Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ada Kompetisi Meracik Kopi, Saling Berbagi Ilmu di Komunitas

Lombok Post Online • Minggu, 6 Juli 2025 | 13:10 WIB

 

Barcode Lombok Post
Barcode Lombok Post
 

Tren ngopi yang menjadi gaya hidup berdampak pada menjamurnya coffee shop. Salah satunya adalah Bayu Gunawan Aditya, pengusaha kopi di Lombok Timur.

Meski tidak paham dengan kopi dan tidak pernah belajar meracik kopi.

Namun berkat komunitas yang dibuat ia berhasil membuat kedai kopi yang cukup ramai dikunjungi.

Baca Juga: Bisnis Kopi Sentuh Semua Kalangan, Secangkir Kopi  Kembangkan Sejuta Coffee Shop 

Bayu menceritakan awal mula bergerak di usaha kopi sekitar tahun 2019 lalu.

Di mana saat itu ia hanya menjual makanan di Selong. Dan tahun itu kopi baru mulai terkenal di Lombok bahkan di luar daerah. 

Karena penasaran, ia kemudian membeli berbagi perlengkapan membuat kopi. Dan mulai coba-coba membuat coffee shop.

Dari sana ia mulai kenal dengan berbagi pegiat kopi. Mulai dari petani, penjual kopi dan pengusaha kopi. 

"Setelah kenal beberapa lama dengan teman-teman ini, akhirnya kami buat komunitas Akar Kopi. Sebagai wadah untuk berdiskusi tentang kopi. Karena rata-rata kami baru di bidang kopi, jadi harus banyak diskusi," terang pemilik kafe Zuppa-Zuppa sekaligus Ketua Komunitas Akar Kopi Lombok Timur saat ditemui, Jumat (4/7).

Setelah terbentuk, ia kemudian membuat acara diskusi dengan mengundang Dinas Pertanian Lotim. Tidak disangka di acara itu, banyak pelaku usaha kopi yang sudah lama bergelut di dunia kopi ikut hadir untuk menjadi narasumber.

Dari sana komunitas ini mulai tumbuh, dan ia mulai banyak menguasai ilmu tentang kopi. Baik dari awal tanam, selesai panen hingga menjadi kopi yang tersaji di meja-meja kopi kafe.

"Dari komunitas ini kami banyak belajar tentang kopi. Bahkan kami dulu ingin ada semacam regulasi terkait harga kopi. Tapi karena anggota kami banyak hampir 40 orang jadi itu tidak bisa terlaksana," ujarnya.

Komunitas Akar Kopi, hingga saat ini masih tetap ada. Hanya saja kegiatannya sedikit berkurang dari awal-awal dibuat. Mengingat rata-rata anggota Akar Kopi memiliki kedai kopi dan kebun kopi yang harus diurus.

Selain Komunitas akar kopi, ia juga masuk di komunitas lain yakni Kopi Lombok Hulu Hilir. Dari dua komunitas ini diakui banyak menyerap ilmu meracik kopi. Bahkan ia sendiri tidak pernah mengikuti pelatihan barista di lembaga kursus resmi, namun semuanya ia pelajari dari komunitas.

SEDUH: Bayu Gunawan saat membuat kopi tubruk di kedai Zuppa-Zuppa miliknya di Desa Masbagik Baru, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, Jumat (4/7).
SEDUH: Bayu Gunawan saat membuat kopi tubruk di kedai Zuppa-Zuppa miliknya di Desa Masbagik Baru, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur, Jumat (4/7).

"Di komunitas ini saya banyak belajar membuat kopi. Bahkan saya pernah ikut komunitas kopi di Mataram. Rata-rata taman-taman punya kedai kopi," katanya.

Bayu juga mengakui sejak beberapa tahun terakhir ini kopi sedang tren. Tidak hanya tren dalam olahan kopi, namun petani kopi juga belakangan ini cukup banyak. Hal ini salah satunya disebabkan banyak kompetisi-kompetisi meracik kopi yang dilakukan baik tingkat kabupaten hingga nasional.

"Kopi ini berkembang terus, baik dari olahan minuman kopi itu sendiri, kemudian varietas kopinya dan negara asal kopinya juga mulai berkembang," katanya.

Di Lombok sendiri ada dua kopi yang cukup terkenal yakni Arabika andung sari dan tugu sari. Namun beberapa petani juga menanam kopi jenis lain seperti kopi lokal. Kopi-kopi tersebut biasanya didatangkan dari daerah Sembalun untuk jenis Robusta, kemudian untuk Arabika di datangkan dari Sajang dan Brasil. 

Harga Green been kopi saat ini cukup mahal. Untuk Robusta saat ini berkisar antara Rp 100-110 ribu per kilogram. Sementara untuk Arabika berkisar Rp 140-185 ribu per kilogram.

Kata dia, saat ini harga kopi sedang mahal. Tapi yang banyak ditanam sekarang kopi jenis baru yakni andung sari dan tugu sari. “Kalau yang lokal sudah jarang. Tapi sebenarnya kopi lokal ini juga sangat enak, namun pohonnya susah banyak di tebang makanya banyak petani memilih untuk jenis baru," tutupnya. (par/r3)

Editor : Redaksi Lombok Post
#kedai #kopi #komunitas #gaya hidup #Lombok