun terakhir.
Dari tempat nongkrong, ruang kerja, hingga spot konten Instagram, coffee shop kini menjadi bagian dari keseharian masyarakat urban.
Tak heran, hampir setiap bulan, coffee shop baru bermunculan menawarkan racikan kopi dengan nuansa kekinian demi memikat pelanggan yang haus akan tempat nyaman untuk “ngopi cantik”.
Pun di Lombok, yang budaya minum kopi atau ngupi masih mengakar kuat. Coffee shop pun menjamur.
Setiap sudut kota, dari pojok toko, angkringan hingga kafe modern tak lepas dari aroma kopi.
Budaya ini bukan sekadar gaya hidup, melainkan sudah menjadi peluang usaha yang menopang ekonomi masyarakat.
Budaya ngopi di Lombok tak sekadar soal minuman, tapi sudah jadi kekuatan yang menyatukan semua kalangan masyarakat. Dari petani kopi, pengepul, roaster, barista, hingga penikmat kopi.
Berdasarkan data Asosiasi Kopi Indonesia (Aski) NTB, sejak 2022 sedikitnya ada 500 outlet kopi yang berdiri di Lombok dan sekitarnya. Saat ini jumlahnya terus meningkat hingga mencapai 1.000 outlet kopi se-NTB. ”Tidak hanya berbentuk kafe modern, namun juga warung kopi sederhana, angkringan, hingga kopi keliling yang mewarnai geliat bisnis perkopian di daerah ini,” kata M Huzaini Areka.
Kebiasaan minum kopi ini kian berkembang pesat terutama sejak pandemi Covid-19 berakhir. Hampir setiap sudut kota di Lombok dan Mataram kini dipenuhi warung kopi, dari yang sederhana hingga bergaya kekinian. ”Tak hanya sekadar minuman, kopi kini menjadi gaya hidup dan simbol kebangkitan ekonomi rakyat,” terangnya.
Bisnis kopi di NTB bukan hanya digeluti oleh pelaku UMKM, tapi juga melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari petani kopi, pengepul, roaster, barista, hingga penikmat kopi. Tak sedikit politisi, tokoh agama, aktivis hingga birokrat yang terlibat aktif. “Kopi ini menyatukan kita semua, apapun latar belakangnya,” imbuhnya.
Bisnis Kopi
Bisnis kopi itu sudah menyentuh semua kalangan. Mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas. ”Strata sosialnya beragam yang menyentuh usaha kopi ini, mula dari kiai, politisi, aktivis, sampai birokrat. Semua berlomba bisnis kopi,” jelasnya.
Menurutnya, kopi menjadi bisnis yang berpotensi tetap menjanjikan. Semua orang bisa menjalankan bisnis itu. ”Simpel dan bisa mendapatkan untung yang stabil,” ujarnya.
Budaya ngopi menyatukan berbagai latar belakang dan menciptakan ruang baru bagi UMKM untuk tumbuh. Menariknya, banyak outlet kopi di NTB tumbuh alami tanpa franchise besar, dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi. ”Kopi yang memiliki tagline, menyatukan kita memberikan potensi bisnis besar,” kata pria yang kini memiliki empat kedai kopi.
Di Kota Mataram tempat ngopi juga terus menjamur. Mulai dari kopi keliling dan kedai sederhana tetap menjadi warna utama perkopian NTB. ”Inilah yang menjadikan kopi bukan hanya soal bisnis, tetapi juga soal kebersamaan dan identitas budaya,” ungkapnya.
Menjalankan bisnis kopi simpel. Disesuaikan dengan modal awal. Tak perlu modal besar. ”Siapa pun bisa memulai bisnis kopi, bahkan hanya dengan modal sekitar Rp 2,5 juta untuk membuka warung kopi sederhana atau angkringan,” jelasnya.
”Bagi yang ingin merambah skala lebih besar, modal yang dibutuhkan pun bisa mencapai Rp 500 juta,” tambahnya.
Dulu, bisnis kopi identik dengan penjual kaki lima atau pedagang asongan. Namun kini, seiring dengan tren dan permintaan yang terus meningkat, para pelaku usaha mulai meningkatkan grade kopi yang mereka tawarkan. Dari cara penyajian hingga kualitas biji kopi, semuanya diperbaiki agar mampu bersaing di pasar.
“Kopi sekarang bukan sekadar minuman, tapi sudah menjadi gaya hidup dan peluang bisnis yang stabil. Dengan modal kecil saja, usaha kopi bisa berjalan dan berkembang,” ujar pegiat kopi di Mataram itu.
Kedai kopi kini hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari angkringan hingga kafe modern. ”Permintaan yang tinggi mendorong para pelaku UMKM untuk terus berinovasi dan menjaga kualitas kopi, demi memenuhi selera konsumen yang kian beragam,” ujarnya.
Tidak banyak juga memang yang rugi dan menutup usaha kopinya. Biasanya, pengusaha kopi yang tutup tersebut dikalahkan dengan biaya operasional. ”Misalnya, membayarkan gaji karyawan yang terlalu banyak,” ujarnya.
”Intinya manajerial pengelolaan usaha harus disesuaikan. Jual kopi tidak butuh karyawan banyak. Yang diperlukan orang berpengalaman meracik kopi untuk mempertahankan citarasanya,” kata dia.
Butuh Brand Kuat
Menjamurnya bisnis kopi di NTB bukan hal yang perlu dikhawatirkan bagi para pelaku usaha. Meski persaingan semakin ketat, bisnis kopi tetap memiliki pasar yang luas dan terus dicari. ”Kuncinya adalah membangun brand yang kuat dan menjaga kualitas rasa,” kata Areka.
Setiap kopi punya market dan selera sendiri. ”Tinggal bagaimana kita menciptakan brand yang dikenal dan disukai,” ujarnya.
Hampir semua pelaku usaha kopi kini sudah memiliki brand masing-masing. Ada yang mempertahankan cara tradisional, seperti kopi tujak, ada pula yang menggunakan mesin modern.
“Meski cara pengolahan berbeda, semua menghadirkan rasa khas yang tetap digemari konsumen,” ujarnya.
Faktor alam juga menjadi keunggulan kopi lokal. Kondisi geografis wilayah NTB membuat kualitas kopi lebih baik dan beraroma kuat. Namun demikian, proses pengolahan sangat menentukan rasa dan nutrisi kopi.
“Kalau roasting terlalu matang atau digoreng sampai gosong, nutrisinya hilang. Itulah yang merusak rasa kopi,” katanya.
Karena itu, pegiat kopi terus mengedukasi masyarakat agar memilih dan menyajikan kopi yang baik dan sehat. “Bahkan tren minum kopi tanpa gula mulai diminati, sejalan dengan kesadaran gaya hidup sehat,” ungkapnya.
Bagi para pelaku usaha, menjaga kualitas kopi dan keunikan brand adalah strategi utama agar bisa bertahan di tengah persaingan. ”Kopi tetap menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat dan peluang usaha yang tak lekang oleh waktu,” terang Areka.
Omzet yang Menggiurkan
Bisnis kopi di Lombok kian menggoda. Omzet yang dihasilkan sangat variatif dan menjanjikan. ”Tergantung lokasi, standar harga, dan kualitas yang ditawarkan,” kata Areka.
Tak heran, usaha kopi terus tumbuh subur dan menjadi salah satu sektor bisnis yang paling diminati saat ini. Modal kecil keuntungan stabil.
Areka bisa mengambil banderol keuntungan sebesar 40 persen dari modal per gelas kopi. Misalnya, jika kopi dijual dengan harga Rp 10 ribu berarti sudah bisa mendapatkan untung Rp 4.000 per gelasnya.
“Kalau laku 100 gelas per hari bisa mendapatkan Rp 400 ribu setiap harinya,” ujarnya.
Tetapi untuk bisa mendapatkan potensi itu, perlu ketekunan dan konsistensi. Walau pun sedikit yang laku, harus tetap dijalankan. ”Yang diperlukan adalah konsisten,” ucapnya.
Kopi juga memiliki daya tahan lama. Kopi bubuk bisa bertahan hingga enam bulan, sementara kopi hasil roasting bisa awet lebih dari satu tahun, “Asalkan disimpan dengan cara yang benar dan rapat tanpa celah udara,” terangnya.
Meskipun usaha kopi tetap menjanjikan, kendala yang dihadapi selalu ada. Kendala yang perlu segera diatasi agar bisa bersaing dan tumbuh lebih kuat.
”Salah satu tantangan utama adalah ketersediaan bahan baku kopi yang masih kurang stabil di Lombok,” ujarnya.
Hal ini berdampak langsung pada harga kopi yang cenderung naik turun dan mempengaruhi keberlanjutan usaha para pelaku kopi, terutama yang baru merintis.
“Persaingan di bisnis kopi sebenarnya tidak terlalu signifikan. Tapi ketersediaan bahan baku dan edukasi petani itu yang masih jadi PR besar,” terangnya.
Hingga kini, edukasi untuk menghasilkan kopi berkualitas terbaik masih belum merata. Proses pelatihan kepada petani maupun pelaku usaha kopi tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Dibutuhkan pendampingan jangka panjang agar mereka mampu menghasilkan produk kopi yang berstandar tinggi dan diminati pasar.
Baca Juga: Pingin Usaha Kopi Keliling, Segini Estimasi Biaya Modal yang Perlu Disiapkan
Tak Sekedar Tempat Ngopi
Coffee shop kini bukan hanya dijadikan sebagai tempat ngopi. Namun, sudah menjadi bagian dari aktivitas harian.
Salah satunya, Riyan yang kerap merasakan kopi di Kopihyang, Cakranegara, Mataram. Tempat tersebut menjadi salah satu favoritnya. Pria yang bekerja menjadi supervisor di salah satu gudang cat itu selalu mampir di tempat tersebut.
Bukannya untuk sekedar menikmati kopi, tetapi dijadikan sebagai tempat menjalankan aktivitas kerja. ”Kalau di sini tempat berkumpul dengan teman-teman. Ngopi sambil diskusi mengenai pekerjaan,” kata Riyan.
Berbeda dengan Hasbi, mahasiswa Universitas Mataram menjadikan coffee shop bukan sekadar untuk menikmati secangkir kopi. Tetapi, sudah menjadi tempat tongkrongan. “Di sini tempat kongko-kongkoan sama teman,” kata Hasbi.
Suasana coffee shop yang nyaman, desain interior yang estetik, serta koneksi internet yang stabil menjadi alasan utama mereka betah berlama-lama. ”Kami yang hanya sebagai mahasiswa. Yang penting dapat wifi gratis, kopinya juga dapat murah,” kata dia.
Pemilihan coffee shop tak terlalu dipikirkan. Asalkan pas dengan kantong. ”Saya juga tidak mengerti dengan kopi. Kalau harganya murah, pas dikantong, bisa senang-senang sama teman-teman sudah cukup,” ujarnya. (arl/r3)
Editor : Siti Aeny Maryam